
Tok .. Tok
Suara ketukan pintu menyadarkan Bella dari tidur lelapnya.
" Subuh Bell .. " Panggil Ibu
" Iya, ini udah bangun. "
Bella beranjak dari ranjangnya lalu mengambil air wudhu. Melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk sesekali air mata menetes di kedua pipinya. Bella mengakhiri shalat nya dengan bersimpuh memanjatkan do'a-do'a.
" Ya Allah Ya Tuhanku, anak-anakku adalah milikmu aku percaya mereka selalu ada dalam penjagaanmu. Begitu pula dengan hidupku, aku percaya Engkau yang akan memperbaiki apa yang tak dapat ku perbaiki. Ya Allah jika Bram bukan untukku, maka lapangkan hatiku dan jika Bram tercipta untukku, lapangkan hatinya untuk menerimaku. Namun untuk saat ini mungkin perpisahan yang terbaik meski aku tau Engkau sangat membencinya namun aku tak sanggup lagi .. " Bella menangis tersedu, dari balik pintu Ibu mendengarkan Bella yang tengah merintih dalam do'a nya. Ingin rasanya segera memeluk putrinya itu namun Ibu tak ingin mencampuri privasi Bella lebih jauh lagi.
Bella melipat mukenanya lalu keluar menuju dapur untuk membantu Ibu menyiapkan sarapan.
" Nak, kamu ada masalah ? " Tanya Ibu lembut
" Ibu ikhlas ya .. Bella akan berpisah dengan Bram. "
Ibu yang sedang mengupas bawang seketika menghentikan gerakannya.
" Jangan main-main nak. Kalian sudah memiliki anak. Bagaimana bisa berpisah begitu saja. "
" Ini tidak terjadi begitu saja Bu. Bella dan Bram sama-sama sudah bertahan semampunya. "
" Baiklah kalau kamu sudah bertekad begitu, tinggal lah di sini. "
" Bella masih ingin menyelesaikan kuliah, anak-anak juga Bella serahkan pada Zayn untuk sementara waktu. "
" Ibu masih sanggup merawat anak-anakmu. Kenapa kamu pikir untuk menyerahkan anak-anak ? "
" Bu, hanya Bram yang bisa memenuhi kebutuhan mereka dengan baik. Bella belum mapan untuk saat ini karena itu Bella bertekad untuk menyelesaikan kuliah. Bella ingin menata hidup, jika Bella sudah mapan Bella akan menjemput anak-anak. " Bella menggenggam tangan Ibu nya hangat, air mata yang sudah di tahan pun tetap lolos membasahi mata Bella. Ibu dan anak itu berpelukan lekat.
Bukan keputusan yang mudah melepas anak-anak bersama Bram namun inilah keputusan terbaik. Bella kini harus fokus menata hidup dan menata karir. Bella harus menjadi wanita yang mandiri dan mapan agar bisa memberikan kehidupan yang layak pada anak-anaknya tanpa campur tangan Bram di masa depan. Bella bertekad menghempaskan apapun itu tentang Bram.
Siang ini Bella akan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya, Bella membuka koper yang di bawanya lalu mengambil dokumen berisikan surat nikah dan kartu keluarganya. Bella menarik nafas dalam, tak ada kata mundur setelah ini. Bella sudah berpengalaman untuk hal ini hingga tak ada keraguan dalam hatinya untuk melangkah.
Tepat pukul 1 siang Bella mendatangi pengadilan agama lalu mencari seorang kenalan advokat yang dulu membantunya mengurus perceraian dengan mantan suaminya.
__ADS_1
" Siang Bella, lama tak jumpa. "
" Iya pak, saya juga tak menyangka kita akan bertemu untuk kali ke dua di kasus yang sama. "
" Sabar Bel, jalan hidup manusia tidak ada yang tau. " Pak Agam menepuk pundak Bella
" Ini pak semua berkasnya sudah lengkap. Tolong segera di urus ya ? "
" Baiklah, mari duduk saya akan bertanya beberapa hal. "
Sebelum menggugat, tentu si penggugat harus memberi tau kronologis penyebab perpisahan mereka sampai detail ke waktunya. Bella menjelaskan sebenar-benarnya tidak ada yang di tutupi, hingga di simpulkan Bella bulat untuk berpisah.
