I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Cincin Berkilau


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


"Sini deh sayang."


Aku ngikut saja saat om Ody menarik tanganku dan membawaku duduk di kursi. Om Ody mendudukkanku di kursi itu kemudian dia sendiri malah setengah berdiri dan bertumpu dengan kedua lututnya di lantai. Aku heran melihatnya begitu. Kemudian ku lihat dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


Sebuah kotak kecil berpita dengan warna biru muda. Om Ody membukanya di depanku dengan senyum yang pasti sebenarnya adalah tangisnya itu.


"Lihat sayang. Bagus gak??"


Om Ody mengeluarkan sebuah benda kecil berkilau yang membuat mataku membulat. Sebuah cincin berlian yang cukup besar itu menyilaukan mataku. Mata perempuan hehehe,,, Tapi kemudian mataku ini pun sadar bahwa benda berkilau itu bukan untukku.


"Bagus kok om." jawabku.


"Tapi om gak yakin ini pas di jari tante. Boleh gak om cobain di jari kamu sayang? Sepertinya jarimu sama ukurannya dengan jari tante." pinta om Ody.


Aku mengangguk tanpa pikir panjang lagi. Ku ulurkan tangan kananku dengan meluruskan jari jariku. Siap dipasangi cincin itu.


Om Ody menyentuh tanganku dan bersiap dengan cincin itu di jarinya namun om Ody malah tak segera memakaikan cincin itu. Ku lihat dahinya berkerut. Kemudian ia menatapku intens. Aku jadi panik ditatap seperti itu.


Mata itu kenapa begitu tajam,,, Wajah itu kenapa begitu tampan,,,


"Sayang di mana cincinmu?" pertanyaan itu membuyarkan segala fantasiku.


"Eh,, A,,, apa om?? Cin,, cincin?? Mmm cincin apa ya??" aku malah jadi bego kan hmmm,,,,


"Loh ya cincin pertunanganmu dengan Anton dong sayang. Kenapa tidak dipakai?"


Yaahhh,,, Nama si kardus merusak suasana saja.

__ADS_1


Pakai dipertanyakan segala di situasi seperti ini. Om Ody lagi yang tanya. Kan aku jadi harus berpikir untuk menjawabnya. Aku gak mau buat om Ody yang lagi terpukul itu makin terpukul kalau tau masalahku dengan si kardus.


"Mmm,,, se,, sepertinya ketinggalan di kamar mandi tadi saat Nada lepas om. Bi,,, bi,,, biasanya Nada emang melepasnya pas ke kamar mandi." akhirnya jawaban itu meluncur dari bibirku.


"Oh gitu. Lain kali jangan begini lagi sayang. Ini masih untung om yang lihat kamu gak pakai. Coba bayangin kalau Anton yang lihat. Dia pasti akan kecewa dan mungkin berpikir kamu tidak menginginkannya lagi. Jaga perasaannya dengan tidak mengabaikan apa pun tentangnya ya sayang. Meskipun hanya hal kecil."


Aku tertegun mendengarnya. Meski dalam hatiku menyangkal ucapan tentang si kardus akan kecewa melihatku tak memakai cincin pertunangan kami karena cincin itu justru sudah ku lempar ke muka si kardus. Si kardus pasti paham kenapa aku melakukannya karenanya ia sama sekali tak menghubungiku.


Padahal ponselku tidak ku matikan. Aktif 24 jam tapi sama sekali tidak ada pesan masuk maupun panggilan dari si kardus. Bukan mengharap dicari atau dihubungi,,, tapi ini hanya penjelasan tentang bagaimana sikap si kardus dalam masalah kami.


Dia tidak kecewa kok om,,, dia mungkin malah senang karena akhirnya aku yang tidak pernah mau memuaskannya ini sudah pergi. Dia jadi bebas mau main sama wanita mana pun semaunya,,,,


Kembali ke ucapan om Ody tadi. Aku tertegun mendengarnya karena sebegitunya om Ody memikirkan dan menempatkan perasaan pasangannya di urutan pertama. Tapi lihatlah tante Valencia,,, hmmm hatiku kembali perih mengingatnya.


