
Bella POV
Aku terbangun di pagi hari dengan menatap wajah tampan suami ku yang hampir 7 tahun ini membuat ku jatuh bangun, meski begitu aku tak pernah bisa tak mencintainya. Aku mencintainya sungguh walau awalnya aku tak bisa menerima perasaan ini namun akhirnya aku melabuhkan hati ku kembali pada nya.
" Morning .. " Bram mengerjap ketika mataku intens menatapnya.
" Morning Bram "
" Kamu lihatin aku dari tadi ya ? Aku bangun bukan karena udah pagi tapi aku bangun karena dari tadi ngerasain nafas kamu yang anget di wajah aku " Bram terkekeh membuat pipi ku seketika memerah.
Sial aku ketahuan memperhatikannya.
" Bram .. You know what ? I think I fallin in love with you in the morning "
" Why ? "
" Karena tiap aku buka mata dan lihat kamu, aku ngerasa matahari aku terbit, hidup aku bercahaya. " Aku meraba wajah Bram yang dalam 7 tahun ini tak kulihat perubahan berarti.
" Aku pengen bales kata kata kamu tapi jujur aku speechless. Aku ngerasa mimpi "
" Yes and your dreams come true .. " Aku berkaca menatapnya.
__ADS_1
Entah mungkin karena hormon ibu hamil atau karena terlalu bahagia, aku merasa haru mengisi seluruh hatiku menjalar hingga ke mata ku yang tak bisa membendung air mata, air mata bahagia. Aku mengeratkan pelukanku padanya lalu mulai terisak dalam dekapannya. Mungkin kini Bram terheran karena aku tiba tiba saja menangis.
Mohon maafkan Bram, beginilah ibu hamil
" Kamu kenapa Bel ? Bahagia tapi nangis sampe sesenggukan .. " Bram mengangkat wajahku lalu mengusap air mata yang berjatuhan.
" Aku bersyukur banget bisa balik sama kamu, kamu tau beratnya tahun tahun ke belakang ? " Aku mulai menceritakan banyak hal pada Bram.
" Aku harus ikhlasin kamu dapet cinta sejati kamu, aku lepasin anak anak demi pendidikan aku, aku stay di negara orang yang aku gak terpikir sebelumnya bisa nyampe sana, aku terpisah sama anak anak, aku benci sama keadaan tapi aku gak bisa benci sama kamu. " Ucapku sambil terisak.
" Dan yang membuat semua lebih berat adalah kenyataan aku harus ngejalanin semua nya tanpa kamu " Lanjutku.
Aku melihat kedua mata itu berair, sekelilingnya mulai kemerahan. Jika tebakan ku benar, Bram saat ini sama sepertiku tadi yang menahan air mata. Teduh dan sendu yang dapat kulihat dari sorot mata Bram.
" Aku gak tau kamu semenderita itu, tapi aku juga sedikitnya tau bagaimana rasanya. Aku menderita saat kamu pergi, hati ku kosong Bel sekalipun ada Violine di sisi ku. Kalau boleh jujur, saat kita berlibur bersama itu adalah momen terakhir yang ingin aku lakukan bersama kamu dan anak anak, aku memutuskan akan pergi dan tak berniat kembali. Aku mendaftar menjadi relawan medis ke luar negeri untuk di tempatkan di wilayah konflik. Kamu tau alasannya ? " Aku kaget dan menggelengkan kepalaku seketika.
" Aku hampa Bel aku menyerah pada hidup, aku berharap kematian menjemputku, setidaknya aku menjadi manusia yang berguna jika mati di medan perang. Saat itu aku tak lagi memikirkan masa depan seperti apa karena kehidupan itu sendiri aku tak lagi mendambakannya. "
" Bram .. " Aku mencengkram lengannya, sungguh tak terpikirkan oleh ku se frustasi itu Bram akan hubungan kami, akan hidupnya. Aku menolaknya bertahun, aku mencibirnya dengan kata kata tajam, aku memperlakukannya dengan kasar tanpa aku tau dia pun menderita seorang diri.
