
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada 🌸
"Barangnya sudah saya terima dan ini uangnya mbak. Silahkan dihitung dengan baik karena kami tidak menerima komplain setelahnya." pelayan toko perhiasan cukup jelas berbicara.
Uang penjualan perhiasan ku terima dan ku hitung dengan teliti meski hati ini bergulat dengan seribu rasa bersalah kepada mama. Tapi aku harus fokus dan gak boleh salah hitung. Bagaimana pun, uang ini akan jadi penyambung hidupku. Akan ku pergunakan baik baik.
"Mbak." panggilku kepada pelayan toko perhiasan yang melayaniku tadi setelah selesai menghitungnya.
"Ya, ada yang bisa dibantu lagi?" tanyanya ramah.
"Bisa nggak, kalau kalung itu jangan dijual dulu ke orang lain? Saya ingin bisa membelinya lagi suatu hari nanti. Itu peninggalan mama saya." ucapku.
"Kalau boleh tau kapan rencana membelinya kembali?"
Mendapat pertanyaan seperti itu aku hanya bisa menelan ludahku sendiri. Aku merasa tercekik. Aku sendiri belum tau kapan mampu membelinya kembali tapi aku tak rela jika kalung itu dimiliki orang lain.
"Kalau mbaknya gak bisa janji, maka kami juga tidak bisa janji akan tetap menyimpannya untuk mbak. Kami hanya bisa menyimpan maksimal hanya tiga hari itu pun disertai dengan sejumlah deposit sebesar 30%." kembali ucapan pelayan toko membuatku hanya bisa menelan ludah.
Aku menunduk. Bersedih untuk hal ini. Sangat bersedih. Merasa gak becus sekali sebagai anak.
Menyimpan peninggalan saja tidak bisa apalagi menambah jumlahnya!!!
"Kalau tidak ada yang lain lagi, saya permisi mau melayani pembeli yang lain mbak." pamit pelayan toko yang akhirnya hanya bisa kujawab dengan anggukan lemah.
"Udah jangan sedih gitu. Masih banyak kok kalung bagus lainnya." hibur Martin tapi malah membuat emosiku membuncah.
"Huaaaa,,,"
Saking emosinya aku malah menangis. Aku kesal karena dia sepertinya masih gak paham kenapa aku sedih berpisah dengan kalung itu. Mau ada ribuan kalung bagus lainnya juga bagiku yang paling bagus dan mahal ya cuma kalung peninggalan mama.
"Lahhh,,, malah nangis lagi. Cup cup cup anak manis jangan menangis." Martin melucu tapi sama sekali tak lucu.
"Nada gak mau dibonceng bang Martin lagi!! Bang Martin ngebut terus. Nada takut. Nada mau naik taksi saja." tukasku sambil menyeka airmataku lalu tanpa menunggu persetujuannya aku berjalan keluar toko itu dan menuju ke pinggir jalan mencari taksi.
"Eh tunggu dulu. Jangan naik taksi." Martin buru buru mengejarku lalu menahan langkahku.
__ADS_1
"Kan sayang uangnya pakai bayar taksi. Mending ditabung Nad. Taksi disini mahal lho tarifnya. Sekali naik tarif minimumnya bisa dibeliin nasi jinggo (nasi bungkus daun berukuran mini dengan lauk pauk secukupnya seharga 5 ribu rupiah)." ucapnya kemudian yang kurasa masuk akal.
"Pulang sama abang aja ya. Janji deh abang gak ngebut." Martin membentuk huruf V dengan dua jarinya dan wajah lucu membuatku terhibur.
"Beneran gak ngebut??"
"Suerrrr tak kewer kewer deh,,, Kalau abang ngebut boleh jewerrrr." aku tergelak mendengarnya.
Lelaki ini lumayan menghiburku. Di saat sebatang kara begini, aku bersyukur dipertemukan dengan orang orang baik sepertinya dan Mr Dewa meski yang satu itu ampun deh anehnya. Setidaknya dia sudah menyambung nyawaku dengan sekotak nasi dan baju bajunya walau belum laku satu pun. Kan itu salahku yang gak punya channel.
"Ya udah ayok pulang. Tapi beli makan dulu deh. Perut Nada lapar." ujarku.
"Mau makan apa anak manis?? Biar abang anterin."
"Kirain biar abang yang traktir. Huuu,,," cibirku mengejeknya.
"Ya kalau itu besok aja pas sudah gajian ya,,ya,,ya,,sekalian deh abang ajak keliling Bali."
