
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
"Nak,,, tolong kerjasamanya ya. Jangan terlalu manja sama ayah Dewa. Ibu makin merasa tidak enak jadinya sama ayah Dewa. Ibu belum bisa melakukan apa apa untuknya."
Ku elus perut buncitku saat merasa mulai badmood lagi di keesokan paginya. Aku tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi apalagi kalau harus menahan kak Dewa di kasur ini seharian seperti kemarin pagi.
Malu,,,
Aku sungguh malu karena bawaan bayi iji yang ku rasa sudah terlalu manja padanya seperti kemarin. Karenanya, pagi ini ku minta anak ini bekerjasama. Biarkan ibunya ini setidaknya bisa melakukan satu hal saja untuk ayah Dewanya.
Ku lihat kak Dewa masih meringkuk di sofanya. Malam kedua kebersamaan kami, ia masih saja tidur di sofa itu. Dan itu sebenarnya membuatku makin merasa berdosa kepadanya. Aku merasa sudah menorehkan kepedihan dalam hatinya.
Status saja suami,,, tapi belum pernah mendapat haknya sebagai suami.
Aku tau betul bahwa semua ini salah tapi alangkah sulitnya tawar menawar dengan hati. Ada keinginan untuk menyerahkan diri kepadanya selaku pemilik sahku, tapi sebagian jiwa menolak karena merasa ada pemilik lain nun jauh di sana.
Itulah permasalahan terbesarku.
"Bantu ibu ya nak. Ibu tidak ingin terus menerus menyiksa ayah Dewa.Kamu juga pasti tidak mau kan kalau ayah Dewa bersedih? Kalau memang ibu belum siap untuk yang lebih intim, maka setidaknya mari kita membantunya menyiapkan pakaiannya atau sarapan untuknya."
Sebuah tendangan kecil kurasakan lalu moodku membaik seketika. Tidak ada drama drama pagi lagi. Aku bahkan merasa segar bugar.
Syukurlah,,, bayiku mau diajak kerjasama. Mungkin dia juga menginginkan agar ayah Dewanya merasakan bahagia. Ku manfaatkan keadaan ini untuk segera membuka lemari baju kak Dewa. Dengan gerakan pelan saja tentunya agar tak menimbulkan suara yang bisa membuat kak Dewa terbangun.
__ADS_1
Ku lihat ia sangat lelap meski hanya di sofa. Pasti ia capek sekali. Kemarin seharian menemaniku dengan kegiatan tidak jelas di kamar. Tentu membuatnya bosan sebenarnya tapi tak ia ungkapkan. Kemudian malam juga menemaniku begadang karena anak ini terus saja bergerak membuatku tidak bisa tidur.
Sebenarnya kalau di pikir pikir,,, beruntungnya aku mendapatkan suami seperti kak Dewa. Lelaki siaga yang siap berkorban jiwa dan raga. Dimana lagi bisa dapat lelaki seperti ini? Kurang apa coba?
Aku tersenyum menemukan warna pakaian yang sesuai dengan moodku hari ini. Biru langit. Sejak hamil entah kenapa aku suka warna biru. Bahkan aku punya niatan akan memberi nama anakku kelak dengan sisipan kata biru.
Ku ambil sehelai kemeja lengkap beserta celana panjang dan jas serta dasi berwana senada namun sedikit lebih gelap agar menunjukkan keberadaannya. Hari ini suamiku itu akan pergi ke kantor untuk pertama kalinya. Siapa tau, kemeja pilihanku ini bisa menjadi mood boosternya.
Tanganku lantas beralih ke rak yang berisikan pakaian dalamnya. Pipiku bersemu merah karena pertama kali melihat dan harus memilihkan penutup bawahnya.
Kurasa,,, Dia tidak terlalu besar tubuhnya tapi heran saja kenapa ukuran penutup bawahnya tidak kecil? Apa itunya besar??
Hussstt,,, husssttt,, ini pikiran kotor kenapa pagi pagi sudah menyapa??? Tidak tau malu sekali.
"Na,,, Na sedang apa?" tanya kak Dewa yang rupanya sudah bangun.
Suara kak Dewa itu refleks membuatku menjatuhkan barang pribadinya itu hingga jatuh ke lantai saking terkejutnya. Seperti maling ketangkap basah. Dan sialnya perut besar ini tidak memungkinkanku untuk mengambilnya sendiri. Bisa tapi susah.
