Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Aku Pergi


__ADS_3

Bella menghampiri Ayu yang sedang berada di kamar anak-anak lalu bermain bersama.


" Ah anak mommy cantik sama ganteng banget sih .. " Bella memeluk keduanya erat.


Ayu yang melihat Bella aneh karena tak biasanya Bella mengajak anak-anaknya bermain jam segini.


" Masih siang ko udah pulang Bu ? "


" Aku mau pergi Yu, mau kangen-kangenan dulu sama kalian ya ? " Ucap Ayu manis sambil menatap lalu mencubit pipi gembul kedua anaknya itu.


" Pergi ? Kemana Bu ? Terus anak-anak gimana ? "


" Aku percaya kamu bisa merawat mereka. Bram gak akan ngerelain aku pergi dengan anak-anak. "


" Tapi kan Zayn masih asi Bu. "


" Gak masalah, nanti tiap hari aku kirim ASIP lewat kurir Yu. "


" Ada masalah apa Bu tiba-tiba begini ? "


" Gak tiba-tiba, aku yakin kamu juga tau bagaimana sebulan ini aku terseok-seok Yu. Aku mau menenangkan diri dulu. "


" Tapi kemana ? "


" Tenang aja Yu, gak usah khawatir. Titip anak-anak ya? Aku harus pergi sebelum Bram pulang. " Bella tersenyum tegar meski matanya berkaca-kaca. Ayu tau Bella menyembunyikan perasaan sakitnya dari sorot mata Bella yang sendu.


Bella menciumi kedua anaknya, sebelumnya Bella sudah mengemasi barang-barangnya dan langsung menyiapkannya di bagasi mobi mengantisipasi Bram pulang awal di luar rencananya. Bella pergi diantar Ayu dan anak-anak yang berdiri di teras rumah. Ayu tak berdaya untuk menghalangi Bella, sehancur apapun dulu Bella di sakiti Bram, Bella tak pernah angkat kaki dari rumah ini. Namun sekarang Bella sampai pergi tentu ini bukan perkara sepele untuk itulah Ayu memilih bungkam membiarkan Bella memilih jalannya dan menenangkan diri.

__ADS_1


" Maafkan mommy Queen, Zayn .. Mommy janji akan jemput kalian saat keadaan mommy sudah baik. Mommy tak ingin membuat kalian sengsara di luar sana. Untuk saat ini, yang terbaik untuk kalian adalah bersama daddy. " Batin Bella saat dirinya terus melaju membelah lalu lintas jalan tol menuju Bandung.


Tak ada yang bisa Bella lakukan untuk saat ini selain pergi menemui keluarganya di Bandung, menenangkan diri beberapa saat selagi kampusnya pun di tutup karena pandemi yang kembali meningkat. Jika saja bisa Bella ingin pindah kuliah saja, namun dipikir lagi keadaan Zayn yang harus menyusu Asi menyurutkan keinginan Bella akhirnya Bella putuskan untuk mencari kamar kost dekat kampus agar tetap bisa mengirimi asi pada Zayn.


...****************...


" Bagaimana bisa kamu biarin Bella pergi Yu ? " Bentak Bram


" Saya tidak tega lihat raut wajah ibu yang frustasi kalau di halangi saya takut Ibu bertindak lebih jauh. "


" Terus dia cerita mau kemana ? "


" Enggak Pak, cuman bilang mau pergi dan titip anak-anak nanti Ibu akan mengirimi ASIP untuk Zayn lewat kurir. Saya kira Ibu tidak pergi jauh pak kalau begitu. "


" Iya tapi kemana ? " Bram duduk lalu mengacak rambutnya kasar.


Bram menarik dasi dan kancing kemeja atasnya dengan kasar, Bram segera menghubungi Kevin untuk mencari tau keberadaan Bella bagaimanapun caranya. Di tengah kecemasannya Bram melihat notifikasi e-mail masuk dari Bella. Bram meraih ponselnya, lalu membuka pesan yang berisikan sebuah video.