...****************...
Terik matahari siang itu terasa begitu menyengat. Bram baru saja keluar dari area parkir di sambut para pengawal, asisten, dan sekretarisnya. Bram baru saja ke kantor siang hari karena pikirannya tengah tidak fokus.
" Siang presdir, untuk meeting pagi tadi sudah di handel oleh Mr.Kevin. Siang ini anda tidak ada jadwal penting namun nanti malam anda harus menghadiri undangan acara pesta kembang api di menara Astech Group. "
" Baiklah siapkan saja yang terbaik."
" Oh ya, untuk Bu Bella apa saya perlu menyiapkan dress khusus ? "
" Tak usah, Bella sedang di luar kota ."
" Tapi ini pesta penting untuk astech dan wijaya. "
" Sudahlah ikuti saja apa yang saya perintahkan dry. "
Audry tak mengerti kenapa tiba-tiba saja Bram begitu dingin ketika membicarakan masalah Bella, di tengah ke kalutan Kevin datang seusai menyelesaikan Meeting pagi.
" Bro, Lo kerja ? "
" Hmm .. Diem di rumah juga gue malah stress. "
" Bella gimana ? Udah ada balik ? "
" Belum, gue harus gimana coba ? "
__ADS_1
" Gue gak tau, gak pernah ngadepin di tinggal kabur istri gue kan jomblo. " Kevin berusaha menghibur
" Sialan Lo. Mana nanti malem ada party penting sama astech. "
" Ah iya, Lo harus hadir. Harusnya Bella juga ikut. "
" Iya tapi mana ? "
Kevin hanya mengangkat bahunya bingung. Tak kala bingungnya dengan Audry yang kini tau alasan Bram menolak menyiapkan gaun untuk Bella. Mereka sedang berselisih.
Audry tak ingin bertanya hanya cukup tau lalu mencernanya seorang diri, dua tahun rumah tangga mereka terlihat harmonis lalu tiba-tiba saja di terpa badai. Audry menelisik ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika Violine bertegur sapa dengan Bella di depan pintu. Secara khusus Bella meminga Audry untuk diam membiarkan Violine mengintip Bram dari celah pintu sedang di belakangnya Bella memperhatikan Violine.
Jangan-jangan presdir selingkuh sama putri Presdir Ellan
Audry menyayangkan jika benar terjadi karena Audry pun menyaksikan bagaimana mereka jatuh bangun bersama namun tetap saling mempertahankan.
...****************...
Malam hari tiba, Bram sudah siap dengan setelan tuksedo hitam nya. Semua bertema hitam di acara pesta ini. Bram melangkah ragu, tak ada pasangan yang menemaninya. Hatinya begitu terasa hampa. Lalu tiba-tiba saja Violine menyelipkan tangan ke tengah celah tangan Bram.
" Ayo kita pergi bersama. " Ajak Violine
" Tapi .. "
" Udah, aku tau kamu minder kan ? Aku juga sama ko gak bawa pasangan. " Violine menggandeng tangan Bram erat lalu berjalan bersama membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Seketika media langsung mengambil foto mereka dan menjadi tranding di sosial media. Mereka tampak serasi dan bahagia.
" Senyum aja Bram. "
" Saya jadi gugup, harusnya istri saya yang disini. "
" Tapi istri kamu gak ada kan ? Padahal ini acara penting buat kamu. Jadi yaudah mungkin istri kamu punya kepentingan lain yang lebih mendesak Bram. "
Violine menerima buket bunga sebagai sambutan kehadiran mereka di acara tersebut. Foto-foto manis mereka beredar di media, membuat seseorang nan jauh di Bandung sana bagitu meradang dan terbakar.
__ADS_1