
" Hi dok .. " Sapa Sheila saat melihat Bram yang sedang bersandar di pagar rooftop.
" Hi Shel "
" Lagi apa disini dok ? " Tanya Sheila mendekati.
" Saya ? Sedang melihat pemandangan mungkin. Atau sekedar menjernihkan pikiran. " Jawab Bram tanpa melirik Sheila sedikit pun.
" Sabar ya dok, dokter sedang melalui saat saat yang berat. "
" Terimakasih Sheila, btw kamu ngapain disini ? Residen sekarang ko santai santai ya ? Beda sama jaman saya dulu " Cerca Bram.
" Ah itu .. Saya cari udara segar dulu dok. Kepala saya agak pusing, mual juga. Mungkin GERD saya kambuh dok. "
" Istri saya juga GERD, sekarang saya sendiri yang pantau asupan makan sama pola hidupnya " Ucap Bram tanpa mempedulikan Shela.
Selalu saja Bella yang di bicarakannya. Dasar gak punya empati !
" Kalo gitu saya permisi dulu Shel gak baik dua orang bukan mahram berduaan begini takutnya jadi fitnah. Selamat bekerja. " Bram meninggalkan Shela.
Bram tau sejak lama Shela sudah memberikan perhatian lebih terhadapnya dan jujur saja Bram risih terlebih pernah satu waktu Shela memanfaatkan kekuasaan ayahnya yang seorang pejabat tinggi untuk menemui Presdir Albert berusaha mendekatkan mereka namun untunglah dengan tegas Presdir Albert menolak. Albert tau putra tunggalnya itu hanya mencintai Bella dan berharap kembali. Akhirnya harapan itu pun terwujud, dan ayah Shela Orion Atmajaya itu harus merelakan mimpi putrinya.
Bram
Sayang .. I miss u so bad
^^^Bella^^^
^^^Kita baru bertemu tadi pagi^^^
Bram
Tapi semalam kita gak ketemu. Sini ke ruangan aku kita makan siang
^^^Bella^^^
^^^Aku di bangsal, maaf.^^^
Bram menghembuskan nafas kasar semalam Bram tak pulang karena ada operasi hingga subuh, lanjut praktek pagi dan observasi pasca operasi membuat Bram tak bisa melangkah keluar rumah sakit. Namun tadi pagi begitu Bella datang Bram menunggunya di depan lobby, hanya sekerdar ingin melepas rindu. Namun kini dia merindukannya lagi karena tadi pagi mereka hanya saling berbicara sambil berjalan menuju ruangan masing masing.
" Selamat siang Dokter Bram Albert Wijaya, perkenalkan saya Anabella koass di rumah sakit ini. Mohon bimbingannya dan silahkan ini sogokan untuk makan siang agar saya bisa lulus dengan pencapaian gemilang " Cicit Bella begitu membuka pintu ruangan suaminya. Ternyata Bella hanya mempermainkan Bram, saat Bram memintanya untuk datang makan siang Bella segera menuju kafetaria membawakan makan siang kesukaan Bram.
" Anabella, kamu harus mendapat hukuman karena telah mempermainkan dosenmu, konsulenmu, atasanmu, sekaligus suami dan Ayah anak anak mu " Bram menangkap tubuh Bella hingga terjatuh di pangkuannya.
" Ampun dok, saya kesini sekalian mau ke pasien ko. "
" Pasien ? Dimana ? Siapa ? " Bram mengerutkan dahinya.
" Ya ini disini " Jawab Bella seraya menyentuh hidung Bram.
" Pasien malarindu, kalo gak cepet di temuin nanti bisa mati karena rindu " Lanjut Bella yang sukses membuat Bram terkekeh gemas semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Bram menarik dagu Bella mendekat bibirnya, awalnya Bella menjauh namun Bram segera menahan tengkuk Bella lalu benar benar menciumnya dalam. Bram melu*matnya dengan lembut. Tangannya yang berada di perut Bella mulai menelusup masuk ke dalam kemeja Bella lalu meremas dua gundukan kenyal itu. Bella tak berdaya selain membalas ciuman Bram lalu mengalungkan tangannya di leher Bram memberikan keleluasaan untuk tangan Bram menyentuh apapun yang di inginkannya.
" Hmm Bram nanti ada orang " Jawab Bella dengan sedikit mende*sah.
" Aku tak peduli, ini ruanganku ini rumah sakitku kita juga sedang di jam makan siang sayang " Bram membuka dua kancing atas kemeja Bella hingga menampakkan payu*dara Bella yang nampak menantang.
" Makin gede aja, aku suka "
Plupp Bram memasukkan ke mulutnya memainkan dengan lidahnya lalu menarik melepasnya sampai bersuara.
" Gede karena aku kemarin hamil, nanti juga balik lagi ke ukuran normal " Bella menjawab dengan mata tertutup menikmati.
" Makan siang bisa menunggu, tapi aku gak bisa nunggu. Udah mau 3 minggu kan ? Udah bisa berarti " Bram menatap dengan tatapan puppy eyes nya.
