I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Menangis Di Pelukan Abang


__ADS_3

Selamat datang di karya baru author 🥰


Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗


Selamat membaca sayang sayangku


❤️❤️❤️


🌸Pov Martin🌸


Nada,,, Gadis itu memang menarik hatiku untuk mendapatkan dan menjadikannya salah satu gebetanku awalnya, tapi semua cerita hidupnya dan kesehariannya yang tak banyak ku tau malah membuatku merasakan perasaan lainnya.


Bukan cinta,,, Bukan ingin memiliki,,, Bukan ingin mempermainkan,,, Melainkan ingin melindungi. Terutama sejak aku tau bahwa sahabatku, Dewa,,, juga menaruh hati padanya.


Apalah aku ini dibandingkan dengan Dewa? Keluarga dengan kasta tinggi,,, Terhormat,,, Terpandang,,, dan jangan lupa satu hal, meski usianya sebaya denganku tapi pemuda satu itu sudah kesuksesannya beratus ratus langkah di depanku. Dia sudah punya bisnis sendiri sedangkan aku??? Ah lupakan,,, Gak ada bagus bagusnya dibahas hehehe,,,


Lagipula,,, apa salahnya mengalah demi sahabatku yang satu itu? Aku tau,,, hatinya begitu terpukul, hancur bahkan terpuruk sejak meninggalnya calon istrinya, Maharani. Lima tahun lebih sahabatku itu menutup hatinya. Dan kini,,, ketika Nada berhasil mengusik hatinya, bukankah pastinya aku senang dan bahagia? Sabahatku kembali bisa merasakan cinta di hatinya.


Hatiku makin merasa rela ketika suatu saat Dewa sahabatku dengan lantang mengatakan bahwa bayi yang dikandung oleh Nada itu adalah bayinya. Di depan ibunya,di depanku,di depan semua orang ia mengakui bayi yang rupanya bukan bayinya.


Kurang gentle apa lagi coba sahabatku itu? Kurang buta bagaimana lagi cintanya kepada Nada? Kurang menerima bagaimana ia dengan aib yang menimpa Nada?


Sayangnya,,, Gadis manis yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri itu malah menolak. Aku tidak menyalahkannya karena yang ia lakukan itu juga semata mata demi kebaikan Dewa. Ia tak mau menyeret Dewa ke dalam masalah hidupnya.


Tapi tetap saja,,,Kalau badan sudah mengandung setitik nyawa,,, maka nyawa tak bersalah itu juga harus tetap dipikirkan segala urusannya ke depannya. Karenanya,,,di sinilah aku berada saat ini.

__ADS_1


Membujuknya,,,


"Nad,,, abang tau maksud lo baik. Tapi lo juga perlu tau bahwa maksud Dewa juga baik." ucapku sore itu sambil membantunya mempacking pesanan baju baju.


"Bang, Nada gak mau memisahkan anak dengan keluarganya hanya demi menyelamatkan anak Nada. Abang dengar sendiri kan kemarin bagaimana reaksi bu Dayu mendengarnya?"


Aku manggut manggut mengiyakan ucapan Nada yang memang tetap tak ada salahnya juga itu.


"Lagipula, Dewa punya Maharani kan? Nama gadis yang dicintainya itu. Memisahkan mereka juga aku gak mau bang. Biarlah anak ini jadi tanggunganku sendiri. Ini hasil dari perbuatanku. Tidak semestinya aku melimpahkan segala urusan ke depannya kepada Dewa. Apalagi sampai ada konsekuensi buruk karenanya. Tidak bang,,, aku bukan manusia egois yang mementingkan kebaikanku sendiri." tegasnya lagi.


"Maharani itu sudah meninggal Nad. Jadi tidak perlu merasa merebut Dewa darinya. Justru kalau kamu menolak Dewa, malah akan membuat jiwa Maharani tersiksa di sana. Dia tidak akan bahagia bila melihat Dewa yang tak pernah membuka hati kepada wanita mana pun selain kamu."


Ku lihat Nada menghentikan kegiatannya. Ia menatapku dan mendengarkanku kali ini. Sepertinya ia tertarik pada pembahasan tentang siapa itu Maharani. Kesempatan ini tentu ku jadikan untuk menjelaskan panjang lebar semuanya.


"Jadi begitu,,, Makanya, abang menyarankan kamu menerima uluran tangan Dewa. Niatnya baik. Bukan semata mata karena ia masih terbawa perasaan pada Maharani semata melainkan semua ini dilakukannya,,,,Demi anakmu."


