I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Room 45A


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


Om Ody menghela napas beratnya bersamaan dengan kakiku yang menginjak rem. Kami sudah tiba di alamat yang diberikan si girang itu. Aku tau,, om Ody pasti berusaha keras menghimpun kekuatannya untuk melihat kenyataan yang mungkin pahit.


"Om yakin mau turun?" tanyaku.


"Kita sudah sampai di sini sayang. Om gak mau pulang tanpa membawa serta tante bersama kita."ujarnya sambil tersenyum pahit, sangat pahit bahkan.


Aku terdiam. Sungguh dalam hati aku memuji kesabaran dan besarnya cintanya untuk tante Valencia. Aku sibuk menerka nerka apa sih kurangnya om Ody ini di depan mata tante Valencia.


Apa hanya karena kegagalannya memberikan keturunan? Bukankah itu juga di luar kemauan om Ody?? Setauku, tidak ada manusia normal yang memutuskan menikah tanpa ingin punya anak. Begitu juga om Ody,,,


"Ayo, sayang turun. Kita masuk." ajaknya membuatku tergagap karena ternyata om Ody sudah turun dari mobil.


Aku mengangguk cepat. Melepas seatbelt, memastikan sudah menarik hand break, mematikan mesin dan turun. Ku siapkan tubuh dan hatiku untuk menjadi penopang dan kekuatan untuk om Ody.


Ku hela napas panjang sebelum aku benar benar mengikuti langkah om Ody yang sudah terlebih dulu menuju ke meja resepsionis.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" resepsionis itu menyapa dengan sopan dan penuh senyuman.


"Selamat siang. Saya ingin tau apa benar ada tamu yang menginap di sini bernama Valencia?" tanya om Ody tak kalah sopan.


"Sebentar bapak, saya periksa dulu."


Om Ody mengangguk memberikan kesempatan pada wanita bersanggul rapi dan berpakaian batik itu untuk melakukan tugasnya. Sementara aku,,, ku edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa kujangkau dengan mataku.


Yang kulihat adalah kebanyakan pemandangan umumya sebuah hotel. Ada tamu yang check in dan check out. Ada yang menunggu di lobby juga sebelum yang dikunjungi menemui mereka.


"Terima kasih sudah menunggu bapak. Benar, kami ada tamu bernama Valencia yang check in semalam. Apa bapak ingin saya menelpon dan memberitahu ada yang mencarinya?" tanya resepsionis yang tentunya punya tugas menjaga kenyamanan tamu tamu yang menginap.


"Beritahu saja berapa nomer kamarnya. Saya suaminya. Saya tidak perlu minta ijin istri saya untuk menemuinya bukan?" om Ody menggunakan statusnya untuk membuat resepsionis itu tidak bisa menolak kemauannya.

__ADS_1


"Room 45A lantai 2 bapak. Bisa lewat lift di sebelah kanan kemudian belok kiri." wanita itu tetap bersikap profesional dan menunjukkan arah di mana ada kotak listrik yang akan membawa kami ke kamar yang disewa tante Valencia.


"Terima kasih."


Om Ody tak membuang waktu lagi. Dengan cepat ia menuju ke lift dengan langkah lebarnya. Membuatku harus setengah berlarian menyusulnya. Kami berdua diam selama di dalam lift. Sibuk menyiapkan diri dan perasaan masing masing.


Begitu pintu lift terbuka, om Ody mengikuti petunjuk yang diberikan resepsionis tadi. Kami berdua telah sampai di depan pintu bertuliskan 45A.


Tangan om Ody sudah tergerak untuk mengetuk pintu kayu itu namun diurungkannya ketika matanya menangkap sebuah celah hitam kecil yang setauku ada semacam layar untuk penghuni kamar bisa melihat siapakah tamunya.


"Kenapa om?" tanyaku yang tak berpengalaman ini.


"Halo,,," tanpa menjawabku, om Ody malah memanggil seorang laki laki yang dari pakaiannya bisa ku tau bahwa ia bekerja di hotel ini. Mungkin bell boy.


"Ada yang bisa saya bantu bapak?" tanyanya sopan setelah menghampiri kami.


"Saya ingin memberi kejutan untuk istri saya yang menginap di dalam sini. Bisa anda bantu saya untuk berpura pura memberikan pelayanan kamar?"


"Baik bapak."


