
...Selamat datang di karya baru author π₯°...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya π€...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Nada tersenyum begitu mendapat kabar dari Anton bahwa dirinya telah sampai di tujuan. Anton juga berterima kasih kepada Nada karena sudah memberikan keluarga yang begitu menerima dirinya dengan baik.
Ya jelaslah baik,,,apalagi tante Valen yang kasih full service ππ author emosi,,,,
"Syukurlah kalau begitu. Maafin sikap tante di awal awal tadi ya Anton. Tante emang protektif banget ke aku dari dulu." ketik Nada.
"It's okay. Udah bisa aku handle juga kok hehehe,,," balas Anton.
"Jadi kapan kita menikah? Aku bukan ngejar kamu cuman kan aku biar punya jawaban kalau ditanya sama om dan tante sewaktu waktu." Nada merasa gak enak tapi harus dipertanyakan.
"Setelah selesai kuliah kamu ya. Kan lagi setahun aja juga kan? Setahun itu gak lama kok. Aku akan sabar nungguin kamu siap jadi istriku." Anton memberikan emo kecup bertubi tubi.
"Baiklah aku setuju."
Percakapan di akhiri dengan saling berbalas emoji hati. Nada yang senyum senyum sendiri tidak sadar kalau tengah diperhatikan oleh Ody.
"Semoga kamu bahagia sayang. Semoga apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan kami tidak akan pernah terjadi padamu juga. Kamu berhak bahagia setelah semua yang sudah kamu lewati. Semoga Anton bisa jadi imam dan pelindung yang baik untukmu."
Ody berdoa setulus hati untuk keponakan rasa anak kandungnya itu. Meski dalam hati menanggung ribuan perih yang menusuk, namun Ody tidak ingin Nada melihatnya. Ody tidak ingin Nada menilai Valencia dengan buruk.
"Eh om,,,kok berdiri di situ?? Sini duduk sama aku." Nada yang sudah menyadari keberadaan Ody, melambaikan tangannya.
Ody mau tidak mau mendekatinya dengan tetap mengulas senyum bijaknya.
"Keponakan om pasti lagi bahagia banget ya." serunya kemudian.
"Hehe,,, iya om. Kami baru saja membahas kapan sebaiknya pernikahan kami dilangsungkan."
"Wah om jadi tertarik untuk mendengarkan. Rasanya masih tidak percaya anak gadis om ini akan menikah. Bagi om kamu selalu menjadi gadis kecil yang malu malu menutup mata karena om masih pakai boxer." Ody terkekeh mengingat pertama kali mereka bertemu.
"Ish itu sih om yang teledor." sungut Nada.
Ody tergelak lantas menyampaikan permohonan maafnya untuk hal yang sudah lama terjadi itu.
"Lantas kapan kalian rencananya?" Ody kembali ke topik pembicaraan.
"Setelah Nada selesai kuliah om."
Nada mengucapkannya dengan takut takut khawatir Ody akan melarangnya secepat itu menikah. Bagaimana pun, setahun lagi usianya baru mencapai angka 21.
"Nada sudah yakin?" Ody menatapnya intens.
Nada jadi gugup ditatap seperti itu.
"Mmm,,, yakin sih om. Tapi kan Nada juga butuh persetujuan om dan tante."
__ADS_1
"Hahaha,,, jangan cemas. Tantemu gak akan bisa nolak juga. Kan om sama tante dulu juga nikah muda. Tantemu malah usianya masih 20 tahun waktu itu. Mau nikah cepat atau lambat,,, yang penting itu ini. Sudah siap atau belum?" Ody menunjuk bagian tengah dadanya seolah menunjuk letak hatinya.
"Kalau ini sudah matang dan yakin,,, maju saja." lanjutnya.
Nada mengangguk angguk. Selama ini tidak ada yang membuatnya tidak yakin pada Anton. Anton pemuda yang baik, sayang dan perhatian padanya meski kadang ia harus dinomerduakan kalau sudah menyangkut pekerjaan.
Anton juga tipe setia menurut Nada. Tidak pernah Nada mendapati tingkah laku Anton yang mencurigakan. Pokoknya pemuda itu sukses menambat hatinya.
