
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Ody🌸
Dengan kesal ku coba terus menelpon nomer mama kembali. Namun tetap saja tidak diangkat telponku oleh mama. Aku penasaran apa yang terjadi di rumah saat ini. Aku hanya sempat mendengar mama berkata “perut”,,,
Kenapa dengan perut Valencia? Apa kandungannya bermasalah? Kenapa juga ia tadi meneriaki mama sekasar itu? Biasanya ia lembut pada mama.
“Selamat siang Ody.” Suara tegas yang jarang ku dengar secara live seperti sekarang ini kini terdengar menyapa di telinga.
“Se,, Selamat siang Bapak Artha.” Dengan gugup aku menjawab dan berbalik menghadap orang nomer satu dan kedudukannya paling tinggi di susunan perusahaan tempatku bekerja.
“Apa ada masalah? Wajah anda tampak sedang tidak baik.” Pria paruh baya yang sangat berpengalaman dalam bisnis itu rupanya juga sangat pengalaman membaca wajah dan ekspresiku.
“Ah tidak Bapak. Hanya sedang berusaha menelpon istri saja tapi belum dijawab.” Ucapku sedikit bohong.
“Oh ya mengenai itu. Saya minta Maaf kalau saya meminta anda datang tepat saat istri anda membutuhkan kehadiran anda. Ini hari dimana anda mengadakan syukuran untuk tujuh bulanan istri anda kan?” Tanya pria yang serba tahu itu.
“Benar Bapak. Tapi tidak mengapa. Tidak perlu merasa sungkan atau tidak enak memanggil saya kemari. Lagippula belum tentu juga saya bisa menemui anda setahun sekali.”
“Benar. Saya minta maaf sekaligus mengucapkan selamat atas kehamilan istri anda. Semoga ibu dan bayinya sehat semua. Lahiran nanti juga dimudahkan.” ujarnya kemudian dengan senyum yang sepertinya dipaksakan.
Sepertinya memang ada hal penting yang harus dibahasnya denganku. Entah ada masalah apa dalam bisnis kami sebenarnya. Ku rasa pekerjaanku sudah benar dan tidak ada kesalahan apa apa selama ini, tapi kenapa aku dipanggil kemari?
“Begini,, Putra saya akan segera menikah. Dan ini sangat mendadak. Saya bahkan belum menyiapkan segala sesuatunya tapi pernikahan ini tidak bisa ditunda lagi. Saya sudah berjanji menyerahkan semuanya kepadanya jika ia sudah menikah tapi nyatanya pernikahan ini terlalu cepat dan tanpa rencana. Dia belum siap melewati ini sendirian Ody. Kamu tau kan dia belum pernah terjun ke bisnis yang kita jalani ini. Karenanya saya meminta anda datang kesini langsung untuk menyerahkan kepercayaan besar menjadi pendamping putraku sampai dia benar benar bisa mengatasinya sendiri.” Ujarnya dengan napas berat.
__ADS_1
Tidak heran jika beliau begitu mengingat putra semata wayangnya memang tidak pernah mau membantunya mengurus perusahaan besarnya. Setauku putranya itu sangat tertutup.Tapi dari semua yang diutarakannya tadi, yang mengherankan justru kabar pernikahan putranya yang terkesan cepat dan buru buru ini.
Mungkin pernikahan ini karena adanya skandal??
Entahlah dan itu bukan urusanku. Urusan dan tugasku di sini lebih harus kupikirkan baik baik mengingat kondisi kehamilan Valencia yang sudah masuk trimester akhir. Seharusnya aku jadi suami siaga meski aku tak pernah lagi merasakan cinta ini masih miliknya.
Tapi rasanya juga tidak enak kalau harus menolak permintaan khusus dari bosku ini.
“Bagaimana Ody? Apa kamu bersedia? Apa kamu siap?” beliau kembali menanyai diriku yang masih membisu ini.
“Saya tau,, istri kamu juga butuh kamu.Tapi kalau masalahnya adalah masalah istri,,,, Kamu jangan khawatir. Istrimu bisa dibawa ke sini juga. Bahkan ibumu juga boleh ikut bersamamu. Kalian bisa tinggal di salah satu villa milik kami yang sudah saya siapkan untukmu jika kamu menyetujuinya. Jadi kalian tidak perlu tinggal berjauhan. Kamu tetap bisa memantau keadaan istri dan keluargamu sekaligus membantuku dan putraku.”
