
Akbar kini telah berdiri di area parkir kampus Bella. Sudah sore namun Bella belum terlihat batang hidungnya. Cukup lama menunggu, Akbar hanya melihat sahabat-sahabat Bella yang berjalan beriringan, lalu salah satu dari mereka Amanda mengenali Akbar dengan baik sehingga segera mendekati Amanda.
" Hai kak ? " Panggil Amanda.
" Ah hai Manda .. "
" Lagi apa ? Nunggu Bella ? "
" Yaps, ko gak bareng ? " Tanya Akbar heran.
" Itu hmm Bella lagi ada konsultasi dulu gitu deh sama dokter Bram " Jelas Amanda.
" Tau kan kak kalau doi jadi dosen disini ? "
" I know, Bella udah bilang .. " Lagi-lagi Akbar harus bersabar dan menghela nafas panjang.
Amanda menyadari guratan kekecewaan dari wajah Akbar, pikirnya iba melihat Akbar hingga Amanda menawarkan diri untuk menemani sambil minum kopi di cafe sebrang parkiran kampus.
" Kak sambil nunggu Bella kita minum disana yu ? Gue juga sama lagi nungguin dia. " Ajak Amanda ramah.
" Gak papa ? Jadi repotin nih "
" Ayolah kak, kita gak akrab bukan berarti gue gak boleh ramah sama Lo. "
" Okay, thanks before " Akbar mengekori Amanda yang mengambil inisiatif untuk memimpin.
Selagi menunggu Bella, Amanda dan Akbar bertukar banyak cerita, dari mulai asal usul mereka sampai hubungan Akbar, Bella dan Bram.
" Kompleks banget ya kak idup kalian, jadi pusing sendiri gue .. " Amanda terkekeh.
" Iya, malahan udah lelah sebenernya lima tahun lebih ngejar-ngejar harapan palsu. Tapi gimana hati gak bisa lari. "
" Hati emang gak bisa di paksa kak, gue ngerti. But life must go on "
" Jadi gimana menurut kamu ? " Tanya Akbar tertarik akan pemikiran Amanda.
" Kalau gue, gue cukup puas sama hidup gue yang tenang mengalir gak banyak drama gak banyak polemik bukan berarti idup gue gak ada masalah but gue selalu ngerelain apa yang gak bisa gue milikin dan gue syukurin apa yang gue milikin. Menurut kakak, kakak bisa gak dapetin Bella ? Kalau bisa, perjuangin tapi kalo gak bisa I think this is ' the time ' .. "
__ADS_1
" For what ? "
" Buat relain Bella. Kakak harus tau kapan waktu untuk berhenti. Jangan sampai kakak melangkah terlalu jauh dan akhirnya yang ada hanya jalan buntu. " Amanda tersenyum manis pada Akbar memberikan sepatah dua patah nasihat.
Ya meski usia Amanda masih muda, namun Amanda cukup berpikir dewasa selain itu Amanda juga terbilang mandiri karena semenjak SMA sudah berpisah rumah dengan kedua orangtuanya. Didikan kedua orangtuanya juga membentuk mental Amanda dengan baik.
" Smart girl ! " Puji Akbar.
" Tentu kakak tau masuk fakultas kedokteran memerlukan kecerdasan luar biasa dan ketekunan. Jadi ya gue emang pinter haha "
" Aku suka kepercayaan diri kamu .. " Kembali Akbar memuji Amanda, pujian yang biasa sebenarnya karena Akbar memang orang yang ramah dan tipikal pria yang senang mengayomi.
" See ? Kita baru akrab beberapa jam dan Kakak sudah terpana dengan pesonaku " Amanda terkekeh dengan jokes nya sendiri.
" Terimakasih sudah menghibur dan menemaniku hari ini Manda. "
" But not free, sebagai bayarannya kakak harus teraktir gue dan ngasih nomor handphone ke gue. " Amanda menyodorkan ponselnya di meja depan Akbar.
Akbar tersenyum lalu segera meraih ponsel Amanda, entah apa motif Amanda meminta nomor ponselnya namun Akbar tak keberatan. Dekat dengan sahabat-sahabat Bella menjadi keuntungan tersendiri untuknya.
" Bukan hal penting dan gue juga gak bakalan pake nomor kakak buat hal yang gak penting. Gue rasa suatu saat gue bakalan butuh. "
" Ya, kamu bisa menjadi mata dan telingaku Manda "
" Wani piro ? Jadi penguntit bayarannya mahal loh kak " Kembali Amanda menyeringai kuda.