" Banyak kolega memusuhiku karena aku terlibat skandal, sahabat sahabatku menjauh, kamu pergi ke luar negeri, bahkan daddy mencopot jabatanku. Di rumah sakit aku di cibir, tak ada yang begitu menghormatiku selain hanya untuk menjilatku. Di kampus pun begitu, aku di perlakukan seperti penjahat Bel. " Keluh Bram dengan air mata yang mulai jatuh di sudut matanya.
__ADS_1
" Lalu tiba tiba saja malam itu terjadi, dan bayi kecil ini tumbuh di rahim mu. Awalnya aku khawatir kamu menolakku dan melenyapkan dia. Namun dengan lapang dada kamu kembali, sejak itu dunia ku mulai bercahaya lagi Bel. Dalam hubungan kita kamu lah matahari yang sebenarnya. " Lanjut Bram sambil mengusap perutku lembut.
" Mungkin Allah datangkan dia untuk menyelamatkan ku Bel. Allah juga melunakkan hati kamu untuk menerimaku, seandainya yang terjadi sebaliknya mungkin aku sudah tak disini. " Aku kini menutup bibir Bram dengan bibir ku, aku tak mau lagi mendengarkan kata kata yang menyakitkan ini. Sungguh ini lebih menyakitkan daripada saat aku mengetahui kebenaran ada wanita lain di antara kami.
Aku melepaskan pangutanku lalu tersedu di pundak kekar Bram.
" Seberantakan apapun kamu, aku mohon jangan pernah berpikir lagi untuk menyerah. Sekalipun aku gak ada, kamu punya anak anak. Dan aku pun gak bisa ngebesarin anak anak tanpa kamu Bram. "
" Kita seperti sepasang kaki yang menopang satu tubuh, jika salah satu patah maka yang lainnya akan pincang. Saat kaki kita pincang bahkan tubuh kita dengan tertatih harus menyeretnya dalam luka teramat sangat. Begitulah aku dan anak anak tanpa kamu Bram "
" Terimakasih telah membuat aku merasa sangat berarti dan di cintai Bel .. " Bram membalas pelukanku dengan hangat sambil mengusap punggungku, menjalarkan rasa hangat yang mampu menenangkan ku saat ini.
Beberapa saat air mata ku pun berhenti, perasaan ku sudah jauh lebih baik berkat sentuhan lembut Bram. Sudah lama semenjak kami bisa berbicara lama seperti ini, akhirnya kami mengungkapkan perasaan satu sama lain, kami meluapkan sampah yang menumpuk dalam hati kami, yang membebani hidup kami lebih dari yang dapat kami topang.
Melihatku yang sudah tenang Bram meminta ijin untuk mandi lebih dulu yang langsung ku iyakan. Bram bangkit dari ranjang kami, mengambil handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Suasana menjadi hening saat tak ada Bram disisiku, lalu aku mulai membayangkan bagaimana jika perkataan dan niat awal Bram itu terjadi. Bram pergi ke wilayah konflik, Bram kehilangan nyawanya lalu kembali menjadi hanya tinggal mayat dengan kenyataan bahwa dirinya memilih mati di medan perang karena menyerah akan diriku dan kehidupannya.
Aku bergidik ngeri dan hanya bisa menangis membayangkan tanganku menyentuh tubuh kaku nya lalu aku menyesal seumur hidup karena ikut menorehkan luka dan menghancurkan hidupnya.
" Ya Tuhan ini sakit, tolong jaga dia jangan ambil dia secepat itu. Biarkan kami bahagia dan bersama melihat anak anak kami tumbuh bahkan jika Kau memberi kesempatan kami bisa menua dengan anak cucu kami kelak. " Batinku berdo'a.
Di balik kesalahan yang kami lakukan ternyata ada hikmah besar di dalamnya. Di balik keputusan ku yang awalnya begitu berat dan menyakitkan ternyata aku baru saja menyelamatkan pria yang aku cintai, anak anak kami bahkan diri ku sendiri.
__ADS_1