
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Ody🌸
Valencia berlari dan menghilang di balik tembok. Aku yang masih menatapnya heran dikejutkan oleh pertanyaan bu Nani.
"Kalian mengenalnya??" tanya bu Nani dengan tatapan heran.
Baik aku dan mama, kami saling berpandangan seolah saling bertanya siapa yang mau jawab pertanyaan itu.
"Ng,,, anu jeng,,, dia itu,,, mmm,,, mantan menantu saya. Mantan istri putra saya ini. Ody." mama sedikit merasa kurang nyaman mengatakannya.
"Apa? Benarkah itu?" kini pandangan bu Nani terarah padaku.
"Benar tante." jawabku tanpa berniat menutupi apa pun dari masa laluku.
"Oalah,,, jadi kamu pria yang sudah membuatnya menyesal sekali telah melakukan kesalahan besar sampai sampai ia kehilangan akal sehatnya dan merasa tidak ada jalan keluar lagi." cetus bu Nani yang membuatku sedikit bingung.
Valencia?? Menyesali perbuatannya? Sampai stress?? Tidak menemukan jalan keluar?? Benarkah??
"Mari kita masuk saja. Nanti tante ceritakan di dalam. Ayo jeng."
Baik aku dan mama kembali berpandangan dan menurut saja saat si pemilik rumah mempersilahkan masuk. Aku masih heran kemana perginya Valencia tadi. Kenapa ia malah menghindar?
__ADS_1
"Silahkan." bu Nani kembali mempersilahkan kami duduk.
"Terima kasih jeng." mama mewakiliku lalu meminta Birru dari gendonganku.
Tampaknya mama ingin membuatku lebih leluasa bercakap cakap dengan bu Nani.
"Wah ini Birru yang jeng ceritakan itu ya?" bu Nani memainkan tangan Birru yang menyambutnya dengan tawa riang.
"Iya jeng. Cucuku yang kuceritakan tempo hari itu." ujar mama dengan bangga memperkenalkan Birru sebagai cucunya terlepas dari sejarah terciptanya Birru seperti apa.
"Gantengnya. Seperti ayahnya ya." puji bu Nani sambil melirikku.
"Ibunya juga cantik sekali kok Jeng. Ini malah wajahnya sebenarnya lebih dominan ibunya sekarang."
"Oh ya?? Jeng pasti sudah merasa lengkap sekali hidup jeng sekarang ya."
Bak gayung bersambut, obrolan dan basa basi emak emak mulai terjalin. Sampai lupa bahwa ada aku yang menanti sebuah penjelasan dari bu Nani seperti yang dijanjikannya tadi. Tidak adakah yang melihatku tengah gundah memikirkan Valencia yang masih bersembunyi entah di mana itu. Aku penasaran dengan cerita hidupnya selama ini setelah mendengar ucapan bu Nani tadi.
Aku menatap mama mencari persetujuan di sepasang netra itu.
"Kalau jeng Nani tidak keberatan, mungkin boleh ceritakan dulu bagaimana bisa Valencia ada bersama jeng." mama tak menjawab tatapanku tapi malah bertanya kepada bu Nani.
"Oh itu,,, iya boleh." bu Nani tampak mengatur napasnya sebelum bercerita.
"Jeng tau kan saya tidak pernah menikah. Dan tentunya saya juga tidak punya anak. Saya juga sudah lama tinggal di luar negeri. Lalu saya kembali ke sini belum lama ini demi meneruskan mengelola panti asuhan ibu saya ini."
Mama mengangguk mengerti cerita itu. Pantas saja bu Nani tidak tau siapa Valencia karena beliau memang tinggal di luar negeri. Tidak seperti teman teman mama yang lain yang pasti tau yang mana menantu mama.
"Malam itu,,, dalam perjalanan dari Bandara setibanya saya di Indonesia,,, Saya menemukan Valencia di pinggir jalan. Hendak bunuh diri lompat dari jembatan."
__ADS_1
Sampai disitu aku melongo.
Valencia,,, yang rasanya tidak pernah merasa tidak ada jalan atau kesenangan di luar sana untuknya bisa sampai di titik mau bunuh diri??? Masak sih???