"Room Service." Tanpa banyak protes atau tanya, bell boy itu pun bersikap seolah tengah melakukan pekerjaannya.Ia mengetuk pintu dan menunggu pintu dibuka. Sementara om Ody menarikku untuk menjauh dari pintu itu agar penghuninya tidak bisa melihat keberadaan kami.


"Selamat siang ibu." sapa bell boy itu disambut dengan suara milik tante Valencia.


Tanpa menunggu lama lagi, om Ody langsung bergeser tempat dan berdiri di samping bell boy itu.


"Terima kasih." ucapnya sembari mengulurkan selembar uang.


"Ody???!!!!"


"Nada???!!!"


Tante Valencia yang berdiri hanya dengan memakai kimono hotel dengan kepala yang dibalut handuk itu melotot dan sangat terkejut dengan kehadiran kami.


"Ayo pulang sayang. Kami khawatir." om Ody masih bersikap wajar.


"Siapa tante?"


Namun ketika suara seseorang dari dalam kamar itu terdengar,,, jangan tanya seperti apa reaksi kami bertiga. Terlebih saat sosok pemilik suara itu muncul hanya dengan tubuh terbalut handuk di bagian bawahnya saja.

__ADS_1


Dengan tubuh dan rambutnya yang masih basah itu,,,ia mematung.


Ku kira om Ody adalah orang yang paling rapuh dan tersakiti saat sampai di kamar ini. Nyatanya bukan. Aku,,,!!! Akulah yang paling rapuh,,, sakit,,,kecewa,,, terkejut,,,


"Nada sayang!!! Tunggu,,,!!!"


Ku abaikan panggilan tante Valencia itu. Aku hanya mengikuti naluriku untuk berlari secepatnya menjauh dan meninggalkan tempat terkutuk itu. Belum juga kering luka hatiku,,,masih menganga dan kini disiram air garam.


Ya tuhan,,,Perihnyaaa!!!


"Valencia!!! Pulang Sekarang!!!!"


Sebelum aku masuk ke dalam lift, aku sempat mendengar bentakan dari om Ody. Selama bersama mereka,, ini adalah pertama kalinya aku mendengar om Ody menyebut nama tante Valencia bukan dengan panggilan sayang lagi.


Aku tidak peduli,,,


Hatiku sudah terlampau sakit mengetahui semua hal buruk ini. Ini semua di luar nalarku. Bagaimana bisa??? Kenapa setega itu? Sudah berapa lama?? Sejak kapan???


Tante Valencia dan Anton,,,Ya tuhan!!!


Aku masih bisa terima ketika tante Nancy yang tak mengenalku yang melakukan hal semacam ini. Tapi kali ini,,, Aku sama sekali tidak bisa menerima meski dijelaskan dengan ribuan kata.


Tante,,, Tante kan tau dia itu tunanganku. Kenapa tante juga mau dengannya? Kenapa tante melakukan semua ini? Sadarkah tante perbuatan tante ini tidak hanya akan melukaiku saja melainkan juga om Ody,,,??


Apa salahku pada tante sampai tante sampai hati melakukannya?? Apa benar hukuman atas kegagalan om Ody melakukan perannya dalam rumah tangga kalian bisa dilimpahkan padaku seperti ini?? Atau mungkin karena aku sudah menumpang hidup pada tante selama ini hingga tante pikir semua ini impas?? Inikah harga yang harus ku bayar untuk semua budi baik tante padaku?????


"Sayang."


Tangan yang sudah berada di bahuku dan memutar tubuhku itu kubiarkan saja kini mendekapku erat. Ku tumpahkan semua airmataku dalam dada bidang itu. Tanpa rasa malu aku menangis dan menangis.


"Om Ody minta maaf sudah gagal menjadi suami tantemu. Om sudah gagal membimbingnya sampai ia tidak tau batasan lagi. Maafkan om sayang."


Bukan om,,, bukan om yang harus meminta maaf,,, om tidak salah apa apa,,, Tolong jangan membuatku makin sedih dengan berpura pura tegar menyaksikan kebenaran ini,,, kita sama sama terluka om,, Jangan menghiburku,,,


Ku balas dekapan erat om Ody dengan tetap terisak isak. Napasku terasa berat dan pandanganku pun mengabur. Yang kurasakan hanya tangan kekar yang menjaga tubuhku agar tak terhempas ke bumi.


Cukup hatiku saja,,,,


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,,...


__ADS_2