
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
"Kamu kemana saja sih Da? Sehari semalam gak bisa dihubungi. Kamu gak apa apa kan?"
Anton langsung senang sekaligus kesal begitu Nada menjawab telponnya. Dari kemarin gadisnya itu menghilang tanpa kabar. Berkali kali ia mencoba menelpon, berkirim pesan tapi baru pagi ini gadisnya itu bisa dihubungi.
"Buka pintumu."
Nada tidak menjawab pertanyaannya melainkan memintanya membuka pintu. Anton bingung dibuatnya.
"Pintu apa?? Apa sih maksudmu??" tanyanya.
"Pintu kamarmu Anton. Bukalah dan lihat siapa yang ada di depannya."
"Nada ini apa apaan sih? Gak lucu deh." Anton mulai kesal.
Tok,,,tok,,,tok,,,
Sesaat kemudian terdengar suara ketukan di pintu. Anton menoleh lalu dengan ragu berjalan ke arah pintu itu.
Ceklek,,,
"Surpriiiiseeeee,,,," gadisnya yang sedari kemarin membuatnya cemas itu kini telah berdiri di depan matanya dengan wajah cantiknya yang selalu menemani hari harinya selama dua tahun belakangan ini.
"Nada???" Anton kehabisan kata.
Rasa terkejutnya mengalahkan kesadarannya. Ia tidak menyangka gadisnya itu menyusulnya ke sini.
"Gak ingin ngucapin sesuatu kepadaku???" Nada menyilangkan kedua tangannya di dadanya dengan sikap cemberut.
"Na,,,Nada,,, Ka,,, kamu,,, kok bisa disini??" tanyanya dengan gagap karena masih diliputi rasa terkejutnya.
"Memangnya gak boleh aku di sini?? Kamu kan gak bisa temani aku di sana jadi ya aku aja yang datang ke sini temani kamu."
Nada langsung masuk ke kamar Anton tanpa menunggu reaksinya. Nada memutar pandangan ke sekeliling kamar dan menghela napas dalam dalam melihat betapa kamar itu berantakan.
__ADS_1
Ia pun segera meletakkan tasnya lalu mulai berkemas. Merapikan tempat tidur, meja dan beberapa pakaian yang tergeletak di lantai. Nada mengerutkan dahinya melihat sepotong pakaian dalam wanita berenda yang tampilannya begitu menggoda. Bahkan walau dia sebagai perempuan saja geli membayangkan jika dirinya harus memakai hal semacam itu.
"Ii,,, itu property model yang kemarin kami melakukan photoshoot, Da." ujar Anton yang melihat wajah Nada penuh tanya.
"Timku sekarang lagi dapat job untuk memfoto merk pakaian dalam wanita. Mungkin kemarin itu terselip ke tasku." Anton coba menjelaskan.
"Oh begitu. Kalau begitu aku simpan di tasmu saja ya biar besok kamu tidak lupa mengembalikannya ke kantormu."
Nada sama sekali tak menunjukkan sikap tidak percaya. Ia bahkan melanjutkan kembali kegiatannya merapikan kamar itu. Itu membuat Anton tersenyum. Dipeluknya dari belakang tubuh gadis itu.
"Selamat ulang tahun calon istriku." bisik Anton sambil mengecup lembut daun telinga Nada.
"Kirain lupa." sahut Nada.
"Mana mungkin Da. Kamu itu satu satunya wanitaku yang punya tempat spesial di hatiku."
Anton tetap tidak melepaskan pelukannya. Ia mulai menciumi bahu Nada. Menyibakkan rambut yang menutupi leher jenjang Nada. Setelah itu ia pun mengecupi leher belakang Nada dengan lembut.
Namun ketika kecupan itu berubah menjadi syarat penuh bi*rahi, Nada mulai menghindar. Ia perlahan melepaskan dekapan Anton.
"Kamu tau kan itu semua belum perlu kita lakukan? Kamu sudah janji kan untuk menahannya?" Nada mengingatkan dengan teguran lembut.
"Hah,,,, Baiklah calon istriku. Kamu selalu sukses membuatku tidak sabar menikahimu. Kapan kamu mau kenalin aku sama om dan tantemu?" Anton menyerah dan menelan kembali keinginannya sendiri.