"Biar kakak yang ambil." serunya sambil melompat cepat.
"Maaf kak. Na lancang. Na cuma ingin bantu menyiapkan baju kerja kakak." jujur aku gugup dan malu setengah mati.
Rasanya ingin berlari saja dari sana lalu menenggelamkan diri di palung terdalam agar tak melihat wajahnya lagi yang senyum senyum simpul.
"Wah terima kasih Na. Tapi sebenarnya Na tidak perlu repot repot begini. Kakak bisa ambil sendiri. Na lebih baik istirahat saja ya." ujarnya.
"Na sudah seharian kemarin beristirahat. Hari ini biarkan Na yang menyiapkan keperluan kakak ya. Bagaimana pun juga,,, Na ingin jadi istri yang baik untuk kakak walau,,,," ku hentikan ucapanku ketika suara ini mulai bergetar.
"Terima kasih." kak Dewa langsung memelukku sejenak lalu memandangku lekat lekat.
"Jangan terlalu dipaksakan Na. Pelan pelan saja. Kakak gak kemana mana kok. Akan selalu ada di sisimu dan menunggumu sampai kamu siap." ujar kak Dewa kemudian.
__ADS_1
Aku mengangguk dan tertunduk. Kak Dewa mengangkat daguku dan tatapan kami saling mengunci untuk beberapa detik. Ku pejamkan mata ini ketika ku rasa wajah kak Dewa makin mendekati wajahku. Bisa kurasakan napas kak Dewa makin menderu.
Lelaki ini,,,meski baru bangun,,, belum mandi,,, tapi tubuhnya tetap wangi.
Bibir kami sudah sangat dekat. Bahkan sudah bisa kurasakan sedikit sentuhan mengambang. Hingga akhirnya,,, terdengar suara ketukan di pintu kamar kami. Sontak membuatku tersadar akan apa yang terjadi. Aku mundur beberapa langkah.
Tidak kak,, Jangan dulu. Ini masih terlalu cepat untuk Na,,,
"Dewwww,,, Kamu sudah bangun?? Ingat ini hari pertamamu kerja di kantor Ajik lho. Jangan sampai telat. Kamu tau kan Ajik gak suka sama yang telat telat." Rupanya itu suara biang Dayu yang mengingatkan kak Dewa saja.
"Oke biang. Ini sudah bangun kok. Udah mau mandi juga." sahut kak Dewa dari dalam sambil tetap menatapku yang mulai merasa tidak nyaman dengan apa yang hampir terjadi barusan.
"Biang tunggu di meja makan. Minta Nada sarapan bersama kita juga kalau moodnya membaik ya." seru biang Dayu.
"I,,, iya biang. Nada akan segera turun." sahutku cepat agar aku tak terus salah tingkah ditatap intens oleh kak Dewa terus menerus.
Suara biang Dayu sudah tak terdengar lagi setelahnya. Kak Dewa masih saja menatapku lalu mendekat.
"Maafkan kakak ya Na. Kakak janji,,, kejadian seperti tadi tidak akan terulang lagi. Kakak akan lebih menahan diri. Kakak minta maaf." kak Dewa menangkupkan sepuluh jarinya rapat rapat di depan wajahnya.
Ia membuatku meringis dalam hati.Bagaimana bisa ia meminta maaf sedang apa yang dilakukannya tadi sama sekali tidak salah. Justru akulah yang salah karena akulah yang menciptakan jarak di antara kami.
"Kakak mandi dulu ya. Na tunggu kakak. Nanti kita turun barengan. Kakak gak mau Na turun tangga sendiri. Keselamatan Na dan anak kita adalah tanggung jawab kakak. Na mengerti kan?"
Aku hanya bisa mengangguk. Mendapatkan segala perhatian dan kebaikan bertubi tubi dari kak Dewa. Netraku berkaca kaca ketika ia mendudukkanku di sofa tempatnya tidur untuk menunggunya.
"Na,,, Maaf ya. Kakak benar benar menyesal sudah membuat Na sedih pagi ini."
Lagi,,, lelaki di depanku yang tidak salah sama sekali, malah meminta maaf kepadaku yang sudah banyak salah kepadanya ini.
Tuhan,,, Jika ada yang harus mendapat hukuman dariMU,,,maka itu adalah aku. Aku adalah istri tidak tau diri dan durhaka kepada suami.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...