"Tante beruntung sekali punya suami seperti om." kalimat itu tanpa sadar terucap dari bibirku.


Kali ini om Ody yang tertegun namun lelaki itu lebih pandai dan cepat menguasai dirinya kembali. Ia tersenyum lalu kembali meraih jari jemariku.


Dengan sepenuh hati disematkannya cincin berlian itu di jariku.


"Wah,,, pas ternyata sayang. Semoga tante menyukainya ya."


Lagi lagi kalimat om Ody menghempaskan aku kembali ke dunia ini. Menyadarkanku bahwa cincin itu bukan untukku. Aku menarik dua ujung bibirku untuk bisa tersenyum walau terpaksa. Demi menyenangkan hati om Ody. Ia begitu bersemangat ingin memberikan semua kejutan ini untuk tante Valencia.


Hmmm apakah tante Valencia nanti juga akan meleleh sepertiku,,


"Boleh om lepas sayang? Disimpan lagi di kotaknya ya. Keburu tante datang nanti malah gak jadi surprise deh hehehe,,," kata om Ody.


Aku hanya mengangguk mengiyakannya. Kubiarkan saja om Ody melepas cincin itu lalu memasukkannya kembali ke kotak mungil berpita itu. Om Ody lalu berdiri.


"Om mau cek apa kue buatan om udah mateng. Kamu bisa bantu om menyiapkan semua makanan di meja sayang?" tanyanya setengah meminta tolong.


"Bisa om. Tapi nanti setelah itu Nada pamit keluar ya om."


"Mau kemana sayang?? Gak ikut makan sama om dan tante??"


"Ya nggak usah dong om. Nanti ada aku malah acara romantis romantisan kalian keganggu. Aku mendingan makan di luar aja malam ini ya." tolakku dengan harapan acara mereka malam ini akan membuat hubungan mereka membaik.

__ADS_1


Aku memilih untuk menyingkir dan memberikan mereka keleluasaan untuk menyelesaikan konflik mereka.


"Gak apa apa Nada makan di luar?" wajah om Ody terlihat tidak tega padaku.


"Gak apa apa om. Tenang saja. Nada udah biasa kok cari makan sendiri di luar. Nada kan udah biasa tinggal di luar kota sendiri." jawabku meyakinkannya.


Om Ody tersenyum lalu mengusap usap puncak kepalaku dengan lembut.


"Om lupa kalau gadis kecil om ini udah gak kecil lagi. Udah gede. Udah mau nikah juga beberapa minggu lagi." ucapnya kemudian.


Aku berusaha tersenyum hanya untuk tidak membuatnya curiga bahwa aku tidak akan secepat itu menikah.


"Ya sudah. Kalau begitu tolong bantu om sebentar ya sebelum kamu pergi sayang." tangan om Ody beralih ke pipiku.


Dia mengusapnya lembut sekali bahkan aku tak pernah merasakan kelembutan yang serupa dari Anton selama ia juga pernah melakukan hal yang sama.


Hei Nada,, ya jelas beda lah. Ini kan kelembutan dari seorang ayah yang tulus mencintai putrinya. Bukan dari seorang pacar yang diam diam sudah mengkhianati gadisnya,,,,


"Ayo om."


Harus kuhentikan semua ini. Aku tidak boleh terlalu larut dalam sikap om Ody. Aku takut aku jadi salah paham. Aku takut melampaui batasan.


Kusibukkan diriku membantunya menyiapkan semua kejutan untuk tante Valencia meski kadang kami saling tersenyum ketika tak sengaja mata kami berdua beradu pandang.


"Selesai,,," om Ody tampak puas.


"Terima kasih ya sayang. Ya sudah sana siap siap dulu kalau mau pergi." lanjutnya kemudian mengingatkan rencanaku untuk pergi cari makan di luar.


"Semoga sukses ya om acaranya. Semoga ini semua bikin tante makin cinta sama om." tulus doa itu ku ucapkan namun aku terkejut dengan reaksi yang diberikan om Ody.


Dalam sekejab tiba tiba saja aku sudah berada dalam pelukan eratnya. Ku rasakan tubuh om Ody bergetar.


Menangiskah ia,,,???


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,,...

__ADS_1


__ADS_2