I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Iya


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


Awalnya memang sangat sulit untukku menerima semua ini. Kehamilan yang diluar dugaan, belum lagi imbas dari kehamilan itu sendiri. Semua di luar ekspektasiku.


Ingin menyalahkan tapi siapa mau kusalahkan? Aku mana tau kalau ternyata dengan semalam bersama Om Ody membuatku hamil. Kenapa aku bisa hamil? Sementara tante Valencia yang sudah bertahun tahun bersamanya kenapa malah belum pernah hamil?


Semua itu tak bisa ku dapat jawabannya tak sepatutnya sudah tak perlu kupertanyakan lagi karena saat ini ada hal yang lebih penting.


Bayiku,,,


Kupandangi sosok didepanku lekat lekat. Ia yang berwajah teduh yang telah menawarkan dirinya untuk berstatus sebagai suami dan ayah dari bayiku.


"Jangan khawatir. Aku akan menganggapnya anakku sendiri. Aku mencintai ibunya sejak pertama kali aku bertemu. Cinta tanpa syarat dan tanpa keinginan untuk tau latar belakang ibunya. Aku mencintai ibunya dan segala sesuatu tentang ibunya sejak awal. Tak terkecuali bayi ini." Dewa mengarahkan pandangannya ke arah perut buncitku.


Aku tertunduk. Menangisi perkataannya. Sekaligus nasib diri ini. Menangisi setiap detik kebersamaan kami mulai dari pertama kali aku bertemu dan mengenalnya. Menangisi sikapnya yang selama ini seolah ia suka mengerjaiku, namun siapa sangka ada cinta yang begitu besar untukku.


Sementara aku?? Perasaan apa yang ku punya selama ini untuknya?? Tidak ada,,, Sama sekali tidak ada rasa apa apa. Hati ini sudah terlanjur ku kunci rapat dan kuncinya sudah kubuang entah kemana.


"Jangan merasa bersalah seandainya kamu tak punya cinta untukku. Karena cintaku sudah cukup untuk kita bertiga nantinya. Akan ku bahagiakan kalian berdua dengan cintaku. Bahkan jangan pikirkan masalah tugas istri. Aku tidak akan menuntutmu untuk itu. Aku melakukan semua ini demi bayimu. Bukan demi aku. Jadi aku tak menuntut apa apa darimu."


Sekali lagi airmata ini jatuh berderai tanpa bisa dikendalikan.


Kenapa aku begitu egois?? Jika Dewa yang bukan siapa siapa bayi ini saja bisa mengorbankan diri dan hatinya, kenapa aku sebagai ibunya malah hanya sibuk memikirkan hatiku yang sudah sekali tertambat pada ayahnya? Tidak bisakah aku berbuat adil untuk bayiku ini??

__ADS_1


"Berikan jawabanmu kalau kamu sudah merasa lebih baik. Ajik dan Biang ingin bertemu denganmu juga seandainya jawabanmu adalah iya. Sekarang, aku pamit dulu. Terima kasih sudah mau duduk dan mendengarkan bicaraku. Maaf telah membuat airmatamu tertumpah kembali."


Sepuluh jari yang ditautkannya di depan dadanya sempat kulihat dengan mata nanar penuh airmata. Dan kini ku tatap punggungnya yang berjalan semakin menjauh.


Tuhan,,, aku harus bagaimana? Aku harus jawab apa? Jawab iya sama saja dengan membunuhnya perlahan. Dewa akan menderita jika aku menjawab iya. Dan jika aku jawab tidak,, maka sekali lagi aku telah berbuat buruk dan lagi lagi bayi ini yang akan menanggung akibatnya.


"Abang tau dan yakin bahwa Dewa pemuda yang baik. Kamu pun sebenarnya juga gadis yang baik. Hanya saja takdir mempertemukan kalian dalam kondisi tidak baik baik saja. Terimalah,,, pilihan Tuhan tak pernah salah Nada sayang." Sejenak terlintas perkataan bang Martin itu di kepalaku.


Benarkah Dewa jodoh sekaligus takdir yang telah dipilihkan dan ditentukan Yang Maha Kuasa untukku??


Sore itu aku melamun,,, Sudah tiga hari berlalu sejak Dewa mendatangiku.


Bayangan wajah om Ody kembali menari nari di kepalaku. Berusaha keras ku usir karena aku tak mau lagi hati ini kembali berharap. Meski aku memang tidak akan pernah bisa menyangkal dan melupakan siapa ayah bayiku.


"Iya."


Aku menoleh ke sumber suara. Tampak bang Martin mendekat dengan membawa beberapa barang belanjaan titipanku tadi.


