
" Dad .. Sekalipun aku masih mencintai Bram, aku tak berpikir akan kembali padanya. Cinta memang tak bisa memilih tapi masa depan harus di pilih. Aku lebih baik hidup sendiri daripada terus di manipulasi. " Ucap Bella yakin.
" Apa kamu akan membatalkan pernikahan kita Bel ? Aku tak keberatan. Aku ingin kamu memilih yang terbaik untukmu. Aku pun memaksamu menikah karena ingin melindungimu dari dia " Akbar menunjuk Bram dengan tatapan elang nya.
" Jika dia berjanji tidak akan mengganggumu, dan akan memberikan hak asuh anak-anak padamu. Maka aku tak akan menikahimu jika kamu keberatan Bel " Lanjut Akbar.
" Bagaimana Bram ? Kamu bersedia memenuhi permintaan Akbar ? Kamu jangan lagi mengganggu Bella dan berikan anak-anak pada Bella maka pernikahan ini tidak perlu terjadi. " Presdir Albert menengahi, jujur saja hatinya pun sama seperti Bram tak ingin mantan menantunya ini di nikahi pria lain selain putranya.
" Sudah .. Aku bukan barang yang harus di perebutkan, aku bisa memilih masa depan ku sendiri. Aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiran. Jika Daddy dan Bram sudah selesai bicara silahkan tinggalkan rumah ini, anak-anak membutuhkan Bram "
" Baiklah Bel, Daddy harap kamu bisa mempertimbangkan ini dengan kepala dingin. Jangan membuat keputusan saat kamu sedang kalut Bel. Jangan sampai kamu menyesali pilihanmu ya ? " Pesan Albert pada Bella sebelum mereka meninggalkan rumah Bella.
" Bella .. Aku serius, aku akan memperbaiki diri. Aku sudah mengakui kesalahan ku. Aku merubuhkan egoku untukmu. Tolong pikirkan baik-baik. "
" Ck .. Bahkan ranting yang patah akan menjadi harapan untuk seseorang yang tenggelam padahal dia tau ranting itu tak akan menyelamatkannya, ia hanya akan membuat rantingnya ikut tenggelam bersamanya. Dan aku tak ingin menjadi ranting itu. Maka tenggelam lah sendiri Bram jangan pernah menggapai apa yang tak seharusnya kamu gapai. Kamu mengerti ? " Tegas Bella dengan tatapan mematikannya, lalu berlalu pergi meninggalkan Bram.
Bella naik ke kamar nya di susul Akbar di belakang Bella.
" Kamu harus tau diri, dia menolak mu ! " Ucap Akbar saat melalui Bram yang berdiri dekat tangga.
" Ranting kayu masih bisa jadi pohon Bar jika di tanam di tempat subur dan di rawat dengan baik. Bella mungkin ranting yang patah, mudah terbakar. Namun aku masih bisa menumbuhkannya menjadi pohon yang kokoh. " Balas Bram yakin.
" Coba saja. Bella tidak sebodoh itu untuk menerimamu begitu saja. " Akbar mengetuk telunjuk nya di bahu Bram.
Presdir Albert menatap Bram memberi tanda untuk meninggalkan rumah Bella dan kembali ke Jakarta. Mereka dalam kondisi yang tak bisa memaksakan, hanya menunggu keputusan apa yang Bella ambil.
Di kamar Bella hanya menatap kosong dari jendela melihat pemandangan di luar sana. Hari masih pagi namun keadaannya makin abu-abu. Akbar masuk tanpa mengetuk pintu namun Bella tak menyadarinya.
__ADS_1
" Bella .. " Panggil Akbar membuat Bella sedikit terperanjat.
" Hmm, maaf aku tak menyadari kamu masuk "
" Kemari, duduklah Bel " Akbar menepuk samping ranjang yang di duduki nya. Bella pun mendekati Akbar lalu menyandarkan kepalanya di bahu Akbar.
" Bagaimana perasaanmu ? Kamu pasti kecewa " Ucap Bella
" Tak apa Bel, jangan pikirkan perasaanku saat perasaanmu saja tidak baik-baik saja. "
" Apa yang harus aku pilih Bar ? "
" Jika harus jujur, sebagai seorang pria tentu aku menginginkanmu menikah dengan ku. Namun sebagai seorang yang mencintaimu, aku ingin kamu bahagia dengan keputusanmu. Apapun itu aku akan menerima dengan lapang dada Bel. "
" Jika aku tak bersamamu, dengan siapa lagi aku ? Apa aku harus dengan pria brengsek seperti Bram haha " Bella terkekeh menertawakan nasibnya sambil bulir air mata pun berjatuhan.
