
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
Ku tahan langkah ajik yang ingin mengikutiku masuk ke ruang inap istriku. Ajik mengerutkan keningnya karena heran namun aku memberi beliau isyarat untuk diam. Untungnya beliau menurut saja meski beliau masih keheranan melihatku menempelkan telinga di pintu kamar inap istriku sendiri.
"Katakan pada om,,, Siapa ayah Birru??!!"
Aku bisa dengar jelas pertanyaan dari Om Ody, seniorku yang merangkap sebagai om nya istriku juga. Suasana di dalam sepertinya hening. Tak ada jawaban dari istriku, menandakan ia sedang dalam posisi terancam. Aku terlalu tau kebiasaan istriku itu.
Ku dengar kembali om Ody mengulang pertanyaannya.
"Nada, jawab om sayang. Apa Birru itu anak,,,"
"Iya om. Tentu saja Birru itu anak kami om. Anak saya dan Na. Kami sudah menikah. Om tau itu. Om juga hadir dalam pernikahan kami. Jadi Birru adalah anak kami." aku langsung masuk dan menyela sebelum kata kata lain yang mungkin akan menyakiti perasaan Na terlontar dari bibir om Ody.
Aku memang belum tau siapa ayah Birru sebenarnya tapi aku juga tak ingin tau. Bagiku,,, ayah Birru itu ya aku.
Om Ody diam. Beliau tampak tak puas dengan jawabanku. Bisa kulihat jari jemarinya menggenggam erat seolah menahan amarah. Antara ingin membantah namun segan pada bos mudanya ini.
Kalau begini rupanya posisi dan jabatan bisa berguna juga hehehe,,,
Aku berjalan menghampiri Nada yang pucat pasi. Kuberi sentuhan lembut di puncak kepala istriku itu. Rasanya tidak tega melihatnya seperti ini. Rasa ingin melindungi dirinya ini sangat besar.
"Kakak sudah urus bagian administrasi. Nanti akan segera dicetak surat keterangan lahir Birru. Anak kita." ujarku sembari tetap mengusap lembut kepalanya.
Kata "Anak kita" juga sangat kutekankan dengan intonasi yang lebih dalam. Aku ingin siapa pun yang masih ingin bertanya siapa ayah Birru agar berhenti mempertanyakannya.
__ADS_1
"Ii,,, iya kak." Na masih saja gugup. Wajahnya masih memucat.
Sebenarnya aku bukan tidak sadar akan perubahan sikapnya itu sejak kehadiran om Ody. Sejak mereka bertemu, Na begitu terlihat shock sampai pingsan,,, Na jadi gugup gugupan,,, Na bahkan diinterogasi om Ody tentang siapa ayah bayinya,,,
Om Ody juga terlihat memendam sesuatu,,, Tatapan matanya kepada Na terasa lain. Bukan sekedar tatapan seorang om kepada keponakannya. Semua itu membuatku sampai pada satu kesimpulan dan dugaan.
Mungkinkah om Ody adalah ayah biologis Birru?? Tapi bukankah om Ody hanya om nya Nada?? Mana mungkin mereka terlibat cinta? Atau mungkin,,, Om Ody lah yang memperkosa Na hingga menyebabkan Na hamil??
Tidak!!
Aku tidak boleh hanya menduga duga begini. Aku takut salah dan malah menimbulkan fitnah. Lebih baik aku mencari tau sendiri. Hal ini tentu sangat perlu juga untuk ku bahas bersama Na suatu saat nanti. Aku juga ingin tau, jika dugaanku itu benar,,,lalu apa rencana Na selanjutnya.
Apakah ia akan memilih meninggalkanku dan merajut masa depannya dan Birru bersama ayah kandungny? Atau ia akan bertahan denganku? Kurasa,,, opsi kedua sangatlah tipis harapannya mengingat sikap Na yang masih menjaga jarak denganku.
Tapi untuk sementara, sebelum ada ketegasan dan pernyataan apa pun dari Na,,, bagiku Birru adalah putra kami. Dan itu sudah diakui secara hukum.
