
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Ody🌸
Bos mudaku ini lumayan banyak bicara. Sepanjang perjalanan menuju ke kediamannya, ia banyak bercerita. Mengenai bisnis onlinenya dan banyak hal. Tapi entah kenapa ia sedikit bercerita tentang istrinya.
Maksudku tentang perjalanan cinta mereka sampai akhirnya di titik pernikahan. Apa mungkin keduanya tidak saling mencintai? Hanya terpaksa karena adanya bayi dalam rahim istrinya yang butuh pengakuan?
Entahlah,,, Ingin bertanya juga rasanya tidak etis.
"Ok om,,, Kita sampai."
Pandangan mataku menatap rumah megah lengkap dengan gapura candi bentar khas Bali. Rumah yang sangat mencerminkan rumah rumah orang Bali kalau dilihat dari luarnya.
Aku berjalan mengekor mengikuti tuan rumah. Semakin masuk ke dalam, rumah itu semakin modern minimalis. Sejuk juga dengan hamparan rumput hijau tertata di halamannya. Kolam ikan di sudut halaman dan kolam renang di tengahnya menambah keasrian rumah ini.
Aku baru tau,,, di balik jiwa kepemimpinan bapak Artha yang terkenal tegas dan berwibawa,,, Terdapat sisi kedamaian dan kelembutan yang terlihat tatanan rumahnya.
"Biang,,, Ajik,,, Lihat siapa yang datang." seru bos mudaku begitu kami sampai di depan pintu yang sudah terbuka lebar.
Kedua orang yang dipanggil tampak berjalan menghampiri kami. Tapi tidak dengan istri bos muda yang belum kelihatan batang hidungnya.
Kemana dia? Bukannya harusnya dia yang menyambut kedatangan suaminya?
"Sebentar ya om. Aku panggil istriku dulu. Mungkin dia masih di kamar."
"Silahkan." ku persilahkan dan akhirnya aku tau di mana keberadaan istri bos mudaku.
"Selamat datang di gubuk kami Ody. Silahkan masuk." big bossku menyalami dan paling suka merendahkan diri.
"Tidak ada gubuk semewah ini bapak." sahutku menanggapi ucapan merendahnya itu.
"Yah,,, ini semua rancangan Dewa. Kami orang tua bisanya hanya nurut saja. Toh nantinya rumah ini akan jadi miliknya." istri big boss menimpali.
"Benar begitu ibu. Yang tua menurut saja." ku benarkan perkataan beliau.
"Bapak Ody berapa putranya?" tanya ibu Dayu berbasa basi.
"Mm saya belum punya putra bu. Belum dipercaya." sahutku sambil tersenyum meski dalam hati selalu perih kalau ada yang bertanya seperti itu.
__ADS_1
"Oh maaf. Tidak apa apa. Nanti juga pasti diberi sama Tuhan. Istri kenapa tidak ikut ke Bali juga? Kalau tidak salah kemarin datang cuma sama mamanya kan ya?" sekarang aku tau dari mana datangnya sifat banyak bicara bos mudaku, ternyata dari sang ibu.
"Kami baru saja bercerai bu." kembali ku lempar senyum terbaikku meski hati merasa malu.
"Aduh,,, Mohon maaf ya." kali ini ibu Dayu tampak tak enak hati kepadaku. Niatnya hanya ingin mengenalku lebih jauh tapi sayangnya bahan pertanyaanya malah membuat situasi tidak nyaman.
"Bagaimana tadi di kantor? Apa Dewa berulah? Apa membuatmu repot? Apa dia sudah bisa mempelajari materi darimu hari ini?" akhirnya pertanyaan dari bapak Artha lebih bisa membuat situasi ini nyaman.
Aku lebih leluasa menjawab pertanyaan tentang pekerjaan. Kami terus berbincang lumayan lama sampai lupa bahwa bos mudaku tadi belum juga keluar bersama istrinya.
#
#
#
🌸Pov Nada🌸
"Apa tidak memalukan memperkenalkan Na pada karyawan kak Dewa? Nanti tidak jadi bahan olokan di kantor?" tanyaku yang mengkhawatirkan nama baik kak Dewa di depan para rekan kerjanya.
