Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Sebuah Pilihan


__ADS_3


Pagi menjelang, Bella menatap dirinya di depan cermin tampak begitu kacau. Tak ada raut kebahagiaan, bahkan Bella saja masih tak yakin pilihannya sudah tepat atau belum. Hatinya tak bisa berbohong bahwa Bram masih belum tergantikan namun di sisi lain hatinya begitu terluka dengan segala perlakuan Bram.


Mengapa kamu menghancurkan ku Bram ? Apa salahku ? Kamu memaksaku memilih hal-hal yang tak ku inginkan. Monolog Bella


Nasi sudah menjadi bubur, Bella sudah mengiyakan ajakan Akbar untuk menikah. Terlepas apa yang akan menimpa mereka nanti, Bella memasrahkan semuanya pada pemilik kehidupan. Rasanya sudah lelah berjuang toh takdir yang akan menariknya lagi dari satu sisi ke sisi lain lalu kembali ke sisi yang sama, terus seperti itu roda takdir berputar untuk nya.


Akbar, Ayah, Penghulu, Pak RT dan Pak RW sudah siap di ruang tamu. Karena waktu yang di tetapkan singkat, Akbar memilih menikahi Bella secara agama terlebih dulu. Mungkin kedepannya jika Bella sudah yakin dengan hubungan mereka Akbar akan meresmikan pernikahan mereka secara hukum/negara namun jika Bella memilih sebaliknya, maka akan lebih mudah melepasnya. Tanpa ada maksud mempermainkan hubungan sakral ini, namun tak ada yang tau bagaimana takdir berjalan. Pasangan yang saling mencintai saja bisa berakhir di meja hijau apalagi hubungan mereka. Akbar menerka dari segala sisi baik dan buruknya.


" Baiklah calon pengantin wanita dan pria sudah ada. Kedua saksi sudah bersedia, untuk wali nikah akan langsung di laksanakan oleh Ayahanda dari nak Anabella. Silahkan nak Akbar berjabat tangan dengan Bapak dan mulai untuk ijab qabul " Ucap penghulu


" Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Akbar Zaid Alendra Bin Maulana Ghafar Alendra dengan putri saya Anabella Romaisa .. "


" Saya terima nikah dan .. "


" Tunggu, saya mohon hentikan " Tiba-tiba saja suara pria yang familiar itu membuyarkan ke khusuan acara pernikahan ini.


" Bram ! "


Semua orang bangkit dari tempatnya duduk, Bram datang dengan wajah yang masih lebam membiru di temani Presdir Albert di belakangnya.

__ADS_1


" Mau apalagi kamu ? " Akbar menatap tajam pada Bram.


Tiba-tiba saja Bram bersimpuh di kedua kaki mantan mertuanya menangis memohon ampun. Entah itu tulus atau sandiwara, Bella saja sudah tak bisa lagi percaya pada Bram karena Bram begitu lihai menjadi dua pribadi yang berbeda.


" Maafkan saya pak. Saya mengaku, saya menyakiti Bella selama bertahun-tahun. Saya juga menyakiti perasaannya karena mencintai wanita lain. Dan kemarin saya hampir saja melecehkannya. Entah setan apa yang merasuki saya. Saya melakukan itu hanya karena tak terima Bella menceraikan saya. Saya baru sadar ternyata saya sangat mencintai Bella. Saya tidak bisa hidup tanpa Bella. " Bram menangis sesenggukan


" Kecemburuan butamu ini membuat anak saya menderita. Saya sudah percayakan Bella pada mu sepenuh hati lalu kamu hancurkan harta berharga milik saya semaumu. Saya yang membesarkan nya merawatnya penuh kasih sayang dan kamu merusaknya seperti sampah. Tidak kah kamu memikirkan perasaan saya Bram ? Padahal anak saya memberikan mu seorang putra, memberikan keluarga kalian seorang penerus. Tidak kah Bella ku berharga untuk kalian ? " Ayah memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Melihat Bram dan Albert ada disini malah menambah luka batin untuk Ayah Bella.


" Pak Hermawan tenang, jika bapak berkenan lebih baik kita bicarakan dulu masalah anak-anak kita agar semuanya tuntas. Jika memang Bella dan Akbar masih ingin melanjutkan niatnya. Kami tidak akan menghalangi namun keadaan ini harus di luruskan terlebih dulu agar tidak ada ganjalan kedepannya. "


" Benar pak, lebih baik di musyawarahkan dulu. Acara ini masih bisa di tunda. " Ucap Pak RW menengahi.


