Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Special One


__ADS_3

Bella kini berada di rumah sakit Wijaya Medical Center, ya rumah sakit milik mantan suaminya sekaligus rumah sakit pendidikan kampusnya. Memang benar-benar harus berkutat dengan lingkungan itu-itu saja saat Bella memutuskan untuk melibatkan Bram dalam kehidupannya.


" Katakanlah gue bodoh karena dulu minta Bram bantu gue masuk kuliah disini. " Bella menundukkan kepalanya ke meja dengan malas.


" Kenapa ? " Tanya Amanda heran.


" Lo tau Bram ada disini ? Dia juga bakal jadi konsulen kita kan ? Mampus gue manda" Rengek Bella.


" Ya mau gimana lagi Bel ? Jangan pikirin Bram nya pikirin aja kerjaan. Nanti kita gak bakal punya waktu buat mikirin doi. "


" Iya sih .. " Baru saja selesai berbicara, orang yang di bicarakan pun datang.


" Saya ada jadwal operasi, kumpulkan para koass untuk ikut mengamati setelah itu kita akan lakukan sesi tanya jawab. " Perintah Bram pada Bella.


" Heh ? "


" Kamu mengertikan apa yang saya ucapkan ? " Tanya Bram tegas.


" Ah iya dok, baik dok " Jawab Bella ragu.


" Gila dia bukan manusia Bel, tiap kita omongin dia pasti nongol terus malah balik ngasih kita kerjaan. Gue gak mau ngomongin dia lagi, bawa sial ! " Gerutu Amanda sambil berbisik karena jarak antara mereka dan Bram belum terlalu jauh.



Bram dengan tatapan membunuhnya, jika di rumah Bram bisa sangat begitu hangat dan ramah namun saat sudah di kampus atau di rumah sakit Bram akan menjadi sosok yang dingin dan tegas. Banyak yang menghindar untuk satu tempat dengannya bahkan jika berpasan di lift karena akan ada saja yang secara spontan Bram tanyakan pada para koass. Membuat mereka berkeringat dingin.


" Berapa jam operasi nya ? " Tanya Amanda.


" 6 jam dari mulai anastesi, kenapa ? "


" Dingin banget disini. Lo kuat dingin ? Bukannya Lo paling sudah buat adaptasi sama suhu dingin ? "


" Gue gak ada pilihan daripada di suruh ngulang stase bedah kan gak lucu. "

__ADS_1


" Hei girls ini gue bawa larutan garam hangat, kalian semua pasti kedinginan kan ? Tenang nanti juga biasa. Peluk selagi disini karena kalian gak mungkin meluk gue. " Ucap Gilang salah satu dokter residen.


" Haha dok anda terlalu berani menggoda seekor macan di depan pawangnya " Kekeh Amanda.


" Maksudnya ? " Gilang mengerutkan kening tak mengerti.


Ya tidak semua tau status Bella merupakan mantan istri Bram, kebanyakan mereka yang tau hanyalah sahabat dari keduanya ataupun para dokter senior.


" Kalian perhatikan dan catat apa yang bisa di catat, okay kita mulai "


Gilang mulai menjelaskan apa saja tindakan yang sedang Bram lakukan, dari tahap ke tahap para koass pun mencatat semampu mereka karena terkadang ada yang miss terlebih jarak merekapun cukup jauh. Itulah mengapa ada Gilang disana, untuk membantu mereka lebih memahami lagi.


6 Jam pun berlalu, operasi telah selesai sebagian dari mereka ada yang sudah menahan kantuk, pegal, pusing dan dingin. Apalagi Bella dan Amanda yang kemarin mendapatkan shift malam, wajah Bella sudah pucat pasih karena lelah. Kepala Bella berputar, sebelumnya dia bahkan tak sempat sarapan karena jadwal operasi Bram di majukan lebih awal di pagi hari. Begitu keluar dari ruang operasi, Bella menjatuhkan tubuhnya di ruang ganti.


" Bel lo kenapa ? " Tanya Amanda khawatir.


" Asam lambung gue .. Gue belum sarapan "


" Gak papa, gue cabut ke kantin dulu. Kasih tau Bram gue ijin gak ikut sesi tanya jawab. "


" Anjir mana berani gue .. " Amanda menatap nanar.


