
Bella POV
Kening ku mengerut seketika mendengar perkataan Bram yang begitu berani apalagi dirinya kini tengah menggenggam tanganku. Namun, entah keberanian dari mana aku malah sengaja membalas genggaman tangannya menggunakan kedua tanganku. Aku mengusap lembut tangan yang dahulu membelai ku penuh cinta.
" Bram .. Aku tau kamu cuman buat jokes ke aku. Tapi satu yang harus aku tegasin. Kesempatan yang aku kasih udah cukup, dan aku tak sedikit pun berpikir untuk kembali. " Aku tersenyum setenang mungkin.
" Sebesar itu ya kesalahan aku ? " Tanyanya menanggapi dengan serius.
" Enggak Bram. Justru aku yang sampai saat ini bertanya-tanya sebesar apa kesalahan aku ke kamu sampe kamu tega nyakitin aku ? " Bibir ku bergetar.
" Harus aku akui, kamu adalah patah hati terbesarku sampai saat ini. Harapan aku ke kamu terlalu besar. Dan mungkin disanalah letak kesalahan aku. " Aku melepaskan genggaman tanganku lalu beralih keluar dari kamar. Semakin lama bersama Bram hanya akan membuat nafasku terasa semakin sesak.
Anehnya, setelah sekian banyak luka yang dia torehkan, aku tak pernah bisa membenci dia sepenuhnya. Di hatiku dia memiliki ruang tersendiri yang tak bisa aku hilangkan.
Bodoh !!! Batinku mengerang ketika aku tak sengaja menumpahkan air panas ke tanganku karena terlalu memikirkan kejadian tadi yang membuat ingatanku tentang Bram kembali melintas.
" Aw .. Sial ! " Gerutu ku menahan perih dan panas, aku segera mengaliri tanganku dengan air dingin. Tanpa ku sadari seseorang tengah mengamati ku dari belakang.
" Are you okay Bel ? Aku denger .. Oh my god, kamu kesiram air panas ? Wait aku bawa krim untuk luka bakar. " Bram segera berlari entah kemana yang pasti aku tak begitu memperhatikannya namun ya dia memperhatikan ku terlebih melihat tanganku yang mulai memerah meski sudah di aliri air dingin.
" Kamu ceroboh Bel ! Sampai kapan kamu kaya gini ? " Gerutu Bram yang kini duduk berhadapan dengan ku di meja makan.
" I can take care my self ! " Jawabku ketus karena jengah mendengar ocehannya padahal ini terjadi karena ulahnya yang menggodaku.
" Udah diem jangan so so an mau ngobatin sendiri .. Mana revisian kamu belum kelar. Kamu gak bakalan bisa ngetik loh Bel. Udah ya aku aja yang ngerjain sehari juga clear. " Tawar Bram yakin.
" Entar aku di bilang aji mumpung dibantuin mantan suami sekaligus dosen .. "
" So ? Who cares ? "
__ADS_1
" Aku, aku peduli. Aku gak mau ya orang ngira aku masih ngarep sama kamu " Aku menatapnya tajam yang sialnya hanya di tanggapi dengan senyuman manisnya.
Zayn .. Kamu beruntung mewarisi ketampanan daddy Ucap batinku ketika menatap wajah Bram yang tersenyum menatapku dengan lembut.
Pertahanan ku bisa goyah jika terus bersama salah satu makhluk brengsek namun mempesona ini, benar-benar godaan syaitan yang terkutuk !
Aku mengalihkan pandanganku, setelah Bram selesai mengobati ku lalu memperban bagian yang terkena air panas ia pun terkekeh seolah kecerobohanku adalah hiburan untuknya.
" Bella .. Bella .. Semakin ceroboh semakin aku ingin menikahimu lagi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kamu bisa bertahan tanpa seseorang yang merawatmu. "
" Kamu pikir aku gak bisa hidup sendiri ? "
" Bukan honey, aku berpikir bagaimana jika aku tak lagi ada untuk memperbaiki kecerobohan mu .. Siapa yang akan menemanimu ? Lalu adakah yang lebih baik dari aku untuk mengganti merawatmu ? "
Aneh ! Aku merasakan sesuatu yang aneh dari kalimat terakhir yang di ucapkannya.
