I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Damai


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Ody🌸


Diperbolehkan memeluk dan menggendong Birru saja rasanya sudah sangat membahagiakan apalagi aku diakui juga sebagai ayah kandungnya. Terlepas dari segala cerita dan kesalahan satu malam itu,,, baik aku, Nada dan Dewa sepakat cukup mengingatnya sekali saja lantas tidak akan pernah membicarakannya lagi.


"Aku janji tidak akan pernah membeda bedakan kasih sayangku kepada Birru dan anak anak kami nantinya. Birru tetap menjadi anak pertama kami dan itu tidak akan pernah berubah."


Akan selalu ku pegang janji dari Dewa itu. Tidak mengapa jika dalam kehidupan ini aku diharuskan mengalah dan melepaskan Nada untuknya,,, siapa tau nanti,,, di kehidupan lain, kami akan dipertemukan.


Halu sedikit tak mengapa,,,


Mengenai hatiku?? Apa masih perlu dibahas lagi? Sakit dan perih ini masih sangat terasa tapi setiap senyum yang terukir di wajah Nada dan Birru membuat luka menganga ini mengecil dan mengering.


Mungkin Nada memang benar,,, kami berdua hanya tersesat dalam lembah cinta. Cinta yang kami sangka benar benar cinta,,, nyatanya itu mungkin hanya perasaan sayang biasa. Begitulah aku terus mensugesti diriku sendiri. Berusaha mengalihkan hati dan pikiran dari satu nama itu.


Lupakan!! Sekali lagi, mungkin Nada benar. Aku akan baik baik saja seiring waktu berjalan. Masa depan Birru jauh lebih penting untuk ku pikirkan. Bukankah selama ini,,, kehadiran putralah yang begitu ku nantikan?


Jadi fokus Ody,,, fokus saja pada Birru.


"Mana bisa begitu?? Mama bagaimana?? Kamu juga bagaimana?? Kenapa anak itu begitu egois dan tidak memikirkanmu??"


Mama protes ketika aku pulang dan menceritakan semuanya. Beliau beranggapan bahwa persetujuan damai di antara kami bertiga ini sangat merugikanku.


"Masa iya kalau kangen anak musti ditahan dulu? Masa iya kalau pingin main sama cucu juga harus ditahan dulu??" lanjut mama masih dengan protesnya.


"Lagipula,,, kamu mencintainya kan?? Kenapa tidak kamu perjuangkan??" mama terus mencecarku.


Dan aku hanya tersenyum,,,


"Benar,,, Ody mencintainya meski kini Ody juga ragu cinta yang bagaimana sebenarnya yang Ody miliki. Tapi rasanya,,, melihat dan melepasnya hidup bahagia bersama orang yang bisa dipercaya itu melegakan rasanya ma." jawabku.


"Iya tapi Birru,,,"

__ADS_1


"Birru akan baik baik saja dan kelak ia akan tetap tau siapa ayah kandungnya. Kami tidak akan pernah menutupi fakta ini darinya. Ody tidak mau ia membenciku jika Ody terus memaksakan kehendak Ody kepada ibunya, ma. Bayangkan apa jadinya Birru kalau Ody terus bersengketa dengan Dewa dan Nada?? Ody hanya tidak mau kalau Birru jadi korban. Cukup sekali dia jadi korban kesalahan kami berdua,,, jangan terulang lagi."


"Entahlah Ody,,, mama rasanya belum bisa menerima semua penjelasanmu ini." mama seolah menyerah.


"Suatu saat nanti pasti mama mengerti. Sekarang,,, yang penting mama sudah punya cucu. Senyum dulu dong,,, ucapkan selamat pada putramu ini." ku peluk mama dengan manja.


"Dasar anak manja,,," mama memukul pelan tanganku yang melingkar di tubuhnya.


"Anak siapa dulu??"


"Anak mama tentunya. Sudah dong manja manjanya. Kamu itu sudah tua. Sudah jadi ayah. Masak masih manja begini sama mama?? Gak malu sama cucu mama??" kelakar mama.


"Entahlah ma,,, Ody merasa bahagia sekali hari ini." kulepaskan pelukanku.


Mama menatapku dalam dalam. Mencari cari kebohongan atau kepura puraan dalam wajahku.


