
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Author🌸
"Ody,,, Kamu kenal menantu saya?" pertanyaan berbau menyelidik itu membuat Ody segera menguasai dirinya.
"Nada keponakan saya, bapak." jawab Ody sopan.
"Bagus kalau begitu. Ayo Nad,, turun sini. Kita makan bersama. Ini adalah kebetulan yang sangat bagus." seruan ajik Artha membuat kedua insan yang masih sama sama menahan diri jadi makin kikuk.
"Sebelumnya memang hanya om ku,,, Tapi sekarang, ia juga ayah dari bayiku." batin Nada.
Nada susah payah menelan salivanya. Rasa lapar yang semula menghantui dirinya kini sudah menguap entah kemana. Ingin rasanya kabur lagi dari Ody. Ia tak ingin bergabung ke meja itu namun ia juga tak kuasa untuk menolak seruan mertuanya itu karena walau dalam hati terdapat rindu yang menggebu pada diri lelaki yang selalu dipikirkannya selama ini,,, tapi rindu itu kini tak hanya sekedar rindu saja melainkan dibumbui oleh ketakutan jika lelaki itu menyadari kehamilannya.
"Ayo Na. Kita bergabung dengan mereka." Dewa berucap lembut dan menggandeng tangan Nada untuk turun.
Tatapan mata Ody tak bisa lepas dari tubuh Na. Guratan kekecewaan memenuhi netra dan hatinya. Tak hanya kecewa karena menemukan gadis kecil yang kini menjadi ratu di hatinya di saat yang tidak tepat,,, melainkan juga kecewa menyayangkan apa yang sudah menimpa gadis kecilnya itu.
"Nada."
Ody tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk gadis kecilnya itu begitu tubuhnya telah begitu dekat. Begitu pula Nada yang tak kuasa untuk menolak. Ingin rasanya membalas pelukan hangat itu namun sadar diri bahwa mereka berada di waktu yang tidak tepat.
Ada hati yang harus dijaga dan perasaan yang harus di hormati.
"Om Ody,,," ucapan lirih lebih ke mengingatkan keberadaan mereka saat ini yang terucap dari bibir Nada.
__ADS_1
"Maaf. Saya sudah lama sekali tidak bertemu dengan keponakan saya ini. Jadi kaget saja bisa bertemu di sini." Ody tersadar dan melepaskan pelukannya.
"Tidak apa apa om. Untuk ke depannya kalian bisa lebih sering bertemu." ujar Dewa yang sempat ikut terharu melihat keduanya.
"Terima kasih atas ijinnya." jawab Ody.
"Santai om. Om sekarang bukan hanya seniorku melainkan juga om ku lho. Jadi jangan killer killer banget ya hehehe,,," canda Dewa.
Dewa sangat senang. Ia pikir, ada benarnya ucapan Ody itu karena ia tau selama ini Nada memang sebatang kara. Tidak ada sanak saudara datang berkunjung. Terlepas dari siapa sebenarnya Ody,,, Dewa senang istrinya akhirnya menemukan keluarganya.
Jika Dewa senang akan hal itu, maka tidak dengan Nada. Susah payah pergi menjauh demi bisa menghindari Ody, mereka malah dipertemukan di sini. Dalam kondisi seperti ini. Bagaimana ke depannya nanti?
Acara makan malam tetap berlanjut meski ada dua perut yang tak lagi selera. Nada hanya diam meski sesekali mencuri pandang kepada Ody. Ia rindu wajah itu tapi tetap tau diri dan posisi.
Begitu pula dengan Ody,,, Meski seribu tanya terselip di hati, tapi ia tau ini bukan situasi yang memungkinkannya untuk mendapat semua jawabnya.
Untungnya, baik ajik Artha maupun Dewa sangat pandai mencairkan suasana. Setelah tau bahwa Ody adalah om dari menantunya, ajik Artha malah mempersilahkan Ody dan mamanya untuk tinggal bersama mereka saja.
"Kenapa om? Kan malah bagus kalau kita tinggal bersama dan jadi satu keluarga." desak Dewa membuat Nada makin merasa sesak nafas.