Sungguh penawaran yang lumayan fair sebenarnya untuk kutolak. Tempat tinggal yang layak, diberi kebebasan membawa keluarga, dan jangan diragukan kalau masalah gaji. Tidak memegang posisi penting seperti itu saja gajiku sudah besar apalagi sampai mau ambil kesempatan emas ini.
“Baik Bapak. Saya terima perintah Bapak ini. Jika Bapak memang yakin terhadap saya, maka saya akan sangat berusaha keras untuk tidak sampai mengecewakan Bapak.”
Itu janjiku pada beliau yang sudah banyak berbuat baik kepadaku.Selama aku sakit berbulan bulan, beliau sama sekali tidak memotong gajiku. Katanya sekalian untruk pegangan dan berobat.
“Terima kasih Ody. Memang hanya kamu yang bisa saya andalkan.” Pujinya seraya menepuk bahuku berulang kali membuat hati ini tersanjung.
Bapak Artha, pengusaha sukses di pulau Bali yang anak perusahaannya sudah beranak pinak ke seluruh kota besar di Indonesia. Sayangnya, putra semata wayangnya tidak begitu tertarik meneruskan usaha beliau.
"Pertemuan kita hari ini cukup sampai di sini saja. Kamu bisa langsung kembali ke rumah dulu sebelum acara syukuran istrimu dimulai. Yang urusan di sini, bisa kamu mulai setelah kamu selesai urusan syukuranmu. Salam untuk istri dan ibumu." Bapak Artha tersenyum dengan sangat berwibawa.
"Terima kasih Bapak. Akan saya sampaikan." jawabku sopan.
Sungguh beruntung memiliki bos sepertinya. Meski beliau sedang ada masalah juga tapi beliau tetap tidak memaksaku meninggalkan urusanku hanya demi menyelesaikan urusannya.
Ponselku berdering. Sebuah pesan masuk dari nomer mama.
"Akhirnya." seruku melihat nama mama di layar ponselku.
__ADS_1
Tak puas jika hanya saling berbalas pesan, aku memilih menelpon mama kembali. Tapi mama tak menjawabnya. Membuatku penasaran dengan pesan yang dikirim beliau tadi saja.
"Pulang dan bicaralah baik baik dengan Valencia. Batalkan saja dulu acara syukuran hari ini. Mama tidak pantas untuk bicara dengannya masalah ini. Hanya kamu yang bisa menyelesaikan masalah baru keluarga kita ini. Mama harap,,, kamu tidak gegabah dan bisa kendalikan emosimu." isi pesan mama.
Ada apa ini?? Masalah baru? Masalah apalagi?? Apa mama dan Valencia bertengkar setelah tadi Valencia membentak mama? Atau terjadi sesuatu pada kehamilan Valencia??
Sebaiknya aku segera pulang.
🌸Pov Valencia🌸
Bodohnya aku sampai lupa kunci pintu kamarku. Membuat nenek tua itu bisa leluasa masuk dan sialnya adalah saat aku tengah melepas ikatan bantal di perutku. Akibatnya aku terkejut dan bantal sudah terlanjur terlepas dan jatuh ke lantai.
"Mama tidak bisa memutuskan apa apa kecuali membatalkan acara ini Valen." ujar mama diiringi tangisannya.
"Jangan ma. Jangan dibatalkan. Biarkan saja berlangsung. Malu ma. Sudah terlanjur mengundang banyak orang." rayuku.
"Mama akan lebih malu kalau membohongi semua orang yang sudah datang dan mendoakan kamu dan bayi palsumu."
"Mereka tidak akan tau kalau mama diam ma. Ody juga akan curiga kalau mama batalkan acara ini. Please ma,,, bantu Valen. Kan sudah Valen katakan kalau semua ini Valen lakukan semua ini." aku tetap merengek pada mertuaku itu.
"Entahlah Valen. Biar Ody sendiri yang memutuskan nantinya. Mama tidak punya hak memberi keputusan dan jawaban apa pun mengenai ini." tegas mertuaku.
"Jadi mama akan tetap mengadu pada Ody???" hilang sudah kesabaranku pada wanita tua tak tau diuntung ini.Sudah bagus ku pungut dari kemiskinan malah belagu.
"Mama memang sudah memintanya pulang untuk melihat sendiri kelakuan istrinya."
Ucapan mama itu cukup membuatku berpikir keras bagaimana harus menjelaskan nanti pada Ody.
Aku harus bisa membuatnya percaya,,, Harus!!!
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,,...