"Yakin om." jawabnya penuh dengan keyakinan.
Ody tersenyum. Mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Mendoakan semua doa doa kebaikan dalam hatinya.
Liburan sudah usai dan kini saatnya baik Nada maupun Anton untuk kembali ke kota di mana mereka biasanya menempuh pendidikan dan menyelesaikan pekerjaannya.
Semua kembali kepada rutinitas masing masing tanpa tau ada rahasia besar antara Valencia dan Anton.
Sebulan,, dua bulan,,,tiga bulan berlalu,,,
Ada yang makin mesra dan makin yakin dengan keputusannya untuk menikah,, ada juga yang rumah tangganya makin terasa hambar.
Ada yang bekerja keras demi bisa membahagiakan istrinya meski tak pernah dihargai,,,ada juga yang enak enakan ketemuan dengan istri orang tiap sebulan sekali dengan alasan pekerjaan ke luar kota. Uang yang didapatkannya dari istri orang itu dijadikan bukti bahwa ia benar benar bekerja di luar kota.
Ironi kehidupan,,,,
"Masak ah,,, Abis ini aku bawain Anton ke kantornya. Dia pasti keasyikan kerja dan lupa makan malam. Buktinya sampai jam segini pun dia belum hubungi aku sama sekali. Dasar workaholic,,,," gerutu Nada namun penuh cinta.
Kemudian ia sibuk di dapur menyulap aneka bahan menjadi sebuah masakan. Bunyi peralatan masak beradu di kontrakan kecilnya membuat ia makin tidak sabar untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi istri dan memasak untuk suami di dapur rumah kecil mereka nantinya.
Anton bilang ia sudah menabung dan menyiapkan rumah kecil untuk mereka tempati nantinya setelah mereka menikah. Namun sejauh ini Anton belum mau mengajak Nada untuk melihat rumah itu. Alasannya karena rumah itu belum selesai dikerjakan dan tidak surprise rasanya kalau sudah ditunjukkan terlebih dulu.
__ADS_1
Dan seperti biasa,,, Nada selalu percaya apa pun kata Anton tanpa mencari tau kebenarannya karena baginya memang Anton itu bisa dipercaya. Selalu bisa dipercaya,,,
Sama halnya dengan hari ini,, Anton bilang ia lembur maka Nada pun percaya. Setelah masakannya siap, ia meletakkannya di kotak nasi yang sudah disiapkannya. Setelah itu ia mandi dan bersiap diri.
Jam menunjukkan pukul 8 malam saat ia tiba di gedung tempat Anton bekerja. Gedung tampak sepi dan hanya ada seorang satpam yang berjaga.
"Pak,,," sapa Nada kepada lelaki yang sudah mengenalnya karena seringnya ia datang ke sana.
"Eh mbak Nada. Cari siapa malam malam begini? Isi bawa bawa makanan lagi. Buat saya ya?? hehehe,,," Satpam yang akrab dengan Nada main berceloteh begitu melihat kotak yang dibawa Nada.
"Kalau ini buat bapak terus Anton puasa dong pak." gurau Nada.
"Lah habisnya mbak Nada malam malam bawa kesini padahal udah gak ada orang di sini."
"Loh bukannya Anton lembur? Dia bilang lembur sama saya." kening Nada berkerut.
"Halah itu mah mas Anton pasti lagi ngerjain mbak Nada. Palingan dia udah di rumah mbak Nada sekarang bawain martabak dan terang bulan." celoteh si satpam yang tak bisa membaca raut wajah kebingungan di wajah Nada.
"Gitu ya,,," jawab Nada asal karena otaknya masih berputar.
Nada tak lagi menanggapi candaan candaan satpam itu dan memilih menelpon Anton. Tidak ada jawaban namun semenit kemudian ada pesan masuk dari Anton.
"*Ntar ya aku masih sibuk nih di kantor. Masih lembur*,,,,"
Nada kembali menoleh ke arah gedung yang sudah gelap dan menoleh ke satpam yang dengan yakin mengatakan sudah tidak ada siapa siapa. Entah kenapa hatinya mulai merasa ada yang tidak beres.
...*πΈπΈπΈπΈ*...
__ADS_1
...*bersambung*,,,,...