
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
Sepeninggalnya si mahkluk menyebalkan itu pun aku menuruti perkatannya. Menangis di kamar saja. Tidak di jalanan. Setidaknya dengan begitu, tidak akan ada mahkluk menyebalkan lainnya yang bukannya membantu malah hanya menceramahiku lagi.
Perut laparku terhapus oleh masa depan suram yang terbayang di benakku. Tanpa uang tanpa apa apa lagi dan hidup di kota besar tanpa sanak keluarga.
Huhuhu,, Bagaimana ini??
Tengah asyik meratapi nasib diri, aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku. Siapa lagi yang datang? Bukankah para tetanggaku ini tidak saling bertegur sapa? Aku juga belum kenal satu tetangga pun. Uang kos sudah kubayar, jadi tidak mungkin ibu kos yang mencariku.
Jadi siapa yang mencariku?
Tok tok tok,, Lagi lagi suara ketukan dan kali ini lebih kencang. Siapa sih?? Udah kayak debt collector aja. Gak tau aku lagi sedih apa??, gerutuku.
"Iya sebentar." pekikku sambil menghapus sisa lelehan air mata.
Klek,,, Ku putar knop pintu dan membukanya. Namun tidak ada satu pun orang di depan pintu. Hanya sebuah bungkusan yang lebih mirip kotak makanan di letakkan di meja kecil yang ada di teras kost.
Ku hampiri dan kubuka. Ternyata benar. Isinya makanan. Meski belum pernah melihat dan merasakan makanan seperti ini, tapi ini Kelihatannya menggugah selera karena cacing cacingku yang loyo tadinya, langsung demo lagi.
Aku sudah ngiler. Tapi tunggu,,, siapa yang datang membawakanku ini?? Aku pun celingukan ke kanan dan kiri mencari cari siapa tau ada salah satu tetangga yang buka pintu dan bisa ditanyai apa dia lihat siapa yang barusan datang ke kamarku. Atau bertanya mungkin mereka juga dapat kiriman yang sama.
Tidak ada satu batang hidung pun yang terlihat olehku. Semua kamar masih tertutup rapat. Sepertinya penghuninya pada betah diam di kamar.
Kalau dipikir pikir, yang tau aku sedang kelaparan cuma si mahkluk menyebalkan itu kan? Tapi mana mungkin ini dia yang kirim. Secara bicara saja sudah menyebalkan,, mana mungkin bisa berbuat baik begini??
Gak mungkin dia!! Tapi kalau bukan dia, lalu siapa??
__ADS_1
Aduh bodo amat dah,,, mending santap saja makanan di depan mata. Keburu para cacing marah dan membunuhku. Gak lucu kalau aku harus mati kelaparan. Mati keracunan makanan yang dikirim orang asing menurutku lebih masuk akal untuk saat ini hehehe,,,
Pokoknya santap!!!
Enak sekali,,, masakan dengan rempah melimpah ini membuatku tak ingin berhenti mengunyah. Perpaduan rasa yang pertama kali dikecap lidahku membuatku makin penasaran ada rasa apa selanjutnya.
"Sudah berapa hari gak makan? Sampai rakus begitu."
Suara sinis itu membuat selera makanmu memburuk seketika. Mau apa coba mahkluk ini datang lagi???
"Nih,,, Kerjaan. Biar bisa makan. Biar gak merepotkan orang lain lagi." ucapnya sambil menyodorkan setumpuk pakaian dalam sebuah kotak berukuran cukup besar.
Mataku membulat dan otakku berusaha keras menelaah apa maksudnya.
"Kalau kamu dapat pekerjaan, setidaknya kamu jadi punya bayaran. Ada uang, otomatis bisa makan. Anggap saja untuk sementara daripada kamu nganggur. Bali ini keras untuk pengangguran sepertimu."
Mahkluk itu terus nyerocos tanpa menjelaskan harus ku apakan baju baju itu. Dan aku pun hanya bisa mengerjap ngerjap saja.
"Pasti kamu gak paham!! Udah gak paham isi gak mau tanya lagi. Huh,,,!! Gak aktif banget jadi perempuan." sungutnya kesal.
