
Wijaya Main Office
Presdir Room
Sudah 2 bulan project dengan V.A.S Group berjalan, pertemuan antara Bram dan Violine pun semakin intens. Seiring semakin dekatnya hubungan mereka, Bram dan Bella malah merenggang. Bram merasakan memang ada sesuatu yang berbeda dengan Bella namun karena terlalu terbuai dengan kesenangannya sendiri Bram malah lalai bahkan tak lagi mendamba sentuhan Bella sehingga jarak antara mereka semakin terasa.
" Pagi Bram .. " Sapa Violine ketika dirinya masuk ke ruangan Bram.
" Pagi Vio, ada gerangan apa yang membawamu kesini sepagi ini ? "
" Tidak ada hanya ingin menyapa dan ini aku membawakan makanan dari rumah. Ini masakan ku. Aku tak membuat ini dengan sengaja, kebetulan aku membawa bekal namun ternyata seorang kolega mengajak ku untuk makan bersama. Aku ingat kamu jarang sempat sarapan di rumah. "
" Terimakasih, nanti aku makan ini bersama Kevin. "
" Ah iya, ajak juga Kevin aku lihat kalian sama-sama sibuk ya ? "
" Begitulah .. "
" Baiklah aku pergi dulu. "
Violine berpamitan namun tak sungguh-sungguh meninggalkan tempat Bram. Violine mengintip sedikit dari celah pintu yang tak tertutup rapat, bisa di lihat Bram segera membuka makanan nya itu lalu menyantapnya seorang diri dengan wajah yang berseri-seri. Violine tau perkataan Bram tadi yang hendak mengajak Kevin makan bersama hanya akal-akalan agar Violine tak berharap lebih. Tapi kenyataannya perasaan Bram memang sesuai dengan harapan Violine. Baru saja Violine berbalik tiba-tiba seorang wanita sudah berada di hadapannya, Violine hampir saja menabraknya.
" Astaga, maaf saya tidak tau ada orang. " Ucap Violine
" Saya yang harusnya minta maaf, anda pasti kaget ya ? "
" Iya sedikit, saya tidak mengira ada orang lain disini. Oh ya anda kerja disini juga ? "
" Hmm tidak, saya ingin menemui seseorang. "
" Seseorang ? Mr. Bram kah ? "
__ADS_1
" Iya benar .. "
" Wait, apakah anda Anabelle ? Istri Mr. Bram ? "
" Iya dan bisa saya tebak anda Wakil direktur V.A.S Group Nona Violine kan ? "
" Wah saya tidak sangka kita bertemu disini, salam kenal. Semoga kita bisa menjadi akrab. " Violine menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Bella menyambutnya dengan ramah.
" Ya tentu saja. "
" Ah jadi ini wanita yang mampu meluluhkan hati Bram. Bram memang menjatuhkan hatinya pada wanita yang tepat, dia cantik, sopan, ramah dan cerdas. Belum lagi style nya yang sangat elegan. Aku tak akan mampu menyainginya. " Batin Bella
Bella kemudian berpamitan pada Violine lalu masuk ke ruangan Bram. Dilihatnya Bram yang sedang lahap menyantap makanan yang di bawa Violine, hati Bella sedikit tergores mengingat Bram sudah sebulan ini tidak sarapan di rumah karena sibuk dengan project namun ketika Violine yang mengantarkan makan Bram malah segera menyantapnya.
" Uhukk .. uhukk " Bram terbatuk ketika melihat Bella tiba-tiba ada di ruangannya.
" Santai saja Bram, lanjutkan dulu makanmu. " Bella duduk di sofa lalu mengambil majalah fashion di tempat koran di samping sofa.
" Hey ada apa? Kenapa mendadak sekali ? " Tanya Bram lalu duduk di sofa berhadapan dengan Bella.
" Tidak apa Bram, kebetulan aku lewat dan tiba-tiba saja aku ada disini sekarang. Hmm jadi teringat masa 2 tahun kebelakang, semua berawal disini. " Bella berjalan mengelilingi ruangan Bram sambil melihat setiap sudut, lalu Bella fokus pada sebuah foto yang terpajang di meja kerja Bram.
