
Kevin menarik dua koper besar di tangannya sedang Bram membawa tas kerja dan sebuah tas berisi berkas-berkas penting. Dari pukul tujuh Bella sudah datang namun tak di temani Akbar karena Akbar harus menghadiri rapat penting di perusahaannya.
" Sarapan dulu aja Vin .. " Tawar Bella pada Kevin yang padahal saat itu berdiri bersebelahan dengan Bram.
" Sure, thank you. Hmm gimana dengan Bram ? "
" Kalau dia mau. Silahkan "
" Tentu aku mau. Ini adalah sarapan terakhir ku bersama anak-anak sebelum nantinya kami akan terpisah. Terimakasih untuk kesempatannya Bel " Bram bergegas duduk di ruang makan.
Bella hanya menatap jemu, betapa mantan suaminya ini bermuka tebal dan mungkin urat malunya sudah putus karena dia kini masih bisa bersantai tanpa rasa bersalah. Tidak, bukan Bram tak merasa bersalah, hanya saja Bram berusaha menyembunyikannya agar tak terlihat rapuh di mata anak-anak.
Ayu turun dengan menggandeng tangan Queen serta membawa Zayn dalam gendongannya, sebuah pemandangan indah bagi kebanyakan pria adalah ketika melihat seorang wanita yang pandai merawat keluarga.
" Ekheem .. " Bram menendang kaki Kevin yang kentara sekali sedang memperhatikan Ayu dari tangga sampai kini berada di depan mereka.
" Sakit bangs .. Ahaha bang jago iya bang jago " Kevin meralat perkataan kasarnya karena kini kedua pasang mata polos milik Queen dan Zayn sedang memperhatikannya.
" Awas ya gue bales Lo ! " Bisik Kevin yang duduk di samping Bram.
" Jangan jelalatan sama nanny anak gue. Kaya yang gak pernah lihat cewek aja Lo. "
" Sering tapi gak banyak yang bisa bikin gue terpesona. "
" Halah racun ! " Sekali lagi Bram menendang kaki Kevin membuat Kevin menahan nafas untuk tidak memaki pria sialan di depannya itu.
Mereka menikmati sarapan bersama dengan nikmat, sesekali Bram juga menyuapi anak-anak. Bram tak ingin kehilangan sedikit pun momen berharga ini. Momen yang mungkin akan sulit di rasakannya nanti. Setelah sarapan selesai, mereka berkumpul di ruang tamu karena Bram harus memberikan pengertian pada anak-anaknya terlebih dulu.
" Queen .. karena Queen yang sudah lebih besar dan mengerti jadi daddy mau jelasin ke Queen ya ? Daddy ada perjalan bisnis nak. Sama kaya waktu mommy kuliah, jadi mulai sekarang daddy harus pergi dan gak kita gak bisa sering ketemu. "
" Kenapa ? Daddy kan bisa pulang kerja kesini ? "
__ADS_1
" Hmm bisa aja nak, tapi daddy nanti pasti cape banget. Kalo daddy cape terus sakit nanti daddy malah gak bisa nemuin Queen yang cantik sama Zayn yang ganteng ini. " Bram mencubit gemas hidung kedua anaknya.
" Tapi daddy bakal main kesini tiap minggu kaya mommy kan ? " Queen memeluk Bram lalu menepuk punggung Bram dengan lembut.
" Iya pasti nak, mulai sekarang Queen sama mommy dulu. Daddy janji bakal berusaha bikin kita sama-sama lagi. " Bram mengelus rambut panjang kecoklatan milik Queen lalu berganti menuju Zayn.
" Zayn sayang, karena Zayn anak cowok Zayn harus jaga sama sayang ke kakak ke mommy ya ? "
" Daddy mau pegi ? Ke ana ? " Tanya balita polos itu.
" Iya, daddy mau kerja. Tapi mommy disini biar Zayn gak kesepian. "
" Iya, daddy jangan nakal ya ? Nanti puyang bawa oleh-oleh "
" Iya sayang. Ah Zayn udah pinter. " Bram meraih tubuh Zayn lalu di gendongnya, tak lupa sebelah tangannya pun meraih Queen.
Bram menggendong kedua anaknya untuk ikut mengantar sampai depan. Begitu tiba di halaman Bram pun menurunkan keduanya lalu memeluk hangat kedua tubuh mungil itu. Begitu Bram berdiri dan hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja Queen menghampirinya menarik ujung jas nya lalu menangis sesenggukan tak ingin berpisah dengan Bram.
" Maaf sayang, tapi daddy harus pergi. Daddy kerja kan buat Queen. Tadi Queen kan udah setuju ? Queen anak pinter pasti ngerti ya kan ? " Pras berjongkok menyeka air mata yang jatuh di pipi Queen sambil tak menyadari kini air matanyapun ikut turun.