"Abang tau kamu akan bilang bahwa kamu akan baik baik saja tanpa Dewa berstatus sebagai suamimu. Tapi kamu harus,,, dan harus,,, selalu harus ingat!!! Anak ini butuh status. Dia tidak hanya butuh kasih sayang dan perlindunganmu saja. Ia butuh status Nad!! Dan status itu hanya bisa ia dapatkan andaikan ibunya ini,,, yaitu kamu,,, mau mengalah."


Ku lihat Nada menunduk. Menangis mungkin,,,,


"Seandainya saja ibunya ini mau terbuka mengatakan kepadaku saja,,, tentang siapa ayah bayi ini, abang ini tidak akan memaksamu menerima Dewa. Tapi abang akan paksa lelaki pengecut itu untuk bertanggung jawab. Sayangnya kamu malah lebih memilih untuk melindunginya daripada memperjuangkan status anakmu."


Aku kecewa,,, sungguh aku kecewa pada Nada urusan ini. Sebegitu cintanya ia pada ayah bayinya hingga ia tak mau mengusiknya lagi. Ia melindunginya dengan sangat baik sampai ia lupa bahwa yang harus di lindungi itu adalah bayinya,,, bukan lelakinya!!!


Nada terisak kini. Biarlah,,, biar ia menangis atau sakit hati mendengar ocehanku ini. Asalkan setelahnya nanti, siapa tau hati dan pikirannya itu mau terbuka. Mau memikirkan anaknya.

__ADS_1


"Baiklah,, abang tak akan pernah menyinggung lagi siapa ayah bayimu ini. Abang anggap lelaki itu sudah mati. Tapi abang meminta padamu untuk memikirkan nyawa kecil tak berdosa ini. Setidaknya jangan biarkan dia terlahir tanpa dekapan seorang ayah. Biarkan ia lahir dengan status yang jelas. Biarkan ia tumbuh dan berbaur dengan teman temannya kelak tanpa harus merasa dikucilkan karena ia akan mendapat sebutan anak haram."


"Cukup bang,,, jangan katakan anakku ini anak haram." Nada makin terisak pilu.


"Lalu apa sebutan yang cocok untuknya kelak kalau kamu masih saja gak mau mengalah begini?? Anak gak jelas?? Anak ajaib??" desakku setengah melucu jadinya saking kesalnya pada pendiriannya yang kurasa benar benar egois itu.


Nada makin terisak dan tergugu oleh perkataanku.


"Abang terpaksa mengatakan semua ini biar mata kamu terbuka Nada, adikku sayang. Seandainya bisa, abang akan maju menjadi ayahnya. Tapi hati abang terlanjur menganggapnya sebagai keponakan. Tak bisa abang ubah lagi. Karenanya saat Dewa maju,,, abang harap kamu mau mempertimbangkannya."


"Dan abang tegaskan padamu,,, Sekali lagi,,, Demi calon keponakanku. Jangan sisakan hukuman dan cacian buah dari perbuatan tercelamu ini untuk anakmu Nad. Dia tidak berdosa. Siapkan kebahagiaan untuknya,,, bukan tangisan."


Sampai di situ aku berhenti berbicara. Dada ini mendadak sesak. Memikirkan nasib dari adik angkat dan calon keponakanku ini membuatku tak bisa menahan tangis. Akhirnya,,, untuk pertama kalinya,,, playboy ini menangis.


"Abang menyayangi kalian Nad. Abang ingin kalian mendapatkan yang terbaik. Dan abang yakin, Dewa adalah yang paling baik dari yang terbaik."


Ku raih kepala yang masih tetap tertunduk dan tergugu itu lalu ku bawa ke pelukanku. Dalam pelukanku, ku biarkan ia menumpahkan segala kesedihan dan ketakutannya yang ia pendam selama ini.


Aku tau,,, dalam diamnya selama ini tentu Nada juga takut dan cemas akan kelangsungan hidupnya dan bayinya.


"Abang tau dan yakin bahwa Dewa pemuda yang baik. Kamu pun sebenarnya juga gadis yang baik. Hanya saja takdir mempertemukan kalian dalam kondisi tidak baik baik saja. Terimalah,,, pilihan Tuhan tak pernah salah Nada sayang."


Ucapan terakhirku itu membuatnya makin menenggelamkan wajahnya di dadaku.


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,,...


__ADS_2