I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Ini Salahku


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


Sepeninggalnya dokter yang memeriksaku, Kamar inap ini terasa sepi.Yang semula ku kira Dewa akan banyak bertanya tentang kehamilanku ini, ternyata itu tidak terjadi sama sekali. Ia memang tetap menemaniku, merawatku, namun sama sekali tak menyinggung tentang bayi ini.


Entah apa yang dipikirkannya sekarang tentangku,,,


"Sudah kuat untuk pulang belum?" tanyanya lembut memecah kebisuan.


Aku mengangguk. Sebenarnya aku malah merasa kikuk diajak bicara lembut begini olehnya. Kebiasaan kami yang seperti serial kartun kucing dan anjing kesukaan anak anak itu, bagiku lebih membuatku bebas berekspresi.


Kalau dia lembut begini,,, aku malah merasa aneh.


"Yakin? Kamu masih lemes begitu. Jangan dipaksakan kalau memang belum kuat. Menginap di sini barang semalam dua malam juga gak apa apa. Yang jelas kamu dapat perawatan terbaik." ujarnya kemudian.


"Tidak. Lebih baik aku pulang saja. Aku rindu bantal guling dan kasurku." ku coba melucu namun sepertinya sama sekali tak lucu.


Dewa sama sekali tidak tertawa atau protes. Wajahnya tetap serius. Biasanya dia akan mengomeliku kalau aku menolak apa pun yang disuruhnya. Dia juga pasti akan protes karena bantal guling serta kasur yang ku maksud juga bukan milikku melainkan bawaan dari fasilitas kamar kost yang notabene adalah miliknya. Tapi kali ini ia tidak begitu.


"Baiklah kalau memang itu maumu. Tunggu dulu di sini. Aku akan pergi dan urus administrasinya. Gak lama kok." ucapnya seolah tau kalau aku takut ditinggal.


"Mmm,,, tapi aku tidak punya cukup uang untuk membayar rumah sakit. Bagaimana kalau,,"


"Aku yang bayar. Kan aku yang buat kamu celaka."


Dewa memotong bicaraku dan ia tersenyum. Senyuman itu seketika memberiku jawaban akan keanehannya hari ini. Rupanya ia bertingkaj aneh dan sabar serta lembut karena merasa bersalah sudah membuatku celaka. Padahal aku tidak menyalahkannya. Justru aku yang merasa bersalah karena sudah rewel minta asinan dan kemudian membuat ia terburu buru mengejar waktu.

__ADS_1


Seharusnya aku juga ingat bahwa Dewa itu manusia perfeksionis yang anti telat. Dia paling gak suka dengan jam karet.


Hah,,, Ini salahku. Murni salahku. Baik yang sudah terjadi hari ini, maupun semua yang menimpaku kini,,, semua murni salahku.


Aku berusaha duduk kemudian Ku pandangi perut rataku ini dengan pandangan nanar. Dalam raga ini ada nyawa yang tumbuh akibat kesalahanku. Ini semua di luar dugaanku. Sama sekali aku tak menyangka ini semua akan terjadi, mengingat kondisi kesehatan reproduksi om Ody, tapi nyatanya ini terjadi. Entah aku harus bahagia untuknya atau bersedih untukku.


Mengetahui ternyata om Ody tidak mandul tentu mengejutkanku namun juga membuatku bahagia untuknya. Bukankah dengan begini, ketika ia sudah kembali dengan tante Valencia, maka kemungkinan besar tante Valencia juga akan bisa hamil sepertiku.


Aku bahagia untukmu om,,,


Lalu aku?? Ku hembuskan nafas kasar dan cenderung mengandung keputusasaan. Sanggupkah aku menanggung aib ini sendiri? Bagaimana kalau aku dihujat? Disisihkan? Dianggap gadis nakal? Bagaimana kalau suatu hari nanti anak ini lahir dan bertanya siapa dan dimana ayahnya?


Nak,,, Kenapa kamu hadir? Kenapa harus disaat ibumu bahkan tak siap? Saat ibumu ini masih berjuang menata hidup.


Untuk sejenak aku menyesali dan bahkan menyalahkan kehadirannya. Muncul niatan untuk menggugurkannya saja mengingat status dan kondisi keseharianku yang belum mapan. Namun kemudian aku sadar, janin ini adalah kenang kenangan terindah yang ku miliki dari om Ody. Anak ini membuatku tak merasa sendiri lagi di dunia ini.