Hai Bram, maaf membuat mu mencemaskanku. Aku tau meski keadaan kita tak baik namun kamu pasti kalang kabut mencariku. Jangan khawatir, beberapa hari ini aku di Bandung bersama keluargaku. Aku akan kembali, tapi tidak ke rumahmu. Aku serahkan pengasuhan anak-anak padamu untuk sementara ini, bukan aku ingin lari dari tanggung jawab namun aku harus memastikan mereka hidup dengan layak dan untuk saat ini hanya kamu yang bisa memenuhinya. Aku kembalikan semua fasilitas darimu, kecuali mobil aku akan mengembalikannya ketika aku pulang dari sini. Jangan menjemputku atau aku akan benar-benar menghilang tanpa jejak. Tolong hormati keputusanku, aku titip anak-anak. Selamat tinggal.



* wajah Bella di video



*ekspresi Bella sesaat setelah mengirim video

__ADS_1


Bella membuat videonya tampak begitu tegar dan bahkan bahagia, padahal kenyataannya Bella pun terpuruk hanya saja Bella tak ingin menunjukkannya pada Bram. Bella tak ingin di pandang lemah. Biarlah kehancurannya dia pendam seorang diri.


" Ck .. Bisa-bisanya dia bahagia di atas penderitaan gue. " Gerutu Bram setelah melihat video Bella


" Lo bikin dia menderita duluan kali Bram. Lagian dia punya hak bahagia kalo dia gak bahagia di tangan Lo. " Timpal Kevin yang ikut melihat video yang Bram putar ulang di laptop nya ketika Kevin datang


" Derita apa yang gue kasih ke dia ? Apapun yang dia mau gue kasih. Gue pengen dia bahagia. "


" Bram, kalo Lo mandang Bella lewat materi ya pasti Lo pikir Lo udah ngasih segalanya. Tapi coba Lo pandang dia pake hati. Lo ngaca diri apa yang kurang dari Lo. "


" Kurang cinta maksud Lo ? Gue udah usaha Vin, Lo tau sendiri. "


" Iya justru Bella juga tau Lo udah usaha dia udah usaha tapi kalian gagal ya Bella realistis milih mundur daripada bikin Lo terkekang. Harusnya Lo lihat maksud dia. Dia pengen Lo bahagia ! " Kevin menjelaskan panjang lebar


" Terus gue harus gimana ? "


" Biarin dia tenang dulu Bram, Lo juga sama harus nenangin dulu. Inget ada anak-anak di tengah kalian, jangan karena keadaan ini Lo gak bisa perhatiin anak-anak. " Kevin menepuk pundak Bram untuk menenangkan sahabatnya itu.


Bram tak berkutik lagi, Bram memilih mengikuti keinginan Bella. Bram hanya membalas email Bella dengan pesan.


" Baiklah jika itu mau mu, tapi kamu tau kapanpun rumah ini milikmu. Pintu rumah selalu terbuka untukmu. Pulanglah saat kamu menginginkannya, kami selalu menunggu mu Bella terutama anak-anak selalu membutuhkan kasih sayangmu. Aku tak bisa melalui ini sendiri. "


- Bram


Di sudut kamar Bella membaca pesan Bram, ada tawa ketir dari mulutnya bisa-bisanya Bram berpikir tidak dapat melalui ini sendiri tapi dengan jelas hatinya terbagi untuk wanita lain. Wanita yang bahkan memiliki perasaan yang sama dengannya. Andai saja hanya Bram yang memiliki perasaan itu mungkin Bella akan berusaha merebut hati Bram dari Violine, namun jelas kedua insan ini saling mencintai baik Bram maupun Violine, mereka hanya menyembunyikan perasaan itu karena di tengah mereka ada Bella. Bella merasa dirinya menjadi duri di antara mereka. Keberadaan Bella jelas menyakitkan bagi semua, karena itulah Bella memutuskan untuk pergi agar tak ada lagi yang tersakiti.


" Untuk apa kita menjalani pernikahan dalam kepura-puraan Bram ? Tidak kah kamu lelah ? Aku saja yang dengan nyata mencintaimu merasa lelah dengan sandiwaramu. " Rintih Bella dalam isak tangisnya saat menatap wajah Bram yang terpampang di layar laptopnya.

__ADS_1


__ADS_2