Memang sih,,,semua sudah pada tau bahwa aku sedang hamil besar saat kami menikah. Tapi kan waktu itu hanya bertemu sekilas dan sekedar bersalaman saja. Kalau kali ini,,, dikenalkan secara langsung begini entah kenapa membuatku insecure.
Jantung ini tiba tiba berdetak kencang seakan hendak menemui kekasih saja.
"Ya nggak dong. Lagian siapa dia mau mengolok olok kakak? Kan kakak ini bosnya hehehe,,,"
"Jangan kebiasa menyombong begitu kak. Nggak baik." ku tanggapi candaan suamiku dengan serius.
"Iya Na. Kakak tau. Kakak hanya tidak ingin membuatmu merasa cemas begini. Ayo ikut turun. Temui partner kerja kakak. Untuk ke depannya, beliau akan terus mendampingi kakak lho. Bisa jadi,,, suatu hari nanti juga bisa bersinggungan dengan Na juga. Mungkin kakak sakit,,,kan Na yang mengabari kepadanya. Atau mungkin sebaliknya,,,"
Kak Dewa memang pandai menjelaskan segala situasinya. Tapi aku yang mendengarnya malah semakin tak pandai meredakan debaran aneh ini. Entah pertanda apa ini.
"Mau ya?" kembali kak Dewa meminta kesediaanku.
Rasanya sangat tidak adil baginya kalau permintaan kecilnya ini tidak ku turuti. Dia tidak meminta yang aneh aneh padahal. Tapi berhubung debar aneh ini terus melanda, membuatku harus berdrama ria dulu. Hmmm,,,,
"Iya kak." akhirnya aku mengangguk.
"Terima kasih Na."
"Perlu ganti baju dulu?" tanyaku yang kembali mencemaskan nama baiknya.
Bagaimana pun, aku saat ini hanya memakai daster rumahan yang gak jelek jelek amat sih tapi aku tidak yakin cocok untuk menemui rekan kerja kak Dewa. Kurang formal menurutku.
"Tidak usah. Ini bukan acara formal. Hanya makan malam biasa. Lagipula,,, Na sudah cantik tanpa dibuat buat." puji kak Dewa membuat pipi ini bersemu merah.
__ADS_1
"Apalagi kalau lagi malu malu begini,,, tambah cantiknya." lagi lagi kak Dewa memuji.
"Kak,, Udah ah. Ayo kita temui teman kakak." aku tak mau pipiku semakin merah.
Kak Dewa menggandengku menuruni anak tangga. Ruang makan yang tepat berada di dekat tangga membuatku bisa melihat cukup jelas, di meja makan sudah ada banyak makanan dan sudah ada tiga orang yang duduk di sana.
Biang,,, Ajik,,, Dan,,,,
Langkahku terhenti. Debaran di jantung makin menggila. Aku tau siapa sosok itu,,,Aku hafal betul dengan postur tubuh itu. Aku tidak mungkin salah. Tubuh itu yang begitu gagah malam itu,,,
"Kenapa Na?"
Pertanyaan kecil itu membuatku sangat tersentak. Kaget setengah mati saat menyadari situasi ini tidak baik untuk kami. Aku pucat pasi.
"Na,,, Na sakit?? Kok Na pucat sekali."Kak Dewa menempelkan punggung tangannya di dahiku yang sudah berkeringat dingin.
Aku tak menjawab. Bibirku kelu. Tubuhku gemetar. Tatapan mataku terus tertuju ke arah sosok itu.
#
#
#
🌸Pov Author🌸
Nada membeku di tempatnya membuat Dewa makin khawatir. Nada tak bergeming. Tak menjawab pertanyaan Dewa.
Sementara Biang Dayu yang menyadari kehadiran mereka pun merasa aneh kenapa anak dan menantunya hanya diam di pertengahan tangga saja.
"Dew,,, Nad,,, Ayo sini turun. Tamunya sudah nungguin lho."
Otomatis perkataan biang Dayu itu membuat semua mata tertuju ke arah tangga. Tak terkecuali tamu mereka malam itu.
Deg,,,,
Mata mereka bertemu. Bibir sama sama kelu. Ada rasa bahagia akan pertemuan tak terduga ini sekaligus rasa kecewa yang menusuk dada.
"Om Ody,,,,???"
"Nada??"
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1