
" Bella bangun " Bisik Bram pelan.
" Aku masih ngantuk " Gerutu Bella.
" Dokter Darel akan memeriksa mu, tapi kita hanya bisa lakukan sebelum jadwal prakteknya agar tak ada siapapun yang tau. " Jelas Bram.
Bella membuka matanya malas, rasanya baru saja tertidur sebentar sudah harus bangun lagi. Bram membawa kursi roda untuk Bella lalu berpamitan untuk berjalan jalan pada perawat agar tak di curigai. Bram membawa Bella ke lantai VIP yang kebetulan sedang kosong, begitupun perawat yang Bram intruksikan untuk mengosongkan tempat dengan alasan akan ada penyeterilan ruangan.
" Kenapa sepi Bram ? " Tanya Bella bingung.
" Aku mengosongkan seisi lantai ini. "
" Gila horor tau Bram .. " Keluh Bella
" Kamu dokter dan masih takut dengan hal hal mistis ? " Bram menertawakan kepolosan Bella.
" Mungkin bawaan bayi Bram aku jadi lebih sensitif " Ucap Bella sambil menyentuh perutnya.
Bram tersenyum mendengar Bella mengakui kehamilannya, secara tidak langsung menandakan Bella menerima kehamilannya itu. Meski Bella tak siap Bella tak bisa menolak bayinya begitu saja bukan ? Bagaimana pun dia ibu dari dua orang anak, tak mungkin dia bisa begitu kejam melenyapkan bayi di kandungannya.
" Hay dok, aku menunggumu 15 menit tau ? " Gerutu Darel.
" Sorry Rel .. Dia susah di bangunkan "
" Hehe maaf ya dok aku lemes banget jadi ngantuk bawaannya " Jelas Bella.
" Gak papa Bel, kamu boleh rebahan disini biar kita USG dulu. " Titah Darel.
" Maaf ya dok gue mau raba raba bini lo dikit " Kekeh Darel menatap Bram.
Darel menggerakan alat USG itu di perut Bella, dalam hitungan detik sudah nampak kantung kehamilan di layar.
" See dok, selamat ya Bella kamu benar benar sedang hamil. Usia kandungan mu baru 5 minggu. " Darel menunjukkan layar hasil USG baik pada Bella maupun Bram.
Bella speechless dan bungkam tak ada raut bahagia maupun sedih ekspresinya datar mungkin Bella sedang memendam kecewa dan sedih secara bersamaan. Lain hal nya dengan Bram yang masih bisa tersenyum kecil.
" Bella, semua sudah terjadi. Kini kamu mau tidak mau harus menjaga dia. Jadi aku akan resepkan asam folat dan zat besi untuk kandungan mu. Jangan terlalu di pikirkan, cukup jalani " Darel berusaha memberi semangat.
__ADS_1
" Thanks Rel, gak papa dia cuman kaget .. " Bram menepuk pundak Darel lalu beralih mendekati Bella.
" Bram aku boleh minta bedrest 3 hari ? Tapi aku mau disini aja, aku mau nenangin diri. " Pinta Bella.
" Iya lebih baik gitu, kamu harus istirahat " Bram membelai rambut Bella.
" Dok gue balik ruangan dulu ya ? 10 menit lagi jadwal gue praktek. " Pamit Darel.
" Gue juga ada jadwal .. Sekali lagi thanks ya ? "
" Sama sama dok, yaudah see u Bel. Cepet sehat ya koass harus kuat. "
" Iya dok " Bella tersenyum getir.
Setelah Darel meninggalkan ruangan Bram pun beranjak naik ke ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Bella. Bram tau saat ini Bella butuh pelukan dan dukungannya.
" Sini .. Aku bakal meluk kamu 5 menit, kamu boleh nangis boleh mukul aku atau apapun itu. Abis itu aku tinggal bentar ya ? Aku ada praktek sampe siang " Pras mendekap tubuh Bella tanpa canggung seperti biasanya.
" Aku gak papa Bram, takdir emang gak bisa di hindarin kali ya ? " Tanya Bella lalu yang semula membenamkan kepalanya di dada Bram kini mendongakkan kepalanya saling bertatapan dengan Bram.
" Jadi keputusan kamu gimana ? "
" Thankyou and I love you Bel .. " Bram tak bisa berkata apapun.
