Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Dua Testpack !


__ADS_3

Semalaman Bram menemani Bella di ruang IGD, Bella tidak dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya pun membaik hanya perlu istirahat. Bella terbangun dari tidurnya tepat pukul 2 malam, Bella merasakan ingin buang air kecil.


" Bram .. " Bella menggoyangkan tubuh Bram perlahan. Bram tertidur dalam posisi duduk di samping Bella.


" Hmm ? Kamu perlu sesuatu ? " Tanya Bram dengan suara serak.


" Maaf ganggu, aku pengen pipis Bram bisa tolong anter ? Sama Bram aku bisa minta testpack ? " Bisik Bella.


" Jam segini ? Serius ? " Tanya Bram malas.


" Aku gak tenang, please ya ? "


" Okay tunggu bentar .. " Bram bangkit dari duduknya lalu berlalu entah kemana yang pasti Bram akan mendapatkan barang yang Bella inginkan.


Jeda 5 menit Bram kembali dengan testpack dan gelas kecil untuk menampung urine. Benar benar sangat pengertian.


" Ayo, pegangan sama aku " Ajak Bram.


" Kemana dok ? Mau saya bantu ? " Tanya seorang perawat saat melihat Bram membopong tubuh Bella ke arah toilet.


" Gak usah gak papa .. "


" Mau ke toilet dok ? Tapi kan toilet wanita ? " Tanya lagi perawat yang lain.


" Saya cuman tunggu di depan. Lagian dia mantan istri saya, mau saya temenin di dalem juga saya udah hapal banget bentuknya haha aww " Kekeh Bram yang langsung meringis mendapat cubitan di pinggangnya.


" Maaf ya ? Dia kalo lagi gak tugas emang kurang waras " Bella tersenyum kuda.


Bram dan Bella pun terus berjalan menuju toilet, seperti yang Bram ucapkan, Bram menunggu Bella di depan toilet dengan sabar meski sesekali matanya tertutup karena ngantuk berat.


" Oh jadi itu mantan istrinya dokter Bram ? Gila aku baru tau dokter Bram duren .. " Ucap seorang perawat.


" Kemana aja kamu ? Aku udah tau, tapi baru tau kalo dokter Bella mantan istrinya. Spesial banget ya anak koass di perhatiin sama dokter sekaligus presdir rumah sakit ini. " Sarkas perawat lain yang iri.


" Iya, pasti masuk lewat jalur dalam deh "


Andai Bram tau dirinya memiliki banyak fans fanatik mungkin Bram tak akan berani mengungkap identitas Bella. Dengan terbongkar identitas Bella menjadikan Bella kini pusat perhatian dan tempat pelampiasan mereka yang iri dan dengki, mulai dari hal terkecil yaitu hujatan dan bullyan yang pasti akan Bella dapatkan.


Bella menatap testpack yang di genggamnya, Bram membawakan dua testpack agar Bella yakin. Tangan Bella bergetar, matanya berkaca begitu melihat hasil testpack nya positif.

__ADS_1


Aku benar benar sial ! Apa yang harus aku lakukan ?


" Bella cepat ! Apa kamu tidur di dalam ? " Teriak Bram dari luar.


" Iya bentar .. " Bella segera menghapus air matanya lalu beranjak ke luar membawa kedua testpacknya.


" Udah ? Gimana ? " Tanya Bram penasaran.


Bella tak menjawab hanya saja dari ekspresi wajahnya yang memerah dan bibirnya yang mengerucut Bram tau bahwa hasilnya tak sesuai dengan yang di harapkan. Bram segera merangkul Bella mengeratkan genggamannya di pundak Bella.


" Tak apa, kita akan cari jalan keluarnya oke ? Ayo kamu harus istirahat. " Bram kembali memapah langkah Bella.


Sesampainya di ranjang Bram merebahkan tubuh Bella namun Bella meminta bed nya untuk dinaikan hingga posisi duduk. Bella menarik nafas panjang lalu menyerahkan testpack itu ke tangan Bram. Kekecewaan tak bisa di sembunyikan dari raut wajah Bella.


" Sudah kuduga, aku dapat menebak hanya dengan melihatmu. " Bram menatap Bella lalu menyimpan testpack itu di meja.



Bram memijat keningnya, selain karena memikirkan jalan keluar Bram juga pusing karena sedang enak tidur di ganggu oleh Bella.


" Bram .. " Panggil Bella yang menarik lengan kemeja Bram.


" Aku harus gimana ? " Bella menatap kosong, bingung.


