
Beberapa saat setelah berjalan bersama di red carpet, Bram melepaskan lengan Violine yang melingkar di lengannya.
" Sorry Vio, saya rasa kita tidak pantas terlihat seperti ini. Terlebih istri saya sedang tidak mendampingi. "
" Kenapa serius begitu Bram ? Saya hanya sekedar membantu, bukankah melenggang sendirian akan membuat reputasi mu turun dan memalukan juga. "
" Tapi lebih memalukan jika saya di kira suami yang tidak setia. " Tegas Bram
Cukuplah Bram mencintai sosok Violine di dalam hatinya saja, namun dalam kehidupan nyata Bram sama sekali tidak memikirkan lebih jauh. Yang ada dalam pikirannya kini hanyalah istrinya, ibu dari anak-anaknya, bagaimana dia bertahan membesarkan anak-anak tanpa istrinya dan bagaimana anak-anak akan bertahan tanpa Ibunya.
Sungguh Bram bukan pemabuk, Bram menjadi lebih taat ketika bersama Bella. Namun kali ini bisikan setan menggoyahkan keyakinannya lebih dari yang bisa Bram kendalikan. Awalnya hanya seteguk, kemudian menjadi beberapa teguk hingga Bram mabuk di acara itu. Karena Bram bukan peminum yang handal pula, kesadaran Bram sudah berhamburan. Bram berjalan sempoyongan sampai akhirnya Kevin dengan sigap menangkap tubuh Bram yang nyaris ambruk.
" Lo kenapa mabok gini Bram ? " Tanya Kevin Iba
Dari sorot mata nya Bram tak bisa berbohong bahwa dirinya tengah merasa terpuruk. Kevin bisa melihat itu.
" Kita balik ya Bro ? " Pinta Kevin
" Gue pengen Bella Vin .. " Bulir air mata jatuh ketika kepala Bram bersandar di jendela mobil sport hitam itu.
Ya Kevin memapah Bram dengan susah payah. Dalam keadaan mabuk segala hal buruk bisa terjadi, banyak orang yang akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari keuntungan pribadi. Kevin khawatir Bram melewati batasnya bersama Violine lalu di manfaatkan. Untuk itulah Kevin segera membawa pergi sahabatnya.
" Gue gak bisa bantu Lo. Tapi gue janji gue pasti nemenin Lo Bram dalam kondisi apapun. Gue jaga Lo sama keluarga Lo semampu gue. " Kevin menenangkan hati Bram
Beberapa saat mereka melalui jalanan kota, kini mereka sudah tiba di rumah Bram. Baru saja turun di halaman, Kevin terkesiap mobil yang di kenalnya pun berada disana. Segera Kevin bertanya pada pengawal.
__ADS_1
" Bu Bella sudah kembali ? "
" Iya Mr.Kevin baru saja tiba 10 menit yang lalu. "
" Ah thanks God. Tolong bantu saya bawa masuk Bram. Dia mabuk berat. " Titah Kevin pada para pengawal.
Dengan segera pengawal membawa Bram masuk, saat itu waktu sudah sangat larut bahkan hampir dini hari namun Bella dengan segala keberaniannya berkendara seorang diri dan tiba selarut ini. Sungguh hubungan yang tidak bisa di pahami akal manusia, pikir Kevin.
" Bella .. " Panggil Kevin
" Hmm .. " Bella menjawab singkat karena dirinya sedang meneguk segelas air.
" Kamu kembali ? Bram mabuk. "
" Tak masalah, biar saya yang urus. Terimakasih kamu boleh kembali. "
Tak bisa di pungkiri rasa cinta nya pada Bram begitu besar, melihat Bram yang berantakan begini hati Bella teriris iba. Bella melepaskan sepatu Bram dan dengan lembut membuka jas dan kemeja yang Bram pakai. Di tengah melucuti pakaian Bram tiba-tiba si empunya membuka mata karena menghirup aroma tubuh yang familiar.
" Bella ? Sayang ? " Panggil Bram lirih.