Energiku kan sudah berkumpul kembali setelah makan makanan misterius tadi jadi ya sudah bisa ngomel ngomel lagi sekarang.
"Bukannya terima kasih sudah dibelikan makanan malah ngomel ngomel gak jelas. Nyesel udah keluar uang buat gadis aneh." runtuknya membuatku melongo.
"Jadi,,, Nasi itu,,, kk,, Ka,,, kamu yang beri??" ku telan ludahku dengan susah payah.
"Memangnya siapa lagi pikirmu? Begitu saja tidak bisa mikir. Begitu saja harus dijelaskan. Bodohmu itu untuk berapa keturunan sih??"
Ishh,, pemuda ini benar benar menyebalkan!!!
"Aku,,,"
"Gak usah ngomong." potongnya cepat.
"Baju ini adalah sebagian stock dari butikku. Kamu jual saja ini secara online. Nanti keuntungannya bisa kamu ambil 10% dari harganya."
__ADS_1
Mahkluk menyebalkan itu tiba tiba bicara dengan bahasa bisnis yang begitu lugas, rapi dan meyakinkan. Sosoknya langsung berubah yang tadinya menyebalkan menjadi mengagumkan. Rupanya dia ini adalah designer muda yang sudah merintis usahanya sendiri dengan membuka beberapa butik yang tersebar di beberapa titik pariwisata.
Sasaran utamanya adalah para wisatawan asing jika pakaiannya adalah dengan model terbuka. Lalu untuk yang tertutup, lebih ditujukan kepada wisatawan lokal atau dipasarkan secara online seperti yang disuruhnya kepadaku.
"Ngerti gak?? Mlongo aja dari tadi. Emang benar ya kata orang,,, Lapar bodoh, kenyang malah bego."
Mahkluk itu kembali menyebalkan!!!
"Ngerti lah. Masak begini saja gak ngerti? Percuma dong aku kuliah.",,,, meski gak sampai selesai, ku lanjutkan dalam hati.
"Ya sudah sana mulai pasarkan. Ingat ya,,, Aku gak mau anak kost disini molor bayar kost apalagi sampai menunggak. Jangan pikir uang itu gak penting. Itu bisa kuputar untuk modal bisnisku selanjutnya."
Meski kesal mendengarnya tapi aku membenarkan ucapannya. Dalam hati aku mengakui, pemuda ini benar dengan mengajari semua anak kosnya arti tanggung jawab sebagai penyewa yang sebenarnya. Hanya saja ia tak pandai merangkai kata.
Tak pandai menjaga perasaan orang lain yang mendengarnya tepatnya. Menyinggungkah? Menyakitkankah? Menyebalkankah? Sepertinya dia tidak peduli akan hal itu.
"Woi,,, malah ngelamun." gerutunya lagi dengan menggerak gerakkan tangannya di depan mataku.
"Ii,,, Iya iya aku kerja dulu."
"Sudah paham belum?? Yang kujelaskan tadi??" tanyanya sekali lagi.
"Kalau gak jelas kan bisa tanya ke kamu lagi. Itu juga sudah ada catatan tentang detail semua barang ini kan??" tanyaku balik.
"Maksudku,, Simpan nomerku!! Gak peka banget!!" Di menyodorkan selembar kartu nama bertuliskan namanya dan nomer kontaknya kemudian pergi begitu saja.
Ih dasar songong!! Bisa bisanya bilang aku gak peka!! Kamu gak tau aja saking pekanya, aku sampai memberikan yang tak pernah diminta oleh om Ody dariku. Saking pekanya,,, tidak perlu om Ody yang meminta tapi sudah kuberi.
Kamu gak tau aja,,, saking pekanya aku sampai memilih pergi demi membahagiakannya.
Aku jadi ngomel kemudian mellow mengingat nama om Ody.
Hari ini seharusnya menjadi sidang terakhirnya. Sudahkah ia bercerai? Atau dia telah kembali pada tante Valencia?? Ku harap opsi kedualah yang terjadi padanya. Agar semua yang kulakukan ini tidak sia sia. Berbahagialah bersama wanitamu om Ody,,,
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,...