" Yaudah gue yang bakal wa minta ijin langsung. Sana keburu mulai nanti dia ngedumel. " Bella mendorong Amanda agar segera keluar dari ruang ganti.


Nyatanya jangankan pergi ke kantin, untuk berdiri saja kepalanya berputar hebat belum lagi pengelihatannya yang terasa kabur. Selain GERD Bella juga memiliki riwayat anemia. Bisa di bayangkan jika keduanya kambuh bersamaan yang begini lah rasanya. Bella sekuat tenaga menahan dada nya yang terasa terbakar dan mual, seluruh tubuhnya terasa lemas.


Setengah jam berlalu Bella masih berusaha mengatur nafas nya sambil berbaring di sofa. Suara pintu terbuka membuat Bella segera bangkit berusaha untuk duduk. Bella tak ingin terlihat lemah dan di kasihani.


" Hey, you look so bad Bell " Suara dalam yang khas itu mengalun di telinga Bella, Bella tau betul siapa dia.


" Gak papa baring lagi aja kalau masih pusing " Bram menahan pundak Bella yang hendak bangkit lalu mendorong lembut kembali ke sofa.


" Jangan gini Bram, gak enak sama yang lain " Keluh Bella.

__ADS_1


" Aku memperhatikan mu bukan sebagai mantan suami, aku memperhatikan mu sebagai atasan. Kalian disini, termasuk kamu juga adalah tanggung jawab ku Bel " Jelas Bram.


" Tapi aku baik baik aja, pusingnya bakal ilang bentar lagi "


" Jangan keras kepala, aku bawa bubur. Kamu makan dulu ya ? Terus minum obat. Aku ada praktek sampe jam 4 nanti kita pulang bareng. " Titah Bram.


" Hmm makasih Bram .. "


" Apalagi yang kamu rasain selain pusing ? " Tanya Bram.


" Dada aku panas kaya ke bakar, terus mual banget " Bella menjelaskan dengan mata terpejam.


" GERD kamu kambuh kayanya ya ? Kamu gak merhatiin diri kamu sendiri, aku udah bilang koass itu berat. Sebelum menjaga kesehatan orang lain harusnya kamu jaga kesehatan kamu sendiri. " Bram memberi wejangan sambil menyuapi Bella.


" Aku mau muntah Bram .. " Bella berlari dengan sisa kekuatan yang ada menuju toilet yang masih berada di dalam ruangan itu.


Uweekk .. Bella tersungkur di depan kloset, bubur yang baru saja di makan 3 suap dia muntahkan kembali beserta dengan sisa sisa cemilan semalam. Lambungnya benar benar tak bisa menerima makanan untuk saat ini. Perut Bella terus bergejolak hebat di tambah rasa sesak dan panas di dadanya membuat Bella memukuli dadanya berulang.


" It's enough, kamu harus di rawat Bel. Setidaknya kamu harus di infus untuk hari ini. " Bram mengusap punggung Bella lembut membawa tubuh Bella yang lemas masuk kedalam pelukannya. Bella tak melawan tak juga membalas pelukan Bram, Bella hanya merasa membutuhkan tubuh seseorang untuk bertopang saat ini.


Bram mengangkat tubuh Bella lalu menggendongnya menuju bed yang tersedia di koridor tak jauh dari ruang ganti.


" Bella kenapa dok ?" Tanya Gilang yang kebetulan ada disana.


" Kelelahan .. Semalam dia jaga malam, pagi nya ngelewatin sarapan padahal dia punya riwayat anemia dan GERD " Jelas Bram sambil terus mendorong Bella menuju IGD.


" Ko dokter bisa tau banyak tentang Bella ? "


" Dia mantan istri saya ! " Jawab Bram dingin seketika membuat Gilang membeku begitu sampai di IGD.


Bram secara langsung memasangkan infus dan oksigen pada Bella tanpa bantuan perawat atau dokter jaga hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian para dokter dan perawat disana.


Sespesial itu ? Tatapan mereka seakan berkata begitu.

__ADS_1


__ADS_2