" Diamlah Bram aku sedang mengganti pakaian mu. " Jawab Bella
" Bella aku merindukanmu .. " Bram langsung memeluk Bella posesif, Bram bahkan tak membiarkan Bella bergerak sedikit pun. Aroma tubuh Bella selalu menjadi candu bagi Bram, Bram menempatkan dagunya di ceruk leher Bella lalu menyesap nya perlahan memberikan sensasi panas pada si pemilik leher.
" Bram hentikan .. " Pinta Bella, namun tak sedikit pun Bram hiraukan Bram malah bermain semakin liar disana hingga meninggalkan beberapa tanda kepemilikan.
__ADS_1
" Tidak kah kamu merindukanku ? " Bisik Bram dengan suara beratnya di telinga Bella.
Entah mengapa Bram terasa sangat bergelora mungkin karena efek dibawah pengaruh alkohol. Bram sangat merindukan sentuhan istrinya itu, sungguh.
Tak ada suara apapun yang Bella ucapkan untuk menjawab suaminya hingga kedua tangan Bram bergerak menyentuh leher lalu turun ke bagian dada Bella.
" Hmm .. " Bella melenguh seiring panasnya permainan Bram di kedua area milik Bella itu. Tanpa Bella sadari Bram sudah membuat kemeja bagian depan Bella terbuka dan mengekspose bagian dada nya yang terlihat begitu menantang.
Bram menyesap salah satu di antara kedua bagian itu lalu satunya lagi Bram genggam lembutdengan sebelah tangannya, seketika rasa terbakar nikmat dan geli menyatu membuat Bella tak berkutik bahkan tak ingin menolak harus di akui Bella pun merindukan ini.
Bram tak hentinya mengecup lembut setiap inci tubuh Bella hingga tubuh Bella berubah penuh tanda merah. Bram segera melepas celana jeans yang masih melekat di pinggang Bella dengan tak sabar hingga menyisakan underwear warna hitam berenda. Dengan lihai tangan Bram bermain di bagian luarnya membuat Bella serasa melayang mendapatkan surga dunia. Bram juga belum melepaskan sebelah tangan dan bibirnya dari dada Bella, Bram menyentuh seluruh tubuh Bella dengan sempurna.
" Basah .. " Bram merasakan cairan mengalir membasahi bagian luar celana Bella
" Hmm .. Braa--aamm " Erangan Bella yang melantun indah di telinga Bram membuatnya semakin bersemangat.
Bram segera mengambil posisi di atas tubuh Bella, kini kedua tubuh pasangan halal itu tak terlapisi sehelai benangpun. Bram mengarahkan miliknya untuk memulai penyatuan, perlahan memasuki milik Bella dengan lembut hingga seluruhnya. Bella mencengkram punggung Bram kuat karena nikmat yang tak tertahankan meninggalkan tanda cakaran kuku yang tentu Bram tak keberatan meski harus terluka. Setelah di rasa cukup puas Bram mempercepat tempo permainan mereka, menghentak ke dalam dengan kuat. Bella mengerang hebat tak kala suaminya membalikkan badan Bella ke posisi belakang lalu kembali memberikan hentakan. Keringat berjatuhan membasahi tubuh keduanya yang malah terlihat semakin panas. Sesuatu terasa berdesir dan hendak meledak, Bram akan capai di puncak kenikmatannya.
" Sedikit lagi sayang .. Ahh " Cairan hangat itu menyembur memenuhi milik Bella hingga meleleh membasahi ranjang mereka.
" Terimakasih sayang, jangan pergi. " Pinta Bram seraya ambruk di samping tubuh Bella lalu memeluk Bella erat takut kehilangan.
Maafkan aku Bram, tapi ini yang terakhir untuk kita.
Batin Bella
__ADS_1
Bella mengubah posisi menjadi membelakangi Bram, Bella menggenggam jari jemari Bram yang berada di pinggangnya lalu menariknya ke dada mendekapnya dengan erat, air mata Bella berjatuhan membasahi bantal Bella menangis tanpa bersuara. Demi apapun Bella sangat mencintai pria ini, pria yang telah memberikannya seorang putra dan berbagi kehidupan dengannya selama dua tahun ini.