I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Jangan Minta Maaf, Na.


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


"Maafkan Na, Kak. Na dan Birru sudah membuat kakak berada dalam situasi seperti ini." Lirihku pelan bahkan sangat pelan sembari tertunduk.


"Jangan minta maaf, Na. Na tidak salah. Pernikahan ini bukan kehendak Na." ucap kak Dewa membuatku mendongak.


Tadinya ku kira hanya aku yang mendengar lirihanku saking lirihnya tapi ternyata makhluk baik yang dalam beberapa hari ini sudah berstatus sebagai suami sahku namun belum pernah mendapatkan haknya sebagai suami itu rupanya mendengarnya juga.


Semudah itu ia mengatakan jangan meminta maaf karena bukan aku yang salah. Lalu siapa yang salah kalau bukan aku kak?? Memang bukan kehendakku, tapi karena persetujuanku juga maka pernikahan ini terjadi. Itu membuat kakak jadi terjebak dalam situasi ini. Seandainya waktu itu aku kekeh bilang tidak, maka kakak tidak perlu berada di posisi ini. Jadi berhenti melarangku meminta maaf kak.


"Na bebas menentukan keputusan Na. Apa pun itu, kakak terima. Walau mungkin keputusan Na nantinya mengharuskan kakak kehilangan kalian berdua, kakak juga akan terima. Asalkan keputusan itu Na ambil dengan pertimbangan yang baik." ujarnya membuatku tak bisa menahan lagi bendungan airmataku.


Istri macam apa aku ini? Hanya bisa memberi penderitaan dan menambah beban pikirannya saja. Belum juga aku bisa membahagiakannya sebagai suami, kini ia malah dengan pasrah meletakkan status dan kelanjutan hubungan kami di tanganku.


Kak Dewa memberikanku hak sepenuhnya untuk menentukan mau kulanjutkan atau kuhentikan saja bahtera rumah tangga kami yang bahkan belum kami jalankan.


Ku akui,,, Hatiku ini sebelumnya sangat merindukan om Ody,,, Tiap malamku hanya mengingat bayangnya. Aku bahkan sangat ingin bisa bersanding dengannya suatu hari nanti. Apalagi sejak tau bahwa di rahimku ini tumbuh benihnya. Bahkan saat melihatnya kemarin, aku sangat ingin segera mengatakan kepada Om Ody bahwa ya, Birru memang anak om. Kemudian kami bertiga akan hidup bahagia.


Indah bukan? Tuhan telah sangat baik mempertemukan kami kembali. Bahkan dalam posisi om Ody sudah single. Birru sudah dipastikan bisa memiliki status sebagai anak om Ody. Kami akan sangat berbahagia.

__ADS_1


Tapi,,,


Entah kemana menguapnya seluruh perasaan itu sekarang? Kenapa seperti hilang tanpa bekas ketika pria tampan yang sah untuk ku sentuh ini berdiri di depanku penuh dengan sikap pasrah. Ketika sepasang netra teduh itu kini ku rasakan sangat sayu.


Aku bimbang,,, Mau apa sebenarnya hatiku ini?


"Kakak sadar, semua ini bukan keinginan Na. Na menikah dengan kakak juga karena terpaksa, bukan karena cinta. Karena Birru. Jadi kalau sekarang sosok ayah Birru yang sebenarnya sudah hadir, maka kakak bisa apa? Jujur ingin memperjuangkan kalian berdua, tapi kalau kalian berdua memilih kembali kepadanya, kakak juga bisa apa?"


Kembali pria tampan itu begitu pasrah. Namun semakin ia pasrah begitu, entah kenapa sudut hatiku malah memberontak.


Aku merasa,,, aku ingin diperjuangkan sekali lagi olehnya.


"Pikirkan saja dulu baik baik. Jangan tergesa gesa. Sekali lagi,,, ini menyangkut masa depan Birru. Ia berhak tau dan hidup layak dengan keluarga yang lengkap. Na juga berhak untuk hidup bersama orang yang Na cintai." lirihnya semakin lirih bahkan nyaris tak terdengar.