" Kamu benar, harusnya aku tidak menghalangi pernikahan kalian waktu itu padahal aku tau kamu tak akan pernah kembali dalam dekapan ku. Hmm .. " Bram menarik nafas sebelum melanjutkan perkataannya.
" Aku kira aku mencintai mu, ternyata aku hanya terobsesi memilikimu Bel. Setalah kata katamu tadi, aku berpikir ulang. Bagiku saat ini cukup mencintai kamu dan melihat kamu bahagia. "
" Apaan sih kamu ? Mabok ? Ngomong gak jelas banget .. " Aku mengomelinya karena memang berbicara melantur.
" Yaudah beres, kamu makan dulu deh kayanya tadi kamu belum sempet makan karena keburu aku suruh mijet. Biar tugas kamu aku yang kerjain, dan anak anak juga aku yang jagain. Saatnya kamu me time ! " Bram membalik badanku menghadap ruang keluarga. Aku yang sedang duduk refleks berdiri ketika tangan kekarnya menarik bahu ku naik lalu mendorong ku pelan menuju sofa depan televisi.
" Istirahat, aku pesenin makanan. Nanti kalo udah ada kamu tinggal makan .. "
Aku menatap Bram dengan penuh tanya. Ada apa dengannya ? Kenapa tiba tiba bersikap manis ? Apa kasihan melihatku terluka ? Tapi aku tak mau di kasihani ! Batinku bertanya tanya, namun aku terlalu lelah untuk memikirkan itu. Aku mengikuti saja keinginan nya lagian ini tidak merugikan ku. Justru aku sangat di untungkan. Aku memejamkan mata sejenak rasanya sangat nyaaamaan ..
Aku membuka mata perlahan ketika mencium aroma yang menggugah seleraku, rasa lapar membuat otak ku segera terkoneksi dengan beragam makanan yang kini tersedia di depan meja.
__ADS_1
" Gila .. Siapa yang pesen ? Udah kaya mau hajatan aja " Heranku melihat lebih dari 10 jenis makanan tersedia disana.
" Bapak bu, beliau bilang gak tau ibu maunya apa jadi pesen aja semua yang ibu suka. " Jawab Ayu yang ternyata sedang menyuapi Queen.
" Eh ada anak mommy yang cantik. Daddy kemana Queen ? "
" Daddy ? Di kamar mommy nemenin dede Zayn kan ? "
" Hmm .. " Jadi dia belum beranjak, Bram benar benar menuntaskan janjinya kali ini.
Tak lagi ku pikirkan tentang Bram, kini perutku yang harus lebih di pedulikan karena sudah bergejolak ingin melahap semua makanan sedap yang hebatnya Bram memesan semua makanan favorit ku.
Aku segera menyantap dengan nikmat, di temani Queen dan Ayu yang ku tawari makan bersama karena ini benar benar banyak dan aku tak yakin bisa menghabiskannya. Di tengah kenikmatan ku, terbersit satu pertanyaan. Apa dia sudah makan ? Padahal Bram menyiapkan semua ini. Aku bukan manusia tak tau diri dan tak tau terimakasih tentunya, itu mengapa aku teringat akannya.
Setelah selesai dengan urusan perutku, aku berjalan menghampiri Bram yang masih berada di kamarku bersama Zayn. Aku membuka pintu perlahan, hatiku seketika menghangat begitu melihat Bram yang tengah mendekap Zayn sambil terlelap.
" Bel .. " Panggilnya, padahal aku melihat matanya tertutup rapat.
" Aku kira kamu tidur "
" Emang ! Tapi harum tubuh kamu bikin aku langsung sadar. " Bram bangkit perlahan lalu duduk di samping ranjang.
" Harum aku ? Harum makanan kali. Itu yang kamu pesen kebanyakan. Abisin gih biar Zayn sama aku " Pintaku sedikit memaksa dengan menyentak tangan Bram.
" Santei dong neng kasar amat jadi cewek. Iya iya aku makan mau cuci muka dulu. "
Aku lihat Bram berjalan gontai menuju kamar mandi lalu terdengar suara gemiricik air, tak lama hanya sekitar 2 menit Bram sudah kembali. Wajahnya pucat pasih, ada iba di hatiku. Mungkin Bram lelah bekerja, lalu membantu menyelesaikan skripsi ku.
" Istirahat aja dulu Bram. Kamu udah kaya mayat hidup serius .. "
__ADS_1