"Yang bayar transportnya siapa??" tanyaku membuatnya berpikir.
"Bagi dua ya hehehe,,," jawabnya setelah lumayan lama berpikir dan berkutat dengan jari jarinya yang tampak menghitung pengeluaran.
"Huuu,,, Mikirnya lama, jawabannya gak memuaskan." cibirku.
Aku kembali tergelak mendengarnya. Aku suka sifat jujurnya dan apa adanya. Kalau gak mampu ya bilang gak mampu saja. Gak usah sok mampu tapi ujung ujungnya itu semua hasil jadi gi*golo!! Kayak si Anton!!
Aku menurut saja saat Martin kembali mengenakan helm untukku. Kali ini ia benar benar menepati janjinya untuk pelan pelan mengendarai motornya.
"Mau makan apa nih jadinya?" tanyanya di atas motor.
"Mmm apa ya namanya itu. Masakan Bali yang tadi pagi dibelikan untuk Mr Dewa untukku. Kuning kuning gitu bumbunya bang. Bahannya ayam sih. Tapi dagingnya lembuuut banget. Rempahnya berasa banget."
"Ayam betutu maksudmu?" tanyanya tapi belum sempat ku jawab, ia sudah bertanya lagi.
"Tunggu!! Kamu bilang siapa yang beliin?? Mr Dewa?? Dewa siapa?? Bosmu?? Kok dipanggil Mr??" tanyanya.
"Mr Dewa pemilik kost kita bang."
Ckiiiittttt!!! Martin mengerem mendadak membuatku menubruk tubuhnya. Nyaris saja hidung mancungku menancap di kepalanya.
"Apaan sih bang?? Kira kira dong ngeremnya." sungutku.
Martin mematikan motor lalu menoleh ke belakang. Ke arahku dengan pandangan bertanya tanya.
__ADS_1
"Dewa pemilik kost?? Yakin lo Nad??" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya bang, yakin. Dia tadi yang menolongku pas aku dicopet. Dia yang membelikan aku makan. Dia juga memberiku pekerjaan menjadi reseller baju baju produksinya." jawabku datar.
Tapi Martin malah melongo mendengar setiap kata kataku.
"Bang Martin kenapa sih??" tegurku karena dia malah kedip kedip gak jelas sambil tetap melongo.
"Kesambet setan apaan tuh bocah ya kok bisa baik gitu." gumamnya sambil menggaruk garuk dagunya yang ditumbuhi bulu jenggot halus.
"Maksudny??" tanyaku.
"Mmm,,, lupakan saja. Yuk kita lanjut jalan. Kamu udah lapar kan?" tanyanya dan aku mengangguk.
Lagipula tak perlu membahas lebih detail tentang Dewa. Dia bukan siapa siapa.
🌸Pov Dewa🌸
Mereka telah meninggalkan toko perhiasan ini. Sekarang entah kemana perginya mereka. Mungkin saja memang ke hotel. Meski hati kesal dan kecewa, nyatanya aku malah kepo dan mengikuti mereka sampai di toko ini.
"Mbak, gadis baju putih tadi ngapain kesini?" tanyaku menyelidik.
"Yang mana ya?" pelayan toko yang ku yakin adalah pelayan yang sama dengan yang melayani Nada tadi tampak berpikir.
"Oh yang itu. Dia jual kalung. Katanya sih kalung peninggalan mendiang mamanya."
Sudah tau peninggalan mendiang mama malah dijual. Dasar anak gak berbakti,,, gerutuku.
"Mbaknya minta di keep dulu tapi kami gak bisa keep kalau kelamaan dan tanpa deposit yang cukup." lanjut pelayan itu.
"Kenapa di keep kalau sudah dijual??" tanyaku heran.
"Katanya sih pingin dibeli lagi. Tapi gak tau juga kalau ada alasan lain. Maaf,, Anda mau beli sesuatu atau cuma mau tanya tanya ya?" selidiknya.
"Mmm,,, Saya,,,, Sa,,, Saya mau beli kalung itu." tunjukku asal untuk menutupi rasa maluku.
Sebenarnya ada apa dengannya? Terkesan mengenaskan sekali. Tadi kecopetan. Beli makan pun tidak mampu. Sekarang jual perhiasan peninggalan mamanya. Ponselnya sama sekali tak ada kontaknya. Galeri ponselnya juga kosong tanpa foto kecuali hasil SS. Rahasia apa yang dibawanya??
Aku penasaran.
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,,...
__ADS_1