
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
Coba kalian tanyakan padaku bagaimana perasaanku di hari pernikahan kami ini? Maka akan ku jawab dengan lantang dan bangga bahwa aku merasa telah menjadi orang yang paling bahagiaaaaa sedunia,,, Belum pernah kurasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya.
Belum kesampaian tepatnya,,,
Bisa menikahi gadis yang kucintai,,, Apalagi bisa langsung segera menjadi ayah,,, Sungguh suatu berkah dan nikmat yang diberikan oleh Tuhan setelah diambilnya kekasihku yang dulu.
Oh ya,,, Sehari sebelum pernikahan kami, aku sempat memimpikan Maharani.Ia datang dengan kebaya dan kain serba putih dengan senyum bahagianya. Ia tak berkata apa apa selain membimbing tangan Nada bersamanya. Mendekatiku kemudian menarik tanganku untuk akhirnya menggenggamkannya pada tangan Nada. Setelahnya ia pergi dengan melambaikan tangannya dan senyum yang tetap merekah.
Mimpi memang hanya bunga tidur namun kali ini mimpi itu justru mampu meyakinkanku bahwa Maharani merelakanku menikah dengan Nada. Ia sendiri yang bahkan mempercayakan Nada padaku. Sungguh ini ku anggap sebagai tanggung jawab besar.
Aku tak boleh gagal menjadi suami Nada. Aku tak boleh gagal menjadi ayah jagoan kecilku. Aku harus bisa membahagiakan mereka. Tekad ini begitu besar.
Karenanya, aku menerima persyaratan Ajik untuk bergabung dan mulai mengurus bisnis yang dijalankan Ajik. Ku anggap itu sebagai salah satu jalanku untuk melakukan kewajiban seorang suami. Mencari nafkah untuk anak dan istri.
Bisnis yang ku rintis sendiri, meski tidak sebesar milik Ajik, bukan tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan anak istriku kelak. Namun kali ini biarkan aku tamak sedikit. Aku ingin menghasilkan lebih banyak dari yang sudah kuhasilkan.
Jangan sampai anak istriku kekurangan!!! Makan cinta saja tidak cukup. Kasih sayang saja juga tidak membuat perut kenyang atau sekedar beli popok bukan?
Semangat Dewa,,, Kamu bisa!!!
Ku pandangi wajah ayu di sebelahku. Gadis pujaan hati, ibu dari bayiku,,, hari ini tampak cantik dengan pakaian pengantin ala Bali yang aku yakin pasti baru pertama kalinya dia kenakan. Aku yakin karena ia tampak kurang nyaman dengan semua detailnya. Terutama hiasan kepala keemasan yang menjulang tinggi itu. Ia pasti merasa berat.
__ADS_1
Kasihannya istri kecilku ini,,,tapi kamu cantik kalau begini.
Belum lagi balutan kain yang harus ketat di bagian dada dan perut membuat perut buncitnya makij terlihat namun justru disitulah letak kecantikan alaminya di mataku. Gadisku ini telah berjuang selama ini demi bisa tetap menjaga bayi dalam kandungannya. Dia mengabaikan semua caci maki walau saat malam akan menangis sendiri.
Tenang sayang,,, Tenang Na,,, sekarang ada kak Dewa yang akan turut menjaga Na dan anak kita.
"Na,,," panggilku lirih setelah kami melewati malam panjang melelahkan dengan ribuan tamu undangan. Ajik dan Biang benar benar tidak mau melewatkan satu pun kenalannya.
Saat ini kami telah berada di kamar pengantin kami. Tepatnya kamarku yang telah disulap sedemikian rupa hingga terlampau cantik dan romantis untuk dua sejoli yang ku rasa tak akan merayakan malam pertama.
"Kak,,, Maaf Na,,," ia terlihat begitu sulit mengatakan apa yang ingin diucapkannya.
"Hei,,, jangan meminta maaf. Kalau Na tidak nyaman dengan semua hiasan ini,, yuk bantu kakak menyingkirkan ini. Kakak juga risih ada bunga bunga bertaburan seperti ini. Udah kayak apa aja ah,,," tentu aku tak ingin membuatnya makin tak nyaman jika aku mengakui aku menyukai vibe kamarku malam ini.