" Kamu mau menikah lagi dengan ku Bel ? Bayi dalam kandunganmu itu tak bersalah. Aku yakin kamu pun tak tega menggugurkan nya. "


" Bram, apa aku terlihat sekejam itu ? Menggugurkan darah daging ku sendiri ? " Bella menatap getir.


" Syukurlah jika kamu tidak berpikir begitu, lalu kita harus menikah lagi Bel. " Ajak Bram spontan.


" Otak ku tak bisa berpikir Bram .. Rasanya perut aku mual lagi " Bella mengecap lidah nya yang terasa kelu.


" Jangan stress okay ? Lebih baik sekarang kamu tidur. Besok kita periksa ke dokter kandungan, terus kita bisa bicarain lagi. "


" Jangan gila Bram, ini bisa jadi skandal kalau orang orang tau. "


" Tenang aku tak segegabah itu kamu tau aku bisa memotong lidah siapapun yang berani menyebarkan aib kita. " Ucap Bram yakin.


" Huss ngomongnya "

__ADS_1


" Ya maksudku aku bisa membuat mereka bungkam. Kalo berani menggunjing mu siap saja mereka kehilangan pekerjaan dan tak ada satu rumah sakit pun yang akan menerima mereka. "


Bella hanya mengangguk lemah, kepala nya pusing perutnya mual jika terus memikirkan masalah ini. Bella memilih memejamkan matanya lalu Bram pun mengatur posisi ranjang ke semula agar Bella lebih nyaman beristirahat.


" Selamat tidur Bel .. " Bram mengecup puncak kepala Bella sejenak saat tau Bella sudah terlelap nyenyak.


Bram keluar dari tirai yang menutupi bed Bella, Bram mengenakan jaketnya untuk keluar mencari udara segar sejenak. Di saku jaket sudah tersedia rokok lengkap dengan pemantiknya. Sudah lama tak merokok tapi saat ini hanya rokok yang bisa membantu pikirannya tenang.


" Titip dulu ya dok, saya mau keluar cari angin. Saya di smoking area kalo kalian nyari saya. " Ucap Bram pada dokter dan para perawat yang berjaga.


" Baik dok .. Jangan lama lama dok di luar dingin " Jawab seorang perawat wanita muda.


Bram hanya menyeringai jengah, ada saja wanita yang mencari kesempatan untuk menggodanya. Bram duduk di smoking area tak jauh dari halaman rumah sakit. Bram menyesap nikmat, melepas semua kepenatannya.


" Hey dok ! " Sapa Darel seorang dokter spesialis kandungan. Kebetulan sekali bukan ? Ya kadang di dunia ini banyak kebetulan yang terjadi, atau bahkan sekenario yang memang sudah di atur Tuhan sebagai solusi dari masalah kita


" Ngerokok ? " Tanya Bram sambil menyodorkan rokok nya. Darel dan Bram seusia namun mereka tak cukup dekat karena berasal dari universitas yang berbeda dan juga Darel belum terlalu lama menjadi dokter di rumah sakit Bram.


" Gak dok, gue cuman lihat lo disini. Lagi ngapain seorang presdir repot repot jaga malam ? Apa ada pasien darurat ? "


" Iya ada, tapi yang darurat bukan ranah gue. "


" Hah ? Kok bisa ? " Darel menatap bingung.


" Rel, lo dokter kandungan. Lo betah kerja disini ? " Tanya Bram serius.


" Betahlah, gue pikir ini salah satu rumah sakit terbaik yang gue tempatin. "


" Bagus .. Gue mau minta tolong, dengerin dulu gue ya ? "


Bram menceritakan panjang lebar persoalnnya dengan Bella meski hanya intinya saja tentunya. Bram harus menceritakan tentu saja jika tak mau orang lain berpikiran Bella wanita nakal yang tak bisa menjaga dirinya.


" Gue bantu periksa besok pagi sebelum mulai praktek ya biar gak ada yang tau. "


" Thanks ya Rel .. Gue hutang jasa sama Lo "


" Tenang aja Bram, Lo harus hati hati disini banyak mata sama telinga jangan sampe mereka tau atau nanti Bella bisa jadi bahan bullyan mereka. Gue pamit dulu ya ? Pasien gue udah bukaan lengkap nih .. " Ucap Darel seraya menatap layar ponselnya yang berisikan pesan dari perawat dan bidan yang berjaga.


Bram mengangguk pelan membiarkan Darel menyelesaikan urusannya, setidaknya kini Bram punya seseorang yang bisa di percaya disini untuk merawat Bella dan kandungannya.

__ADS_1


__ADS_2