
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Author🌸
"Lucunyaaaa,,, Hidungnya lihat deh jik,,, mirip Dewa ya." biang Dayu mencubit cubit hidung Ajik Artha saking gemasnya melihat bayi mungil yang belum bisa mereka sentuh itu.
Bayi Nada harus masuk inkubator dulu karena kelahiran prematurnya. Sedikit butuh perawatan intensif dulu.
"Aduh biang,,, sakit lho. Gemas sama cucu kok ajik yang jadi sasaran." sungut ajik Artha.
"Hehehe,,, Ya maaf deh. Habisnya biang udah gak sabar pingin gendong sih."
"Nah kalau gitu boleh tuh biang gendong ajik dulu." kelakar ajik Artha.
"Ogah!! Berat tau. Perut ajik aja itu udah dua puluh kilo." tunjuk biang Dayu ke perut ajik Artha yang membuncit karena usia.
"Yang bikin ajik gembrot gini juga siapa hayooo,,, Kan biang juga yang buat. Suka buatin ajik masakan enak enak. Suka bahagiakan ajik dengan canda tawa biang juga hayooo,,," goda ajik Artha.
"Gombal ih,,," biang Dayu tersipu malu dan mencubit kecil pinggang ajik Artha.
"Syukurlah kita sekarang punya cucu ya biang. Ajik tidak perlu ketar ketir lagi memikirkan penerus keluarga kita. Perusahaan juga akan ada yang urus. Ajik akan cantumkan nama cucu kita sebagai penerima warisan yang memang khusus sudah ajik siapkan untuk cucu kita kelak." ujar ajik Artha sembari merangkul pundak sang istri.
"Iya jik. Biang nurut saja. Urusan itu ajik lebih paham bagaimana baiknya. Kalau biang, selama ajik bahagia, Dewa bahagia, istri dan anaknya juga bahagia,,, maka biang juga otomatis ikut bahagia." biang Dayu menyandarkan kepalanya di lengan ajik Artha dan melingkarkan tangannya ke pinggang ajik Artha.
Dewa tersenyum melihat kedua sosok panutan yang tengah saling merangkul dan memandangi makhluk mungil itu dari balik kaca ruang inkubator.
"Ganteng kan? Kayak Dewa." serunya mengejutkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Bikin kaget saja kamu ini." sungut biang Dayu yang paling tidak bisa dikejutkan.
"Dewa ganggu biang mesra mesraan sama ajik ya??" goda Dewa.
"Kamu itu udah jadi ayah masih suka godain biang. Nanti kalau putramu ikut ikutan sepertimu bagaimana?" biang Dayu memukul lembut lengan putranya.
"Hehehe,,, ya gak apa apa juga sih. Kan buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya biang." sahut Dewa masih suka menggoda biang Dayu.
Biang Dayu mendelik saja mendengarnya. Lalu protes kepada suaminya. "Anakmu tuh jik."
"Anakmu juga biang." sahut ajik Artha enteng.
"Kalian yaaaa sekongkol terus godain biang." biang Dayu memberengut lalu senyumnya merekah ketika dua pria tampan beda generasi itu lalu berebut memeluk dirinya.
"Biang,,, Terima kasih sudah mau menerima Nada dan bayinya ya. Ajik juga,,, terima kasih ya." ujar Dewa di sela acara pelukan itu.
"Kami yang berterima kasih kepadamu karena sudah membawakan kami menantu dan cucu tampan. Biang janji tidak akan pernah mengungkit kebenaran tentang bayi itu. Dia putramu. Cucu biang." tegas biang Dayu.
"Sudah kamu pikirkan nama untuk cucu kami Dew?" tanya ajik Artha setelah mereka saling melepaskan diri.
"Baiklah. Memang begitu sebaiknya. Tapi sebagai keluarga yang memang menyangga kasta, ajik mohon kamu beri pengertian kepada istrinya bahwa anak itu akan tetap menyandang nama Dewa Bagus di depannya. Setelah itu terserah kalian ingin memberi tambahan nama apa." ujar ajik Artha mengingatkan tentang kasta mereka.
"Kalau masalah itu, Dewa yakin Nada tidak akan berkeberatan jik." Dewa yakin.