"Untungnya saya berhasil membujuknya dan mengajaknya pulang bersama saya. Keadaannya sangat memprihatinkan saat itu. Baju compang camping. Tubuh kurus. Banyak luka sayatan di tangannya. Sepertinya dia sempat kecanduan obat terlarang. Ia juga mengalami pendarahan di bagian in*timnya."
Kalau yang itu aku malah tidak kaget mengingat kehidupan bebas Valencia dan dulu sebelum bersamaku juga ia sempat sampai di titik itu. Kesenangannya berganti ganti pasangan mungkin juga yang membuatnya sampai mengalami pendarahan. Tidak kebayang bagaimana kerasnya permainan mereka.
"Butuh waktu lama untuk saya bisa mengajaknya bicara. Sampai akhirnya ia mau menceritakan semua jalan hidupnya. Ia mengaku menyesal telah menyia nyiakan suami yang begitu mencintainya. Ia menyesal menghianatinya berkali kali. Ia menyesal telah mengangkat rahimnya hanya karena ia tak mau direpotkan oleh seorang anak padahal suaminya sangat menginginkan anak. Ia juga menyesal telah menyakiti hati keponakannya yang bernama Nada. Katanya seharusnya ia bisa jadi orang tua pengganti yang baik tapi ia malah menyakitinya."
Hatiku terasa perih mendengarnya,,, goresan goresan luka lama kembali menganga dan perih.
"Ia sudah berusaha mencari kalian untuk meminta maaf tapi ia kehilangan jejak kalian. Ia juga kehabisan uang hingga ia terpaksa menjajakan diri pada siapa pun yang mau membayarnya demi bisa untuk membeli sesuap nasi. Karena terkesan untuk bertahan hidup itulah membuat para pembelinya melunjak. Akhirnya ia sering mendapat berbagai perlakuan kasar dari pembelinya. Ia sering disiksa saat melayani mereka."
Tak terasa airmata di sudut mataku menetes. Wanita yang begitu ku cintai pada masanya itu rupanya pernah sangat menderita tanpaku.
"Belakangan Ia juga baru tau bahwa ia mengidap kanker rahim setelahnya. Semua itu membuat hidupnya terasa hancur. Beban moral atas perbuatan jahat dan buruknya di masa lalu sudah sangat berat untuknya lalu masih ditambah dengan beban penyakit itu. Valencia tidak kuat. Ia rapuh dan mengira semua sudah hancur. Ia memilih mati untuk mengakhiri penderitaan dan bebannya itu. Ia menusuk nusuk sendiri organ in*timnya dengan benda entah apa itu sampai berdarah darah demi ingin cepat mati. Sampai saya menemukannya malam itu. Saya juga membawanya berobat meski saya tau penyakit kanker itu susah disembuhkan. Yah tapi setidaknya bisa menekan pertumbuhan selnya."
Bu Nani berhenti sejenak mengambil napas. Ia juga memutuskan untuk minum air dulu.
"Valencia setuju ikut aku jeng. Dia menjadi anak angkatku sekarang. Aku bangga padanya yang memutuskan untuk hijrah. Mencari pengampunan Tuhan selagi masih ada usia. Sekarang waktunya lebih banyak untuk ibadah dan dihabiskan bersama anak anak panti. Katanya,,, untuk menebus kesalahannya pada mantan suaminya. Dia berharap,,, mantan suaminya kelak bisa memaafkannya jika melihatnya bisa menyayangi anak anak."
Bu Nani kembali mengambil cangkirnya sementara aku sudah tak kuat lagi menahan diri. Aku langsung bangkit dan bergegas mencari Valencia.
"Ody!!!" pekik mama tapi tak ku hiraukan, aku terlalu ingin segera menemui wanita yang begitu ku cintai pada masanya itu.
Langkah kakiku terhenti melihat pemandangan di depanku. Valencia tengah dikerumuni anak anak yang terlihat manja dan sayang padanya. Meski wajah bercadar itu tak mampu menunjukkan sebuah senyuman namun bahasa tubuhnya bisa terbaca.
Valencia terlihat keibuan,,, Ia benar benar telah berproses. Ia menunjukkan kesungguhannya mencari pengampunanMU tuhan,,,
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,,...