"Selamat ya nak." tetesan bening mengalir membasahi pipi yang sudah tak kencang lagi itu.


Aku tak menjawab dan hanya kembali memeluknya. Berbagi rasa dengan orang yang lebih banyak makan asam garam di dunia dan telah melahirkanku ini membuat aku merasa tak sendirian menjalani lika liku hidup.


Urusan jodoh,,, biarlah sudah kupasrahkan kepada pemilik skenario hidup. Yang penting sekarang aku hanya akan berusaha sebaik baiknya menjadi ayah Birru.


Dan untuk diriku sendiri,,, Sungguh aku tak menginginkan apa apa lagi. Semua ini sudah cukup.


#


#


#


🌸Pov Nada🌸


Berdamai dengan om Ody membuat hati ini lega. Segala beban menghimpit dada selama ini seolah hilang entah kemana. Sekarang aku bahkan merasa terlahir kembali. Bagaikan cangkir kosong yang siap untuk di isi.


"Senyum senyum sendiri. Sudah gila karena terlalu cinta sama kakak ya??"


Suara khas milik sosok yang kini makin kuat bertahta di singgasana hatiku terdengar dan membuatku menoleh. Sebuah senyum termanis ku ukir untuknya.


"Terima kasih." ucapku.

__ADS_1


"Sama sama Na. Kakak senang kalau Na terus senyum begini. Kakak janji akan selalu berusaha membuat Na tak pernah menangis. Cukup Birru saja yang suka nangis hehehe,,," candanya ketika tiba tiba suara tangis Birru terdengar.


Itu membuatku tertawa dan memukul dadanya lembut. Namun gerakanku itu malah membuat tanganku tertahan di genggamannya.


"Na,,, Terima kasih sudah memilih kakak." lirihnya sambil menatapku.


Aku tersenyum kembali namun kali ini senyumanku jadi tidak bebas karena wajah kak Dewa makin mendekat. Mendekat dan makin tak ada jarak. Aku menutup mata dan yang ku rasakan kini hanya benda kenyal yang terasa manis dan tengah benda kenyal lainnya yang memaksa masuk ke dalam bibirku.


Gerakan yang terasa mengganggu namun tanpa sadar aku membuka bibirku. Membiarkan benda tumpul itu melesak masuk dan menari nari di dalam. Mengeksplor semua yang ada didalam. Membelit,,, menyapu,,, dan melakukan apa pun sesukanya.


Hingga,,,


"Dew,,, Nada,,, kalian sedang apa sih?? Itu Birru nangis terus." suara biang di balik pintu kamar kami terdengar dan membuat kami menyudahi kegiatan kami.


Ya ampun,,, saking groginya dicium kak Dewa, aku sampai lupa diri hehehe,,,


Segera ku hampiri Birru dan kak Dewa membuka pintu kamar menyampaikan kepada biang bahwa Birru tidak apa apa. Biang tentu cemas cucu kesayangannya menangis.


Setelah biang lega mengetahui cucunya tidak apa apa,biang pun pergi. Kak Dewa menghampiriku yang sedang kesusahan hendak menyusui Birru. Gerakannya yang melawan membuatku susah menempatkannya di posisi yang benar. Beberapa kali puncak jalan asiku terlepas dari bibir mungilnya.


"Biar kakak bantu."


Pipiku bersemu merah saat tangan kak Dewa malah mulai membetulkan posisi bibir Birru. Rasanya baru kali ini memperlihatkan benda bulat kecoklatan milikku ini pada orang lain apalagi seorang pria.


Sebenarnya sudah pernah malam itu,,, tapi kondisi mabuk dan gelap tak akan membuat mata terlalu jelas melihat.


"Kapan kapan boleh kakak yang menyusu ya,,, Masak Birru terus? Kan kakak juga pingin sehat. Boleh ya,,,?"


"Bo,,, Bo,,, Boleh,,," aku tergagap dan pipiku pasti sudah seperti kepiting rebus.


"Kapan?? Nanti malam??" mata kak Dewa berbinar dan aku tak tega menolaknya.


Aku pun mengangguk mengiyakan.


"Yeessss,,,, Minum obat kuat dulu deh ntar ya biar bisa sepuluh ronde."


Astaga kak Dewaaaa,, malunyaaaa aku diajak bicara seperti itu,,,


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,,...


__ADS_2