" Astaga Bella .. Bella dalam keadaan menyedihkan pun masih bisa tertawa. "
" Enggak, kamu tetep cantik Bel " Akbar tersenyum menatap Bella lalu mengusap air mata di sudut mata Bella.
Bella belum memutuskan apapun untuk saat ini, Bella ingin merenung. Akbar meninggalkan Bella untuk menenangkan dirinya, Akbar keluar mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya sendiri.
Bohong jika aku tak sakit hati kalau kamu memilih kembali pada Bram. Tapi aku tak mau kamu menyakiti dirimu sendiri karena iba padaku Bel .. Gumam Akbar saat merenung di depan danau yang tak jauh dari rumah Bella.
Hingga sore pun tiba, Bella menghubungi Akbar untuk segera kembali karena dirinya sudah menentukan pilihan. Bella bersama keluarganya dan Akbar berkumpul di ruang tamu menanti jawaban Bella.
" Jadi kamu sudah menentukan pilihan nak ? " Tanya Ayah
__ADS_1
" Ya ayah .. "
" Bagaimana ? "
" Aku tak akan menikahi siapapun, Bram sudah mengakui kesalahannya dengan datang kemari bersama Presdir Albert itu menunjukkan suatu jaminan bahwa dirinya serius dengan perkataannya akan mengubah sikap, namun aku takan kembali padanya. Dan untuk Akbar, aku ingin bersama mu saat hatiku sudah lapang. Tak apa ? "
" Sure, apapun yang menurut mu bahagia aku akan menerimanya Bel. "
" Ayah mengikuti saja bagaimana baiknya nak. Tapi ayah titip pesan jaga dirimu, hidup seorang diri tidak mudah itu mengapa Akbar ingin menikahimu. "
" Tenang pak meski kami tidak jadi menikah, saya akan tetap menjaga Bella. "
" Terimakasih nak Akbar. "
...----------------...
Presdir Albert sudah mendapat kabar tentang keputusan Bella, kini presdir mendesak Bram untuk membatalkan pertunangannya dengan Violine. Kenyataannya Bram tak mencintainya, itu hanya bayangan semata akan Dilara. Presdir Albert tak ingin kejadian yang sama menimpa Violine, sudah cukup pelik masalah yang Bram timbulkan lebih baik segera di sudahi.
" Kalau kamu yakin tak mencintainya, akhiri hubungan kalian jangan membuat dia tersiksa. "
" Baiklah Dad .. Lalu anak-anak ku ? "
" Serahkan pada Bella. Itu sudah kesepakatan, terkecuali kamu ingin Akbar menikahi Bella saat ini juga dan bahkan kesempatan mu akan tertutup rapat jika itu terjadi. "
" Bagaimana jika nanti Bella tetap menikah dengan Akbar ? "
" Relakan ! Daddy sudah cukup membantu mu sampai sini. Kalau bukan daddy yang menyeret mu ke Bandung, kamu sudah kehilangan Bella untuk selamanya. Setelah ini, tergantung padamu. Kalau kamu ingin kembali dengan Bella tunjukkan lah kamu tulus padanya. Satu lagi, Dilara telah tiada jangan bandingkan wanita lain dengannya. "
__ADS_1
" Iya Dad .. "
Hari ini Bram masih bisa bernafas lega, Bella memutuskan untuk tak menikahi siapapun berkat Presdir Albert yang menyadarkannya di saat yang tepat. Presdir menampar putranya yang sedang terbaring di IGD dengan luka di suruh bagian wajahnya, lalu Presdir mulai memaki putranya sebagai pria berengsek dan pengkhianat bukan hanya pada Bella tapi pada keluarga nya sendiri yang sudah mempercayai dan mendukung nya mati-matian. Namun karena kata-kata menyakitkan itu pula Bram sadar seberapa rusaknya dampak dari apa yang telah di lakukannya. Hati kecilnya terketuk, karena pada dasarnya Bram pria yang baik, hanya karena kecemburuan membutakan mata dan hatinya.