Meski kamu nantinya terlahir di situasi dan kondisu serta status yang salah,,, tapi ibu akan tetap menyayangimu nak. Ibu akan tetap menjagamu tak peduli walau banyak cibiran atau hinaan nantinya. Ibu akan bertanggung jawab. Keputusan ibu malam itu yang membuatmu hadir dalam rahim ibu. Jadi ibu akan terima semua konsekuensinya. Maafkan ibu yang sempat berpikir akan membuangmu ya nak.


Ya,,,aku bertekad tetap merawat kehamilan ini. Aku akan melahirkan anak ini. Mengakuinya sendiri. Dia anakku,,, Airmataku menjadi saksi janjiku kepada janinku. Ku usap usap perutku dengan lembut.


Suara Dewa mengejutkanku. Entah sejak kapan ia berdiri di sana. Apa dia melihat tangisanku juga? Segera ku seka airmataku kemudian aku mengangguk pasti.


"Pulangnya naik taksi saja ya." ucap Dewa.


"Motormu kemana?" tanyaku seakan lupa kami baru saja kecelakaan, sejurus kemudian aku pun ingat lalu kembali berbicara,,," masih di bengkel ya?"


"Iya. Masih diperbaiki. Lagipula kalaupun motornya gak rusak juga kamu tetap harus naik taksi. Kondisimu tidak memungkinkan untuk naik motor. Takut terjadi apa apa dengan,,,,"


Dewa tak melanjutkan bicaranya. Aku tau ia akan mengatakan janinku, namun sepertinya ia merasa tak enak.


"Iya aku paham. Ayo." segera aku turun dari ranjang dan berjalan ke arahnya.


Kami berjalan beriringan menuju ke tempat di mana taksi yang dipesannya sudah menunggu. Sesampainya di sana, Dewa membukakan pintu belakang untukku kemudian dia menyusul masuk setelahku.

__ADS_1


Kami hanya diam sepanjang jalan. Aku punya banyak pertanyaan sebenarnya tapi aku berpikir ulang untuk menanyakan padanya.


Biarlah,,, Sebaiknya aku diam saja. Hari ini aku sudah cukup membuatnya shock.


🌸Pov Dewa🌸


Ku hentikan langkahku saat melihatnya tengah mengusap perutnya. Nada sepertinya tengah menangis. Dari sana, bisa kusimpulkan ia bahkan baru tau dirinya hamil. Kebungkamannya membuatku juga yakin bahwa janin itu tidak punya status yang kuat.


Ayah janin itu pasti tidak bertanggung jawab!!


Sudahlah. Jangan itu dipusingkan. Tugasku sekarang mengantarnya pulang. Bukankah ia bilang bahwa ia rindu akan bantal guling dan kasurnya? Mungkin itu keinginan bayinya.


Katanya kalau ibu hamil tak dituruti keinginannya, nanti anaknya suka ngiler. Kasihan kan? Karenanya aku tak mau banyak protes lagi. Ku ajak ia menuju ke parkiran taksi. Ku dampingi dirinya duduk di kursi penumpang belakang.


Dalam perjalanan kami sama sama membisu. Sebisa mungkin ku tahan diri ini untuk tidak bertanya apa pun mengenai janinnya. Aku takut salah bertanya atau salah bicara. Aku hanya ingat akan janjiku pada dokter untuk menjaga emosionalnya.


Karenanya, aku memilih menelan bulat bulat segudang tanya di kepala. Menunggu hingga siapa tau ia akan menceritakannya sendiri.


"Istirahatlah. Tuh bantal guling dan kasurnya udah nungguin." ucapku.


"Dew,,,"


"Ya. Butuh apa lagi? Biar sekalian ku siapkan." ucapku saat ia memanggilku lirih.


"Terima kasih."


"Sama sama. Jaga diri baik baik. Jangan terlalu banyak ambil pekerjaan. Urusan baju nanti gampang. Biar aku ambil lagi. Kamu jangan kerja. Di rumah saja." ucapku tanpa pikir panjang lagi.


"Kalau kamu tidak keberatan dan masih mengijinkan, tolong jangan ambil bajunya. Biarkan aku tetap bekerja. Aku dan bayiku butuh uang lebih banyak untuk bertahan hidup." ujarnya sambil tertunduk.


"Boleh. Tentu boleh kalau kamu masih mau." Aku lantas pergi membawa semua jawaban atas segala tanya.


Janin itu memang tak ada ayahnya.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...


__ADS_2