Ajik Artha mengangguk mengiyakan lantas kembali ketiganya berpuas diri memandangi makhluk mungil berparas tampan itu.
Sementara ketiga orang itu tengah takjub pada ciptaan Tuhan,,, maka ada Nada dan Ody di sebuah ruangan tengah saling terpaku diam. Tak tau harus mulai pembicaraan dari mana. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan namun tak sepatah kata pun terucap.
"Nada,,, Se,,, Sel,, Selamat atas kelahiran pu,,, put,,, putra,,, putramu,,," susah payah Ody menyelesaikan perkataannya itu.
"Te,, Terima kasih Om." Nada juga tak kalah susahnya bicara.
Keduanya kembali diam. Suasana jadi hening kembali. Nada terdiam kembali di ranjang pasien, Ody tertunduk di kursi sebelah ranjang itu.
__ADS_1
"Om apa kabar? Tante juga apa kabar?" akhirnya setelah sekian lama saling diam lagi, Nada mampu membuka pembicaraan.
"Tante,,, Dan om sudah bercerai Nada."
"Apa?"
"Ya. Om minta maaf karena om tidak bisa menahan diri lagi. Om minta maaf karena om tidak bisa memaafkan apa yang sudah diperbuat tantemu selama ini." Ody tertunduk dengan suara parau, bukan karena menyesali perceraiannya melainkan merasa bersalah telah membuat Nada pasti kecewa mengetahuinya.
Nada tak sanggup menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah. Ia tak lagi menahannya. Membiarkan saja wajah pucatnya berurai airmata. Ia tak menangisi perceraian itu, melainkan menangisi nasib diri dan bayinya yang malah jatuh ke tangan Dewa sedangkan ayah bayi itu sendiri sudah bukan pria beristri lagi.
Dulu Nada memilih pergi karena tak ingin menghancurkan rumah tangga om dan tantenya. Tapi ternyata rumah tangga itu telah hancur.
"Maafkan om, sayang. Om sudah berusaha memaafkan tante. Tapi om tetaplah manusia biasa yang punya batas kesabaran. Maaf telah membuatmu kecewa sayang." Ody kembali tertunduk menyalahkan diri.
Hatinya terluka melihat gadis tercinta menangis.
"Sejak kapan om bercerai? Apa tante selingkuh lagi?" tanyanya memberanikan diri karena diam diam terselip rasa bersalah dalam diri, rasa takut Ody mengingat kejadian malam itu dan menjadikannya sebagai alasan untuknya menceraikan Valencia.
"Tantemu pernah berubah tapi ternyata itu hanya sandiwara. Yang itu masih tetap bisa om maafkan. Tapi ketika om tau fakta bahwa tantemu,,," Ody diam, tak enak hati mengatakan keburukan Valencia kepada keponakan yang dulunya selalu menyanjungnya.
"Tante berbuat apa lagi om? Katakan saja pada Nada. Tidak apa apa." lirih Nada.
"Tante,,, Tante diam diam sengaja melakukan operasi angkat rahim sejak awal pernikahan kami. Tante juga meminta dokter yang menangani om selama ini berkata bohong. Om tidak mandul. Om sehat. Tapi tante merakayasa semuanya dan menjadikan ini sebagai kelemahan om. Agar tante tidak pernah disalahkan."
Diam. Ody diam. Sedangkan Nada tetap menangis sesengukan. Sakit rasanya mendengar keburukan seorang yang pernah sangat dikasihi tapi meski itu keluarga terdekat sekalipun, sekali salah ya salah. Tidak boleh dibenarkan.
"Nada,,, Om minta maaf untuk kejadian malam itu. Maaf kalau perbuatan om malam itu memberikan efek buruk kepadamu. Maaf telah membuatmu marah hingga pergi dari om. Tapi sekarang om sudah menemukanmu,,, Om ingin kita mulai lagi semua dari awal. Om ingin kita bersama sama lagi. Ijinkan om memperbaiki semuanya."
Deg!!
Tangis Nada terhenti seketika saat jantungnya mulai berpacu. Rasa takut mulai menghantui dirinya. Ia takut Ody akan membahas lebih jauh dan menanyakan tentang bayinya.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,...