Ia ingin mencegah suaminya itu namun berpikir keras dengan alasan apa?
"Saya tidak enak. Saya sudah banyak mendapat fasilitas dari bapak Artha. Tidak enak rasanya kalau masih harus mengganggu di rumahnya." jelas Ody.
"Tapi saya malah sangat tidak keberatan. Menantu saya sebentar lagi akan melahirkan. Akan sangat bagus jika ada keluarga yang mendampingi. Bukan begitu Nad?"
Kini semua mata tertuju pada Nada. Tubuhnya jadi panas dingin. Degup jantungnya makin tak beraturan. Napasnya sesak. Pandangannya mulai nanar dan detik berikutnya,,, tubuh Nada melemas dan luruh bersanggakan tangan kekar Dewa.
"Na,,, Na kenapa??" Dewa mengguncang guncang tubuhnya namun Nada tak merespon.
"Dew,,, Jangan diam saja!! Cepat bawa ke rumah sakit sekarang!!!" pekik biang Dayu.
__ADS_1
Teriakan itu membuat semua panik dibuatnya. Dewa dengan sigap membopong tubuh istrinya dan tidak memberi peluang untuk siapa pun membantunya. Ody memaksa membantu meski hanya membuka pintu mobil dan memilih menjadi sopirnya.
"Na,,, Bangun sayang. Maafkan kakak. Semestinya kakak tidak memaksamu ikut makan malam. Kamu sudah pucat sedari tadi sayang. Kamu pasti sudah sangat memaksakan diri tadi." Dewa yang menyangga tubuh Nada di kursi bagian tengah kini menangis.
"Apa dia sering seperti ini?" tanya Ody cemas.
"Mood dan kondisinya memang sering berubah ubah sejak kehamilannya memasuki trimester ketiga. Tapi sebelumnya tidak pernah sampai pingsan begini." sahut Dewa dengan suara parau khas orang menangis.
"Bisa tolong dipercepat om? Aku tidak ingin terjadi apa apa pada anak dan istriku." pintanya kemudian dan dijawab hanya dengan anggukan kepala Ody.
Mobil melaju makin cepat seolah tak mempedulikan ada mobil lain yang mengikuti mereka. Ajik Artha dan biang Dayu, menggunakan mobil satunya menyusul ke rumah sakit.
"Ajik pelan pelan. Biang ngeri." seru biang Dayu.
"Ajik malah lebih ngeri kalau terjadi apa apa dengan menantu dan calon cucu kita biang. Bisa biang bayangkan bagaimana kondisi psikis Dewa setelahnya? Putra kita baru saja mereguk manisnya cinta." setengah menahan tangis ajik Artha mengatakannya.
"Jangan diteruskan Jik." biang Dayu yang sudah mengerti arah bicara suaminya itu menangis duluan.
Rasa trauma yang pernah ada saat beberapa tahun silam mengantar Dewa menuju rumah sakit mau tidak mau membuat otak mereka otomatis Membayangkan yang tidak tidak.
"Biang jangan nangis." suara ajik Artha pun bergetar.
"Maaf jik. Kita doakan saja semoga kejadiannya tidak terulang lagi. Semoga putra kita diberi kesempatan lebih lama hidup dengan istri dan calon anaknya." meski sedih tapi sudah jadi kewajiban orang tua tetap mendoakan yang terbaik bagi anaknya.
Setibanya di rumah sakit, Nada langsung dibawa ke UGD dan ditangani oleh dokter jaga. Ajik Artha yang rupanya adalah pemilik rumah sakit itu meminta diberikan dokter dan pelayanan terbaik untuk menantu dan calon bayinya.
Ody tersandar di dinding rumah sakit menyaksikan semua bentuk perhatian yang diberikan oleh keluarga Dewa untuk Nada. Dalam hati ia bersyukur karena gadis kecilnya itu mendapatkan jodoh dan keluarga baru yang menyayanginya melebihi dirinya.
Namun sisi lain hati yang terlanjur mencintai Nada,,, menangis dan terluka. Sungguh cinta ini begitu terlambat datangnya dan kenapa mesti bertemu kembali di saat yang tidak tepat??
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,,...