Bram meraih dagu Bella lalu mulai mengecap mel*umat bibir berwarna merona itu saking bahagianya. Bella yang awalnya selalu ragu saat mendapat sentuhan Bram kini berusaha menerima begitu saja. Mereka menghabiskan waktu 5 menit itu dengan saling menikmati pangutan masing masing.
" Gak papa aku tinggal ? " Tanya Bram saat melepaskan pangutannya.
" Gak papa tapi tolong balikin lagi semua staff di lantai ini. " Pinta Bella.
" Ah iya haha aku juga perlu perawat untuk menjagamu. Baiklah kamu istirahat aku pergi dulu. " Bella bangkit lalu mengecup kening Bella singkat.
Bella hanya menatap punggung Bram yang perlahan menghilang di balik pintu. Entah apa yang di rasakannya kini, lagi lagi Bella harus jatuh ke pelukan pria yang paling di bencinya sekaligus pria yang paling di cintainya.
" Bayi .. Kamu keras kepala. Kenapa harus tumbuh sekarang dan kenapa harus Bram yang menjadi daddy mu ? " Bella mengusap perutnya lembut.
" Bahkan pada Akbar aku bisa menahan diri namun pada daddy mu ? Aku selalu kehilangan kendali. Berbaik hatilah pada ku ya ? Kalau kamu mau tumbuh disini maka kamu harus jadi bayi yang kuat karena pekerjaan kita menunggu. " Lanjut Bella
__ADS_1
Bella saat ini memejamkan lagi matanya, semalam tadi tidurnya tidak nyenyak. Apalagi yang bisa Bella lakukan ? Menangisi nasib ? Itu hanya akan membuang tenaga pada akhirnya Bella harus menerima kehamilan ini. Hanya saja menikahi lagi Bram saat ini akan menjadi skandal paling panas di rumah sakit ini.
" Selamat pagi .. " Sapa seseorang yang baru masuk.
" Kevin ? Long time no see. Come in "
" Wah aku mendapat kabar baik pagi ini. Bram meminta ku menemani mu "
" Entah baik atau tidak, tapi ya sejauh ini masih baik baik saja. Zayn akan punya adik berkat tindakan konyol kami. " Curhat Bella.
" Sudahlah Bel, Bram juga sudah memperbaiki diri aku rasa kamu tak akan kecewa bersamanya lagi. Jodoh memang tak bisa di tolak right ? "
" Sepertinya begitu, Kevin aku mau tidur sebentar kalau sarapan sudah datang kamu bisa bangunkan aku karena aku lapar. "
" Siap .. Nikmati tidur mu Bel. Aku akan menjaga mu disini "
Kevin memang selalu bisa jadi seseorang yang di andalkan oleh mereka. Di usianya yang ke 38 tahun Kevin masih melajang karena terlalu sibuk mengurusi urusan Bram baik secara pribadi maupun pekerjaan. Entah mungkin Kevin menikmati kesendiriannya. Kadang Bella iri melihat seseorang yang bisa bebas seperti Kevin, tak terikat apapun dan siapapun bisa menggapai apa yang di mau dan pergi kemana saja.
Pagi berlalu hingga siang, Bella membuka matanya. Setelah sarapan dan minum obat Bella kembali terlelap, Bella mengerjap saat merasakan tangan kokoh yang menggenggamnya.
" Sudah bangun putri tidur ? " Tanya Bram dengan raut lelah.
" Kamu udah selesai ? Kamu udah makan ? " Tanya Bella khawatir.
" Udah .. Kamu masih mual ? " Bram memindahkan tangannya ke perut Bella.
" Enggak, cuman masih lemes aja. Kamu istirahat gih Bram "
" Aku pengen tidur disini " Bram menepuk samping Bella.
" Kalo begitu naiklah, tapi pastikan tidak akan ada yang masuk. "
Bram mengangguk lalu meraih ponselnya menghubungi perawat di depan agar tidak menerima kunjungan karena Bella perlu istirahat alibinya. Bram pun naik ke ranjang mendekap erat tubuh Bella.
" Ini terdengar kejam Bel, tapi mungkin aku saat ini sedang berbahagia di atas penderitaan mu. " Bram mulai menutup matanya.
" Jangan pikirkan, aku bisa menahannya selagi kamu mendukungku. " Bella mengusap lembut rambut Bram membiarkan Bram terlelap dalam kehangatannya.
__ADS_1
Ya Bram kamu memang cerdas untuk menebak perasaan ku kini. Tapi sekalipun menderita aku tak bisa menyimpan dendam padamu. Mungkin aku sudah gila Bram.