"Kapan Na boleh pulang kak?" Na memecah kesunyian di antara kami bertiga.
"Istirahat saja dulu di sini sampai Na benar benar sembuh. Abaikan dulu hal hal lain. Yang penting adalah kesehatan Na. Kalau Na sehat, Birru juga akan mendapat dampak baiknya. Na bisa segera memberikan ASI eksklusif untuk Birru." ujarku mengingatkan Na bahwa saat ini, Birru lah prioritas kami.
"Oh ya om,,, Om bisa pulang dulu kalau om mau. Siapa tau om mau bawa mama om ke sini. Mama om mungkin senang melihat Na sudah melahirkan." aku yang belum tau menahu seluk beluk keluarga Na hanya berkata demikian demi mengusirnya secara halus.
"Nada,,, Om pulang dulu kalau begitu. Nanti om kembali ke sini lagi sama mama. Mama pasti senang melihat Birru." ucap om Ody dengan suara parau dan hanya disambut anggukan kepala Na.
"Saya pamit dulu." om Ody mendadak formal kepadaku.
"Om ini bukan jam kantor. Biasa saja sikapnya." ujarku mengingatkan perjanjian kami sembari tersenyum.
"Om pulang dulu." sebuah senyum getir menghiasi wajah yang kurasa tak pandai berbohong itu.
Kini ganti tatapan mata Na yang sulit ku artikan. Sebuah tatapan sendu mengiringi langkah kaki Om Ody keluar dari ruangan ini. Tatapan kehilangan,,, Lega,, Sedih,,, entahlah. Aku bukan ahli telepati atau pakar pembaca gerak tubuh manusia.
"Na,,," panggilan lirihku membuatnya terkejut seperti seorang yang tengah melamun dan disadarkan.
__ADS_1
"Mm,,, Maaf kak."
"Na gak apa apa? Na makin pucat saja."
"Kak,,, Na boleh bicara sama kakak?"
"Tidak boleh!! Na sudah waktunya istirahat. Mata Na cekung,,, Na pucat,,, Na kelelahan. Jadi jangan bicara apa apa lagi." ujarku tegas.
Kurapikan selimutnya. Ku bantu memposisikan ranjangnya ke mode rebahan. bekas operasi di perutnya masih belum memungkinkan Na bergerak bebas.
"Kak,,, Birru itu adalah anak,,,"
"Anak kita." potongku cepat.
"Kak,,, Apa kakak tidak ingin tau kebenarannya?" tanyanya sambil berurai airmata.
"Lebih baik tidak daripada saat kakak mempertanyakannya, kakak hanya akan melihat airmata seperti ini." ku hapus airmata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.
"Tapi kak,,,"
"Birru anak kita. Dan itu adalah faktanya. Dewa Bagus Putu Maharadja Al Birru adalah putra sulung kita. Tak peduli darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya,, yang jelas selama ibunya tidak mengungkit apa pun tentangnya,,,maka selamanya Birru adalah anak kita."
Na terdiam dan terisak. Ini cukup meyakinkan tebakanku bahwa seniorku itulah ayah biologisnya Birru. Aku terluka. Sungguh terluka mengetahuinya meski belum dengan gamblang Na mengakuinya. Aku selalu memotong ucapannya karena aku belum siap menerima keputusannya.
Jujur dalam hati tak ingin kehilangan Na dan Birru. Baru saja kami berstatus suami istri,,, tidak mungkin aku melepasnya. Bukan masalah apa kata orang melainkan aku tak suka membagi apa yang sudah jadi milikku.
Apa aku egosi?? Salahkah aku jika aku menghalangi seorang anak berkumpul dengan ayah kandungnya??
Ku genggam tangan lemah Na. Ku usap usap punggung tangannya.
"Tidur ya sayang. Pikirkan Birru. Dia butuh asimu. Kalau Na terus memikirkan hal lain,,, kakak takut itu mengganggu produksi Asi. Jangan korbankan Birru. Jangan korbankan anak kita."
Untuk saat ini, Itu saja pintaku,Na,,,,
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...