" Disini ? "
" Ya enggak, tuh disana " Bram menunjuk sebuah pintu yang menuju tempat istirahatnya disana ada bed berukuran sedang lengkap dengan tv, kulkas mini dan dispenser air.
" Sekarang ? "
" Iya sayang .. " Bram mengangkat tubuh Bella ala bridal style hingga ke ruang istirahat lalu menguncinya.
Bram merebahkan tubuh Bella lalu mulai melucuti pakiannya dan membuangnya sembarang. Kini mereka sudah dalam keadaan polos. Sebelum melakukannya Bram mencari dulu pengaman di tas nya.
" Jangan berpikir yang enggak enggak ini aku beli kemarin, niatnya buat semalem tapi mendadak ada operasi sampe subuh " Bram menjatuhkan sekotak pengaman beserta struk yang menerangkan tanggal pembelian.
" Kamu jangan KB dulu ya ? Nunggu satu kali datang bulan kalau mau KB. Sekarang biar aku aja yang pake pengaman " Lanjut Bram lalu menggunakannya.
Bram mencum*bui seluruh tubuh Bella tanpa terlewat sejengkal pun. Di raupnya kedua gundukan itu sambil tetap memaju mundurkan pinggangnya.
" Oh shi**t ini benar benar nikmat Bel " Racau Bram yang hampir sampai ke puncaknya sedang Bella hanya bisa mengerang lemas karena sudah mencapai pelepasan.
" Aahh .. " Rasa hangat menjalar di seluruh miliknya yang tertutup pengaman.
Bram ambruk di samping Bella dengan nafas tersengal dan tubuh di penuhi keringat padahal mereka di ruangan ber-AC yang sudah di setting dengan suhu paling dingin.
" Padahal aku gak keberatan kalo hamil lagi " Ucap Bella membuka pembicaraan.
" Jangan yang, jangan sekarang. Kamu masih harus pemulihan. Kita tunda sampai koas mu selesai ya ? " Jawab Bram seraya tersenyum tulus.
Bram bangkit dari ranjang hendak membersihkan tubuh, namun sebelum nya Bram meraih ponsel yang menyala di nakas. Sebuah pesan masuk dari Kevin.
Kevin
Gue udah nemuin pelakunya. Lo dimana ?
^^^Bram^^^
^^^Di ruangan^^^
Kevin
__ADS_1
Ruangan mana ? Ini gue di ruangan Lo tapi gak ada
^^^Bram^^^
^^^Di samping, bentar gue keluar^^^
" Yang, bentar ya ada Kevin di luar " Bram bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya sekilas lalu segera keluar sudah mengenakan pakaian bersih dan rapih dengan rambut sedikit basah.
" Abis mandi Lo ? Jam segini ? " Kevin bertanya tanya.
" Terus kenapa kalo gue mandi ? Kepo banget sih Lo "
" Hah gue tebak di dalem pasti ada Bella kan ? Buktinya ini ada dua porsi makan siang. " Kevin menunjuk ke dua tempat makan yang Bella bawa.
" Yaiyalah Bella, terus siapa lagi ? "
" Gila Lo di rumah sakit juga di garap aja "
" Cuman sejam Vin semalem kan gue gak balik jadi keburunya sekarang .. " Ucap Bram jujur.
" Udahlah ternista gue, back to the topic. Gue tau siapa pelakunya " Ucap Kevin dengan nada serius.
" Siapa .. ? "
.
.
.
.
" SHELA !! " Jawab Kevin yakin
" Cewek berengsek sialan " Mata Bram berubah merah padam berkabutkan kebencian.
" Vin, kasih gue data Atmajaya malam ini juga termasuk track record nya di dunia politik. Gue yakin kalo anaknya bisa main kotor kaya gini pasti dapet didikan dari keluarganya. Gue sikat sekalian semuanya. " Bram beranjak lalu mendekati meja kerja nya dan membuka laci. Bram mengeluarkan sesuatu dari dalam laci.
" Weh anjir mau ngapain Lo .. " Tanya Kevin yang terkaget melihat Bram menodongkan pistol.
" Halah kaya amatir aja Lo, nih punya Lo bawa. Besok kita berburu. Cuman buat jaga jaga sama buat nakutin anjing liar di kandangnya Atmajaya. "
" Lo mau kesana ? Gila sekelilingnya kan bodyguard. " Jawab Kevin panik.
" Ya makannya gue bilang bawa ini buat nakutin anjing liarnya. " Bram menyodorkan pistol itu pada Kevin.
Tenang saja, keduanya sudah memiliki ijin kepemilikan senjata. Mereka juga sering berlatih menembak bahkan bisa di bilang expert. Bukan apa apa dalam bisnis banyak hal kotor dan bisa membahayakan diri mereka. Itulah mengapa mereka membentengi diri dengan segala kemampuan yang ada.
__ADS_1
" Kayanya bakal seru Bram, udah lama gue gak mainan gini " Kevin tersenyum smirk. Jika sudah begini keduanya adalah perpaduan pria kejam dan berbahaya.