Dari tempat parkir Bella dan Bram sudah berdiri memandangi mobil rover hitam milik Akbar. Mereka saling menatap sejenak seolah bertanya dimana pemiliknya, begitu Bella mengedarkan pandangan, Bella memicingkan matanya melihat kedua orang yang di kenalnya berada di sebrang jalan bersama.
" Akbar .. " Seru Bella
" Aku hampir saja kering kerontang menunggumu, untung Manda sudah menyuntikkan sebagian tenaga sehingga aku tak mati mengering disini. "
" Baguslah, Lo udah bisa deket sama cewek lain mantan istri gue. " Nyinyir Bram yang menatap jealous.
" Kenapa ? Gue emang gampang akrab sama orang. Orang pada nyaman sama gue, gak kaya sama Lo bastard ! " Sindir Akbar tak kalah sengitnya.
" Udah .. udah, aku mau pulang sama Akbar ya ? Bye pak dosen " Bella melambaikan tangan seolah mengejek Bram yang hanya bisa pulang menyendiri.
__ADS_1
" Uuwwuu ada yang panas nih ! " Sindir Amanda yang masih berdiri hendak melangkahkan kaki menuju mobilnya.
" Jangan ikut campur bocah ! Atau nilai kamu .. "
" Apa ? Ini bukan jam kampus ya ? Buat gue, selain di jam belajar Lo bukan siapa-siapa dan Lo gak punya hak buat ancam gue ! Inget gue dapetin nilai itu pake otak, tenaga, dan materi. Jadi jangan Lo rusak seenak jidat Lo Pak dosen yang terhormat ! " Sungut Amanda yang sudah tak tahan lagi untuk mencaci pria yang sangat menyakiti sahabat nya itu.
Amanda adalah sahabat paling dekat serta saksi mata betapa beratnya hidup yang Bella lalui karena si brengsek Bram. Setiap melihat Bram kepalanya terasa mendidih namun selalu di tahan karena menghargai status nya sebagai dosen dan juga menghargai perasaan Bella.
Mendapat perkataan kasar dan makian dari mahasiswinya Bram hanya bisa berdecak kaget.
" Ck .. Kenapa bocah itu ? Bisa-bisa nya dia berkata sekasar itu. Sialan " Maki Bram begitu Amanda melangkah begitu saja.
Hanya tersisa Bram yang merasa terbully semua orang, Bram merenung betapa beratnya mengembalikan keadaan bahkan untuk mendapatkan rasa hormat saja Bram tak berdaya.
Di dalam mobil Akbar memeluk Bella seperti adik kecilnya yang sudah lama tak jumpa lalu mengusap pucuk kepala Bella sambil mengacak rambut Bella.
" Ayolah Aku bukan anak kecil Bar, aku sudah punya dua malaikat dirumah. "
" Haha tapi bagi ku kamu masih menggemaskan seperti 7 tahun yang lalu saat kita bertemu pertama kalinya "
" Kamu merindukanku ? " Tanya Bella dengan puppy eyes nya.
" Tentu, kamu dekat kembali dengan dia lalu melupakan ku. " Ucap Akbar sambil merapihkan anak rambut yang menghalangi rambut Bella.
" Kamu tidak menghampiriku, bukan Bram yang menjadi alasan aku sibuk tapi kuliahku. Seperti kamu tau sebentar lagi aku wisuda. "
" Aku tau .. dan sepertinya dia lebih banyak membantu daripada aku "
" Ya untuk hal akademik dia memang cukup membantu, tapi tidak lebih. " Bella meyakinkan takut Akbar sakit hati.
" Its ok Bella, kamu tak perlu menjelaskan apapun. Perasaan mu adalah milikmu, aku hanya menjagamu agar tidak terluka lagi oleh dia. " Jelas Akbar mengusap pundak Bella.
" Terimakasih kamu selalu pengertian. "
Merekapun melanjutkan perjalanan setelah singgah sebentar di mini market lalu berbincang sesaat. Tak bisa di pungkiri Akbar begitu merindukan wanita yang berada di sampingnya kini.
Apakah aku mampu melepaskan mu seperti yang di katakan Manda Bel ? Bahkan hanya dengan tatapanmu saja hatiku berbunga.
__ADS_1