
Bram sampai di mension nya, tinggal bersama presdir Albert membuat Bram lebih terkendali. Bram tidak lagi bertindak serampangan dan semaunya, perlahan Bram pun kembali menjadi sosok yang taat. Seringkali Presdir Albert sering mendapati putranya sedang bersimpuh dalam doa ketika shalat malam. Yang tak pernah absen dari panjatan doa nya adalah meminta keluarga nya utuh kembali, meminta Bella dan anak-anak bisa menerimanya kembali.
" Bram .. Habis dari mana ? " Tanya Albert ketika Bram tiba larut malam.
" Tadi Bram anter Bella pulang terus nemenin dulu anak-anak sambil makan malam disana. "
" Wah sepertinya sudah ada perkembangan. " Sorot mata Albert berubah menggebu.
" Tidak cukup baik, tapi tidak bisa di bilang buruk juga. "
" Pertahankan lah Bram .. Semoga hati Bella kembali luluh meski kemungkinannya kecil. "
" Lalu bagaimana dengan Presdir Ellan ? Bram dengar beliau menutup akses dad untuk bekerja sama dengan perusahaan lain. Apa proyek kita akan mangkrak ? "
Albert menghela nafas panjang, bisnis farmasi yang susah payah Bram bangun terancam berakhir karena issue perpisahan Bram dan Violine membuat image perusahaan rusak terlebih putusnya hubungan kerja sama antar Wijaya Group dan V.A.S Group di anggap sesuatu yang tidak profesional sehingga kredibilitas Wijaya Group pun di ragukan.
" Bram ! Setiap keputusan memiliki resiko,sekalipun proyek mu harus di akhiri sementara kita masih memiliki brand image yang baik di sektor lain. "
" Bukan kah kita akan merugi banyak dad ? Belum juga mendapat laba, kita malah harus menutupi kerugian produksi "
" Tak masalah, uang masih bisa di cari. Ketenangan dan kebahagiaan keluarga kita yang sulit di miliki. " Albert menepuk pundak Bram, begitu banyak dan fatal kesalahan yang Bram lakukan namun Albert masih merangkul dan mengampuni putra nya itu.
Albert kembali ke kamarnya sedang Bram pun memilih merebahkan tubuhnya dengan segera terlelap dalam buaian mimpi.
Beberapa hari berlalu, Bram tak datang ke kampus karena memang tak memiliki jadwal. Dalam seminggu Bram hanya memiliki jadwal mengajar 3 hari, ke tidak hadiran Bram menjadi bahan pembicaraan para mahasiswi kampus apalagi Bram kini menjadi dosen favorite. Di usianya yang menginjak 39 tahun Bram masih mengagumkan tentu saja.
" Bukannya hari ini jadwal nya Dokter Bram ngajar ya ? " Tanya Amanda.
" Hooh .. " Jawab Zidane
__ADS_1
" Mom tau gak, itu si daddy banyak fansnya. Anak kelas sebelah sampe ada yang nyiapin cheese cake loh mom " Usil Reza.
" Terus gue harus jawab apa ? " Sungut Bella.
" Gak cemburu gitu mom ? Ya minimal anget-anget tai ayam. "
" Tai ayam pala kau ! " Bella menjitak Reza.
Tak berselang lama di antara penggibahan squad Bella, yang di bicarakan pun masuk lalu menyapa seluruh kelas. Bram masuk dengan penampilan casualnya. Rasanya mata setiap mahasiswi tak bisa menutup melihat salah satu keindahan ciptaan Tuhan ini.
Bram duduk di mejanya lalu menatap seisi kelas dengan tatapan tak biasa.
" Tumben tenang sekali .. " Bram membuka suara.
Tenang di kira cupu, bising di kira berandalan. Bella menyikut Amanda yang di sebelahnya.
" Good idea Manda. Silahkan kelompokmu yang pertama. "
Otomatis ke empat sahabatnya menatap dingin pada Amanda yang berani mengingatkan Bram tentang presentasi padahal mereka belum menentukan siapa presentator karena hendak menyimak kelompok lain terlebih dulu.
" Sialan Lo manda manda .. " Reza mencubit tangan Amanda.
" Gue gak mau ngomong di depan ya ? Gue gak mau di skak mat sama doi. " Zidane lantang menolak.
" Jangan .. Jangan gue ! Gue gampang gugup nanti salah nyampein. " Tatap memohon Gishel membuat mereka tak tega.
" Mom berarti kita berdua gantian ya ? " Titah Amanda.
__ADS_1
" Bener-bener ya kalian jadiin gue tumbal buaya ! " Rengek Bella.