"Benarkah kak? Bukan karena kakak menjaga perasaanku?" tanyanya dengan mata menyelidik.
"Tidaklah. Kakak ini kan cowok tulen. Mana suka sama bunga bungaan begini." ujarku meyakinkannya.
Na menatapku dengan sorot mata penuh beban. Tak ingin ku biarkan ia berlama lama memendam rasa bersalahnya,,, maka ku genggam jari jemarinya yang dimainkannya dengan gelisah sedari tadi.
"Maafin Na kak."
"Kakak sudah bilang jangan meminta maaf. Na mau menikah dengan kakak saja sudah cukup membuat kakak bahagia. Tidak perlu melakukan yang lain. Kakak sudah pernah bilang bukan,,, bahwa cinta kakak saja sudah cukup untuk kita. Tidak perlu jadi istri di ranjang,,, istri di keseharian kita,,, cukup jadilah sahabat terbaik kakak. Tempat kakak berkeluh kesah. Jangan memaksa hati Na untuk menyenangkan hati kakak. Karena tanpa Na melakukan itu,,, kakak sudah bahagia."
Di luar prediksiku, setelah aku selesai mengatakan itu, tubuh Na menghambur kepadaku. Ia memelukku erat dan menyembunyikan wajahnya di dadaku sembari menangis. Yang bisa kulakukan saat itu hanya mendekapnya dan mengusap kepalanya.
"Anak cantik gak boleh nangis. Ntar hilang lho cantiknya." ku usap airmata di pipinya setelah tangisnya mereda dan kepalanya mendongak.
Na hanya tersenyum mendengarnya. Ia membiarkanku merapikan anak rambutnya yang sedikit menutupi wajah ayunya.
"Nah kalau begini kan cantik. Boleh lah diajak menemani kakak kalau pergi ke kondangan. Gak malu maluin kok." ujarku menggodanya.
__ADS_1
"Kakakkkk,,," sungutnya manja dan itu membuatnya makin ayu di mataku.
Bodo amat dengan mata orang lain,,,
"Beneran kok,,, pantes buat digandeng." aku tak serta merta menyudahi candaanku membuatnya memukuli lenganku dengan gemasnya.
Biarkan saja ia melampiaskannya meski sedikit banyak lengan ini juga sakit dipukuli terus olehnya. Tapi tak mengapa,,, lebih baik aku yang sakit daripada Na.
"Bobo yuk kak. Na ngantuk." ujarnya kemudian setelah lelah bermain tangan.
"Hayuk. Na bobo di sini dan kakak di sana." telunjukku mengarah ke sebuah sofa yang ku letakkan di sisi kanan kamarku. Sofa yang sengaja ku beli dan ku persiapkan untukku tidur.
Mata Na mengekor ke arah yang ku tunjuk lalu kembali menatapku dengan tatapan bersalah.
"Kak,,,"
"Na ngantuk kan? Kakak juga ngantuk nih. Udah ya,,, ngobrolnya kita sambung besok lagi." aku sungguh tak ingin berdebat apa apa dengannya.
Segera kubantu memposisikan dirinya untuk rebahan dan menempatkan kepalanya di bantal. Selimut juga ku pasangkan untuk menutup tubuhnya. Aku tak rela jika ada seekor nyamuk pun menyentuhnya.
"Selamat tidur Na cantik. Selamat tidur jagoan ayah. Mimpi indah ya." tak hanya ibunya, anaknya pun juga harus merasakan cintaku.
Na tersenyum lalu membiarkanku melangkah menuju ke sofa tempatku tidur. Aku sengaja tak ingin menoleh lagi kepadanya karena aku tak ingin melihatnya makin merasa bersalah lagi.
Ku rebahkan tubuh lelahku di sofa baruku. Bantal dan selimut juga sudah kusediakan sebelumnya. Segera ku pejamkan kedua netra ini meski jiwa belum ingin tertidur.
Na,,, terima kasih sudah mau tinggal di sini. Di kamar kakak. Setidaknya kakak lebih leluasa melihat dan menjagamu. Selamat tidur sayangku,,,
Malam itu pun ku lalui tanpa adanya ritual apa pun di antara kami. Tapi aku tetap bahagia.
Begini saja sudah cukup Na,,, Kakak bahagia.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...