" Baiklah, anda Ayahnya Bram bukan ? Tuan Albert ? Kita menjadi besan selama 3 tahun namun ini kali pertana kita bertemu. Kemana saja anda selama ini ? Membiarkan anak anda begitu saja ! " Ucap Ayah murka


" Jadi bagaimana pak ? Kita tunda dulu saja ? " Tanya Penghulu.


" Iya pak. Mohon maaf merepotkan "


" Tidak apa Pak. Semuanya memang harus jelas demi kebaikan semuanya. "


Akhirnya penghulu, Pak RT dan Pak RW pun membubarkan diri. Kini tersisa Hermawan, Sita, Bella, Akbar, Bram dan Albert yang sama-sama duduk di ruang tamu saling berhadapan.

__ADS_1


" Jadi apa maksud anda dan Bram kesini ? " Tanya Ayah dingin.


" Saya ingin meluruskan kejadian yang menimpa rumah tangga anak kita. Bella, bisakah daddy mendengar isi hatimu dulu ? "


" Isi hati yang mana lagi Dad ? Daddy tau semuanya. Daddy tempat Bella mengadu saat orangtua jauh. "


" Tapi Bram tidak tau. Bella selalu menutupi perasaan Bella dari Bram. Sekarang utarakan semuanya "


" Ck .. Harusnya tanpa aku bicara, Bram bisa mengira kesalahannya. Tak banyak yang aku mau, aku hanya menginginkan Bram mencintaiku dengan tulus setelah sekian lama waktu yang kami lalui bersama, setelah ada anak di antara kami. Tapi Bram malah mencintai wanita lain dan aku merelakannya aku melepaskannya ! Satu waktu Bram menghalangiku bertemu anak-anak dan aku mengalah pergi ke luar negeri. Setelah aku kembali ku kira keadaan akan membaik, namun parahnya Bram malah melecehkanku memandangku hina ! " Bella terisak di ikuti isak tangis Ibu dan Ayah yang tak menyangka putrinya menanggung beban seberat ini.


" Apa kurangku Dad ? Apa salahku ? Aku mengabdikan hidupku selama tiga tahun untuk Bram. Lalu dia malah membuatku merasa mati perlahan ! " Lanjut Bella.


" Aku tau aku tak layak mendapatkan maaf mu tapi aku tetap ingin meminta maaf. Saat melihat Violine perasaan yang ku kira jatuh cinta nyatanya hanya fatamorgana, aku mengaguminya karena dia mirip Dilara. Bukan Vio yang aku cintai, tapi Dilara. Bayangannya selalu terpatri dalam hidupku mungkin karena dia pergi terlalu tiba-tiba aku masih belum bisa menerima sepenuhnya. " Bibir Bram bergetar.


" Setelah kamu pergi, aku begitu hampa Bel. Aku sadar selama ini aku mencintaimu tapi kerena ego menutup semua. Saat kamu bersama Akbar aku tak rela, itu kenapa aku melakukan hal tercela itu kemarin. Aku terbakar cemburu dan tak ingin pria lain memilikimu. " Bram menjelaskan panjang lebar dengan penuh penyesalan.


" Seperti itu Pak, saya tidak membenarkan apa yang di lakukan Bram memang salah. Bella sangat berharga bagi keluarga kami, saya menganggap Bella putri saya sendiri. Saat Bram melakukan kesalahan saya sendiri yang menghukumnya. Ketika saya tau Akbar menyerang Bram, saya tak menuntut Akbar saya anggap Bram mendapatkan balasan atas dosanya. Dan Bella, apa kamu masih mencintai Bram ? " Tanya Presdir Albert penuh harap.


Bella dalam dilema kini, siapakah yang harus di pilihnya ? Dan apa yang harus Bella jawab dalam keadaan rumit ini ?


...****************...

__ADS_1


Hai readers .. Author mau minta bantuannya dong, coba vote menurut para readers Bella lebih baik membatalkan pernikahannya atau tetap melanjutkan pernikahannya ? Karena author punya dua scene nih .. Author pengen bikin alur yang menarik menurut readers gimana nih ?


__ADS_2