Mau tak mau merekapun berdiri, membawa materi dan laptop di tangannya. Bram menahan senyum yang hendak menyungging di bibirnya kala melihat Bella yang mengambil pointer menandakan Bella yang akan menjadi pembicara. Bella cukup percaya diri, itulah yang Bram sukai dari Bella. Ambisius.
" Selamat pagi, saya Anabella akan menjadi salah satu presentator dalam forum ini. Kami mengambil tema penelitian tentang pengaruh angka kelahiran dalam pengendalian wabah pandemi bagi pelayanan kesehatan .. " Bella langsung membuka forum dengan latar belakang penelitian kelompoknya. Bella menjelaskan dengan bahasa yang tertata dan mudah di pahami.
" Oleh karena itu, pengendalian kehamilan penting di masa pandemi ini untuk menekan angka kematian ibu hamil atau melahirkan dan bayi yang terpapar covid-19 yang menyumbang angka cukup besar, belum lagi pelayanan NICU yang masih terbatas di tiap daerah menjadi rintangan besar kala tenaga kesehatan berupaya menyelamatkan setiap bayi yang ikut terpapar. " Tambah Bella hendak menutup forum.
Presentasi pun selesai, saatnya Bram menilai hasil presentasi, mengadakan tanya jawab atau memberi kritik dan masukan pada penelitian mereka.
" Tema yang di ambil cukup menarik karena ini issue yang sedang hangat di bicarakan media. Namun ada satu kekurangan, saudari tidak membicarakan solusi apa yang kelompok saudari sarankan untuk mengatasi issue tersebut ? " Bram mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan tajam.
Bella berbalik lalu berdiskusi sejenak dengan kelompoknya.
" Terimakasih atas pertanyaannya. Pertama kami tidak membicarakan solusi bukan karena tidak ada namun kami hanya di beri tugas untuk mengangkat issue mengenai lambatnya penanganan pandemi. Kedua untuk solusi, edukasi harus semakin gencar di berikan mulai dari tingkat posyandu dengan memberdayakan tenaga kesehatan profesional, berdayakan para mahasiswa kedokteran untuk ikut membantu mengedukasi ke daerah-daerah karena nakes memiliki banyak peran di saat pandemi ini, mendistribusikan alat kesehatan yang memadai ke tiap daerah terlebih rumah sakit swasta yang justru pasien nya tak terlalu padat namun alat-alatnya hanya menumpuk di ruangan ada baiknya di pinjamkan atau di hibahkan sebagai bentuk peran serta secara sosial alih-alih bertanya pada kami para mahasiswa yang untuk biaya akhir semester saja masih harus pinjam sana sini namun masih bersedia berpanas-panasan di lampu merah untuk aksi solidaritas mencari dana bantuan. " Jawab Bella tegas sedikit menyentil Bram yang berstatuskan direktur rumah sakit swasta, terlebih Bram tau maksud Bella adalah menyindir dimana peran serta dirinya yang jelas-jelas memiliki rumah sakit besar dan fasilitas lengkap.
" Baik terimakasih atas jawabannya, saudari cukup lantang dan secara langsung mengingatkan saya selaku pelaku usaha di bidang kesehatan ini untuk ikut peduli dan berbagi. " Bram menanggapi Bella dengan begitu positif.
Mereka pun di persilahkan kembali duduk di ke tempat masing-masing. Bella langsung mendapat acungan jempol dari sahabat-sahabatnya karena sudah berani menyuarakan pendapatnya yang sebenarnya adalah sebuah dendam yang dibaluti kata-kata elegan.
" Keren Mom, langsung di skak mat ! " Ucap Ghisel semangat.
" Yaiyalah, justru kita para mahasiswa udah berupaya semampunya dengan kapasitas kita untuk ikut berkontribusi. Nah mereka yang punya daya dan kuasa harusnya lebih terusik lah .. "
" Bener Bel, kadang dosen gak tau diri gak ngaca diri sendiri ya ? "
" Ya namanya juga manusia, gak ada salahnya ko kita ingetin. Bukan berarti nyinyir yes ! " Bella bertos ria dengan sahabat-sahabatnya.
Sedang Bram mengulum senyum, sebelum ini Bram sudah biasa jadi dosen tamu dan baru kali ini ada mahasiswa yang berani menyindirnya. Tentu saja Bella berani karena mantan istrinya, namun Bram senang dan menerima karena kali ini Bram bisa melihat langsung bagaimana istrinya berkembang begitu hebat di balik luka dan trauma yang di sembunyikannya dalam-dalam.
__ADS_1
Degg .. Degg .. Jantung Bram berdebar kala mengingat Bella.
Rasanya aku jatuh cinta lagi Bel . Batin Bram