"Sekarang." jawab Nada.
"Sekarang? Apanya yang sekarang?" Anton bertanya.
"Ketemu dan kenalan sama om dan tante lah. Kan itu yang kamu tanyakan. Dan aku menjawabnya. Kebetulan mereka kan tinggal di sini. Kamu gak lupa kan aku pernah cerita ke kamu?" Nada bertanya balik.
Anton berpikir sejenak. Mencoba mengingat semua cerita Nada tentang keluarganya. Tapi rasa terkejutnya membuatnya tidak bisa berpikir lebih jernih.
"Anton,,, Kamu siap kan??"
"Se,,, sekarang???" mendadak Anton jadi gugup.
Hari ini Nada begitu penuh kejutan. Tiba tiba datang dan mau mengenalkannya pada keluarganya. Membayangkan menemui calon mertua, anggap saja begitu,,, itu membuat lutut Anton mendadak lemas.
"Ahh,,,apa seperti ini rasanya akan menemui dan bicara serius meminta anak gadis orang." batinnya.
"Kok malah melamun? Ayo dong. Mereka sudah menunggu."
__ADS_1
"Aa,, Aa,,, aku mandi dulu." Anton kabur ke kamar mandi meninggalkan Nada yang tersenyum puas karena kejutannya berhasil membuat lelakinya itu jadi gugup gugupan begitu.
Nada kembali melanjutkan kegiatannya merapikan kamar Anton sambil menunggunya mandi. Cukup lama Anton keluar dari kamar mandi. Di saat yang bersamaan, ponsel Anton berdering.
"Anton, ada telpon nih dari,,,, Tante????" suara Nada memelan ketika mengucap kata tante.
Sretttt,,,, Anton merampas ponsel yang dipegang oleh Nada dengan cepat.
"Tante aku." ucapnya cepat.
"Tante yang kamu ceritakan tempo hari? Yang suaminya selingkuh karena tantemu gak bisa kasih keturunan itu?" tanya Nada memastikan.
"Ii,,, I,,,Iya. Yang itu. Palingan dia mau curhat. Bentar ya aku telpon balik dia." Anton keluar kamar.
Lima menit kemudian dia masuk kembali.
"Sudah. Aku sudah bilang nanti saja curhatnya soalnya aku lagi ada urusan penting. Melamar anak gadis orang lebih penting dari urusan lainnya. Kalau kesan pertama gak manis, bisa bisa aku gak jadi dapat anak gadisnya ini. Bisa mewek akunya." ucap Anton sambil mengerlingkan matanya.
"Bisa saja kamu." Nada tersipu malu, pipinya memerah.
Anton memakai baju terbaiknya. Yang paling sopan menurutnya karena tentu saja ia memang tak siap. Apalagi ini sangat mendadak baginya.
"Baiklah princessku, Aku sudah siap. Aku siap memintamu menjadi istriku di depan keluargamu. Penampilanku sudah ok kan?? Sudah meyakinkan kan?? Mereka tidak akan menolak lamaranku kan??"
Setengah jam kemudian Anton siap namun suaranya masih terdengar gugup dan merasa tidak percaya diri.
"Sudah ok banget. Yuk kita berangkat." Nada menariknya karena taksi online yang sudah dipesan Nada sudah sampai dan menunggu mereka di depan.
Sepanjang perjalanan ke rumah keluarga Nada, Anton dilanda demam panggung. Ia mencoba merangkai kata kata terbaiknya di depan wali Nada nanti. Beberapa kali ia tampak mengusap keringat dingin di dahinya.
"Anton,,,santai. Jangan grogi begini. Kamu hanya akan menghadapi om dan tanteku saja. Bukan dosen killer kita. Lagipula, Ingat ada aku yang mendampingimu." Nada menggenggam jemari Anton dan menenangkannya.
"Tetap saja Da, ini pertama kalinya bagiku. Wajar dong kalau aku grogi begini." Anton benar benar grogi.
"Iya deh iya. Sekarang tarik napas dalam dalam lalu hembuskan perlahan."
"Kenapa memangnya?" tanya Anton.
"Karena kita sudah sampai."
Nada mengatakannya saat mobil sudah berhenti tepat di halaman rumah Ody. Seketika jantung Anton berasa ingin melompat lompat saking groginya.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,,...