Sedari tadi makhluk Tuhan yang satu ini selalu membahas apa yang jadi hak ku saja tanpa menuntut satu pun tanggung jawabku. Tanpa mengungkit satu pun haknya yang juga harus dipenuhi.


"Kakak pergi dulu kalau begitu. Kakak mau ke ruangannya Birru. Kakak ingin berlama lama bersamanya sebelum waktu kebersamaan kami menghilang. Na istirahat saja ya." belaian lembut di keningku membuat jiwaku menangis.


"Kak,,," ku tahan tangan kak Dewa.


Kak Dewa tak langsung menoleh melainkan bisa ku lihat tangan satunya mengusap sesuatu di wajahnya. Mungkin airmata.


"Ya. Na butuh apa?" sepasang netra itu memerah menandakan tebakanku tadi tidak salah, kak Dewa memang menangis.


"Di sini saja. Temani Na." pintaku seolah aku merasakan ketakutan yang sama dengannya.


Aku takut hatiku akan memilih pergi bersama Om Ody dan itu artinya kebersamaan kami juga akan usai.

__ADS_1


"Apa tidak membuat hati orang lain terluka kalau kakak berlama lama bersama Na?" tanyanya dengan netra berkaca kaca.


Lihatlah dia,,, Di saat seperti ini pun ia masih memikirkan perasaan om Ody. Kak Dewa takut menyakiti hati om Ody dengan kebersamaan kami,sedangkan hatinya sendiri tentu teriris iris. Kakak itu manusia atau apa sih??


"Kak,,, Na ini istri kakak. Kakak lebih berhak terhadap Na daripada orang lain. Birru memang anak biologis om Ody, tapi saat ini, kakaklah ayah legalnya. Birru akan tau semua ini pada saatnya nanti tiba. Tapi sebelum saat itu tiba,,, Kakaklah yang paling berhak terhadap kami." ku tegaskan sebuah kalimat yang membuat netra sendu itu seketika berbinar.


"Na,,,??" serunya penuh tanya seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Iya. Na istri kakak. Temani dan perlakukan Na layaknya sebagai istri yang baru saja melahirkan. Nanti,,, setelah Na pulih, Na janji akan melakukan semua kewajiban Na sebagai seorang istri. Memberikan semua yang menjadi hak kakak sebagai suami Na." tegasku.


"Tapi Om Ody,,,???"


"Dia memang ayah Birru. Dia lelaki yang sosoknya Na rindui selama ini. Dia juga lelaki pertama yang menyentuh raga ini sampai titik terdalamnya. Tapi kakak adalah lelaki pertama yang menyentuh hati terdalam Na. Jadi maafkan Na kalau Na memilih kakak tetap menjadi pendamping Na." aku tertunduk.


Merasa tidak pantas untuk menjadi penentu keputusan. Merasa terlalu tidak tau diri untuk memutuskan tetap berada di samping kak Dewa. Terlalu egois meminta sebuah perlindungan dan status untuk Birru.


"Jangan,,, Jangan minta maaf, Na." kak Dewa menggeleng dengan uraian airmata yang kurasa kali ini adalah airmata bahagia.


"Bolehkah Na memilih tetap menjadi istri kak Dewa saja? Bolehkah Na tetap meminta Birru berstatus sebagai anak kakak juga?" tanyaku sembari menangis.


Kak Dewa merangkul tubuh lemahku sekenanya. Seandainya saja aku tidak sedang berbaring menahan sakitnya luka operasi, mungkin ia sudah mendekapku erat saat ini.


"Boleh. Boleh sekali. Bahkan jangan pernah pergi dari sisi kakak. Tetaplah jadi istri kakak sampai maut memisahkan. Terima kasih sudah memilih kakak. Terima kasih sudah mengijinkan kakak tetap menjadi ayah Birru." ujarnya dengan tangisan yang seakan tak ada hentinya.


Kami berdua saling tersedu. Menangisi kebahagiaan yang terlalu rumit ini.


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,...


__ADS_2