" Tak ku kira kamu menyimpan foto kita Bram. " Bella tersenyum tulus.
" Tentu, lantas foto siapa yang harus aku simpan disini. "
" Mungkin suatu saat yang ada di bingkai foto ini bukan aku lagi Bram. " Bella menyimpan foto itu menjadi menelungkup.
" Duduklah, rasanya ada yang harus kita bicarakan. " Bram merasakan kecemburuan dari perkataan Bella.
__ADS_1
" Bicara apakah ? " Tanya Bella ketika dirinya kembali duduk.
" Apakah ini tentang Violine ? Apa kamu mengetahui sesuatu yang tidak aku beritahu ? "
" Aku tidak mengetahui apapun seperti dirimu aku pun bukan cenayang yang bisa menebak-nebak. "
" Baiklah, Bella aku tak bermaksud menyembunyikan apapun. Aku hanya takut menyinggung perasaanmu. Jika itu tentang Violine ya kamu benar, aku memiliki perasaan yang tidak biasa padanya. Setiap melihatnya hatiku berdebar sama seperti waktu dulu aku bersama Dilara. Tapi Bella demi Tuhan aku tak pernah mengungkapkan itu baik secara lisan maupun perlakuan. Aku memperlakukan nya seperti pada kolegaku yang lainnya. Maaf selama ini aku membohongimu. " Bram menunduk menyesal.
" Aku mengerti Bram, kamu seharusnya tidak minta maaf padaku. Bukan aku yang selama ini kamu bohongi, tapi dirimu sendiri. " Bella meraih tangan Bram lalu menggenggamnya erat.
" Maksudmu ? "
" Kamu mencintainya, mendambanya namun kamu berbohong, menutupi nya dengan sikap profesionalisme an mu. "
" Bukan begitu. Tapi aku tak ingin melukaimu Bel. "
" Kamu melukai dirimu sendiri demi aku yang bahkan sudah dua tahun ini tak mampu meluluhkan hatimu. Apa kamu pikir aku akan bahagia ? " Ucap Bella dengan nada tegas.
Bram menggeleng lemah.
" Aku lebih terluka Bram, aku terluka melihatmu tak bahagia dengan ku. Aku terluka melihatmu terluka karena ku. " Mata Bella mulai berkaca-kaca.
" Jangan menangis, aku mohon. Aku tak bisa melihat mu menangis lagi karena aku Bel. "
" Aku tak akan menangis Bram, Aku berjanji akan tersenyum bahagia jika kamu bahagia. Kejarlah cintamu Bram, lepaskan aku. Aku ikhlas. Kita akan menjadi sahabat dan tetap menjadi orangtua yang hebat untuk anak-anak."
Kali ini Bram bersikeras membantah perkataan Bella.
" Gak Bel, kita masih bisa bertahan. Aku janji akan berusaha lebih keras untuk mencintai kamu, memperhatikanmu. Kita akan menua dan melihat anak-anak tumbuh bersama. "
" Kamu sudah cukup berusaha sebaik mungkin Bram selama dua tahun ini, aku merasakannya. Aku harap kamu pikirkan lagi ini baik-baik ya ? " Bella bangkit lalu menepuk pundak Bram.
__ADS_1
Bella berlalu begitu saja meninggalkan Bram yang kini kalut dengan perasaannya sendiri. Bella bersikap seolah paling tegar dalam pergulatan ini, nyatanya kini Bella hanya terduduk di balik kemudi mobil nya. Masih di area parkir kantor suaminya. Bella menangis sesenggukan sejadi-jadinya membenamkan wajahnya di atas stir. Kalau di tanya hancur, Bella sangat-sangat hancur namun memaksakan hubungan ini mengalir pun malah akan menghancurkan semuanya. Lebih baik Bella mengalah untuk kebahagiaan Bram, mengalah untuk kebahagiaannya sendiri yang mungkin akan dia temukan meski tanpa Bram daripada setiap hari harus menelan pil pahit dengan menyadari hidup seatap dengan pria yang bahkan tak mencintainya dan mungkin setiap saat membayangkan wajah lain selain dirinya.