"Iya apa bang?" tanyaku.


"Egois gak sih bang kalau aku jawab iya? Bukannya itu hanya baik bagiku? Sedangkan bagi Dewa,,, ini bencana."


"Itu kan menurutmu. Menurutnya,,, lain lagi. Dia akan bahagia bila kamu menerimanya. Syukur syukur kalau kelak kamu juga mau belajar membuka hatimu untuknya." ucapan bang Martin membuatku merasa makin bersalah karena sepertinya aku tak akan pernah bisa melakukannya.


"Tapi keluarganya,,,,"


"Sudah setuju. Ajik Artha dan Biang Dayu,,, sudah membuka tangan lebar menyambutmu begitu kamu jawab iya." meyakinkan sekali ucapan bang Martin.


"Abang tau dari mana?" selidikku.


"Ajik Artha sendiri yang meminta abang mengatakannya kepadamu. Beliau bilang,,, beliau senang karena putra kesayangannya itu akhirnya kembali menemukan cintanya. Dapat bonus cucu pula kalau kamu benar benar menerima tawaran Dewa. Anak kamu ini kan laki laki,,, kalau sesuai hasil USG. Dan ajik Artha merasa ini anugerah. Punya satu pewaris yang sempat mati hati dan jiwanya membuat beliau ketar ketir. Nah kalau sekarang dapat bonus pewaris juga,,, beliau sangat bahagia."

__ADS_1


"Itu kan hanya ajik. Lalu bu Dayu,," sanggahku belum selesai namun sudah dipotong lagi oleh bang Martin.


"Bu Dayu itu ibu yang sudah sangat terluka dengan terpuruknya Dewa beberapa tahun ini. Kemarin mungkin beliau bersikap anti kepadamu. Tapi itu hanya karena beliau masih kaget saja. Beliau tadi juga bilang kalau menyesali perkataannya kemarin." bang Martin begitu santai mengatakannya.


"Tapi kenapa mereka berdua malah ngomongnya sama abang? Bukan sama aku?" protesku lagi.


"Karena mereka taunya kamu adik abang. Mereka belum enak hati kalau langsung menemuimu sebelum kamu memberi jawaban. Mereka tak ingin kamu berpikir bahwa mereka mendesakmu. Mereka memberimu ruang dan waktu untuk berpikir."


Bijak,,, Sungguh keluarga yang bijak bukan? Padahal aku yang butuh mereka, tapi malah mereka yang menjaga sikap. Bukankah sangat keterlaluan dan gak tau diuntung kalau aku masih saja menolak niat baik sekumpulan orang dengan tata krama dan kelapangan hati menerima serta ikut menangggung aib bersamaku ini??


"Kamu berhak menentukan bahagiamu. Dan kalau memang kamu gak bisa dapat bahagiamu dari ayah bayi ini, maka carilah sendiri bahagiamu dan masa depan bayi ini. Sudah cukup bagimu menanggung ini sendiri. Terimalah bahu yang menawarkanmu untuk bersandar. Setidaknya bahu itu akan memberimu kekuatan untuk menerima semua takdir hidupmu."


Sekali lagi ucapan bang Martin itu benar. Sudah saatnya aku bangkit dari keterpurukan meski caranya terkesan mengorbankan salah satu pihak awalnya. Tapi aku akan mencoba dan berusaha mengalahkan hatiku sendiri. Aku akan belajar membalas semua kebaikan Dewa dan keluarganya.


"Baiklah bang,, Nada mau."


"Mau apa?? Mau tidur?? Mau makan??" serunya malah ngelawak.


"Abaaaanggg!!!"


"Lah ngomong yang jelas makanya. Ayo bilang. Mau apa??" desaknya.


"Mau belajar jadi istri Dewa." tegasku dengan suara lantang.


"Tuh,,, udah dengar sendiri kan lo??" ucapan bang Martin dan tatapan matanya yang bukan menatapku membuatku mengikuti arah tatapan itu.


Dan di sana,,, Dewa berdiri dan tersenyum,,, Bahagia. Senyum terindah yang baru kali ini ku lihat menghiasi wajahnya. Wajahnya jadi terlihat sangat tampan.


"Terima kasih Nada. Begini saja aku sudah senang. Jangan terlalu dipaksakan. Pelan pelan saja." ucapnya lembut.


Awas saja bang Martin nanti,,, dia sudah sengaja membuatku malu di depan Dewa. Sejak kapan dia tau kalau Dewa sudah berdiri di sana? Dan kenapa malah diam saja gak memberitahuku sih??

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...


__ADS_2