" Jangan menangis dad. Maaf Queen manja. Daddy boleh pergi. " Queen mengecup pipi Bram lalu mundur menuju arah Bella yang sesekali memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air mata yang hendak bercucuran karena suasana haru ini.
Bram masuk ke mobil dengan cepat, semakin lama disini hanya akan membuatnya semakin berat berpisah. Kevin menyalakan mobil lalu mulai meninggalkan rumah yang sudah di diami Bram selama 3 tahun terakhir.
" Gue belum punya anak, jadi gue belum tau rasanya. Tapi gue yakin Lo pasti kesakitan Bram. Gue gak bisa ngehibur Lo,gue cuman berharap Lo bisa laluin ini. "
" Waktu itu gue jahat banget ya Vin ? Gue bikin Bella pergi padahal rasanya pasti sakit banget. Apalagi dulu Bella masih nyusuin Zayn. "
" Pasti, tapi lihat Bella bertahan. Lo juga bisa, sekarang fokus selesain satu-satu biar semua clear. Termasuk masalah Violine. "
" Daddy yang urus, gue denger daddy putusin kontrak kerjasama dengan V.A.S Group. "
__ADS_1
" Yap .. Sebenarnya ini tindakan nekad karena kita harus cari lagi perusahaan dengan citra dan hasil kerja setara dengan V.A.S belum lagi Presdir Ellan yang saat ini meradang karena hubungan pribadi dan bisnis antara kalian berakhir.
" Kenapa daddy bertindak sejauh ini ? I mean, daddy masih bisa menjalin kerja sama toh gue udah gak bergelut di perusahaan inti. "
" Iya tapi bidang kalian sama. Seputar kesehatan dan penelitian, akan ada satu waktu kalian berpasan dan gue rasa Presdir Albert menghindari itu. "
Bram mengangguk mencoba memahami setiap rinci kejadian yang bisa saja berakhir menjadi malapetaka untuk mereka. Bukan tidak mungkin keluarga besar Violine akan menaruh dendam atas tindakan Albert dan Bram. Mereka akan menganggap ini suatu penghinaan karena berani mempermainkan hubungan hingga kesepakatan kerja.
Presdir Albert menarik nafas panjang, hari ini dirinya tak pergi ke kantor karena hendak menyambut Bram secara langsung. Karena putra kesayangannya itu reputasinya hampir saja hancur belum lagi kali ini membuatnya menambah rival baru di dunia bisnis yaitu V.A.S Group.
" Presdir, apa manuver kita tidak terlalu gegabah ? Setelah putusnya hubungan mereka, saya rasa Presdir Ellan tidak akan diam saja. "
" Tentu aku tau resikonya dry. Tapi demi mempertahan kan menantuku, aku rela mempertaruhkan apapun. "
" Lalu kita bisa saja jatuh sewaktu-waktu "
" Aku hidup di dunia bisnis sudah lebih dari 40 tahun. Dan ya aku tak akan membiarkan apa yang sudah ku bangun runtuh begitu saja. "
Pembicaraan Audry dan Albert pun terhenti begitu mendengar suara mobil memasuki halaman. Mobil yang di yakini di tumpangi oleh Bram. Albert segera keluar dan benar saja Bram berjalan goyah menuju dirinya, memeluknya lalu tubuh Bram merosot ke lantai.
" Daddy .. " Bram menangis di dalam pelukan Albert
" Tak apa Bram, sekarang kamu sedang menebus kesalahan mu. Masih ada daddy dan Kevin yang mendukungmu. "
" Tolong dad bantu Bram bersatu lagi dengan anak-anak dan .. Bella "
" Tentu, dad akan usahakan yang terbaik. Sekarang bangkitlah, kamu adalah calon penerus Wijaya Group kamu harus setegar karang. Jangan goyah Bram " Albert membantu putranya untuk bangkit dan membawanya masuk kedalam.
Orangtua, seseorang yang meski anaknya melakukan dosa besar pun hatinya akan selalu mencintai dengan tulus. Itulah yang di lakukan Albert saat ini meski ada kalanya Albert yang menghukum Bram dengan tangannya sendiri, namun kasih sayangnya pada Bram tak pernah berkurang.
...****************...
__ADS_1
Hi readers terimakasih atas kesediaannya menunggu novel ini up. Maaf ya berbagai kendala membuat author jeda dulu. Oh ya sebagai bocoran akan mulai ada konflik drama perbucinan Bram di next episode jadi stay tune dan siapkan keripik untuk cemilan wkwk❤️