Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Menikahlah Denganku


__ADS_3

" Kenapa Bel ? " Tanya Akbar begitu Bella mulai tenang, Akbar memberikan Bella segelas air putih terlebih dulu.


Bella menggeleng, menolak untuk membicarakan hal buruk apa yang telah menimpanya.


" Apa ini ada hubungannya dengan Bram ? " Akbar memperhatikan gerak gerik Bella yang semakin terisak saat Akbar menyebutkan nama Bram. Akbar memegang pundak Bella untuk meyakinkan Bella bicara namun Bella malah meringis kesakitan.


" Berbalik .. " Akbar memutar tubuh Bella memunggunginya, Akbar menarik sedikit bagian atas kaos Bella ke bahu, di lihatnya memar di kedua sisi yang sama.


" Apa Bram yang melakukan ini Bel ? Apalagi yang dia lakukan padamu ? "


Bella mengangguk, sebenarnya tak ingin mengadu namun Akbar terus mendesak apalagi raut wajah Akbar menjadi muram kini. Bella akhirnya mengatakan yang sebenarnya.


" Dia membenturkan tubuh ke tembok, mengurungku lalu .. " Bibir Bella bergetar karena masih merasa ketakutan, kerongkongannya terasa kering hingga nyaris tak bisa bersuara.


" Dia menyentuhku dengan kasar namun tak berhasil memperkosaku karena seseorang menggedor ruangan itu. Aku .. Hiks " Bella tak bisa lagi melanjutkan pembicaraan, Bella merebahkan kepalanya di dada bidang Akbar lalu tenggelam dalam tangisannya.


Rahang Akbar mengeras, tangannya kini mengepal menahan amarah. Sebisa mungkin Akbar menenangkan Bella. Akbar mengambil krim untuk meredakan nyeri pada memar Bella. Ternyata bukan hanya di punggung, lengan Bella pun ikut memar. Akbar membawa Bella ke kamar untuk istirahat lalu menyelimutinya.


" Aku cari makanan dulu ya ? Kamu istirahat " Titah Akbar, Bella mengangguk menurut.


Akbar keluar dari kamar lalu segera menyambar kunci mobilnya yang berada di nakas. Akbar tak tahan lagi membiarkan Bella di perlakukan kejam seperti ini. Dengan penuh amarah, Akbar memacu mobil SUV nya dalam kecepatan tinggi menuju rumah Bram. Malam ini sepertinya akan ada pertumpahan darah. Dalam waktu singkat, Akbar sudah sampai di halaman rumah. Akbar berdalih bahwa dia membawa titipan untuk Bram dari Bella sehingga para scurity pun mengijinkan Akbar masuk terlebih Akbar juga tak asing lagi.


Anak-anak sepertinya sudah tidur karena begitu sepi. Hanya ada Bram yang menunggu di ruang tamu. Sebelumnya scurity sudah menginfokan bahwa Akbar akan masuk.


" Apa yang Bella ingin berikan padaku Bar ? " Tanya Bram dengan senyum smirk


" Ini .. " Akbar berjalan cepat menuju arah Bram lalu 'bbuugghh' satu tinjuan keras melayang ke pipi sebelah kiri Bram membuat Bram tersungkur menabrak kursi. Melihat Bram yang belum mempersiapkan diri, Akbar kembali melayangkan tinjuannya ke perut dan pipi kiri kanan Bram. Ayu yang mendengar keributan segera turun untuk melerai mereka.

__ADS_1


" Astagfirullah, udah pak udah cukup ada anak-anak kasihan kalo mereka kebangun. " Ayu menjadi perisai di antara keduanya namun tak berhasil menghentikan pertikaian itu, Akbar mendorong Bram hingga halaman samping rumah.


Ayu panik dan segera menghubungi Kevin, scurity pun tak sanggup memisahkan mereka hingga beberapa saat Kevin datang.



Bram terkapar di sudut halaman saat Kevin datang. Kevin dan scurity menahan tubuh Akbar sekuat tenaga agar tak lagi menyerang Bram.


" Lo gila Bar ? Ini tindak kriminal ! Lo bisa ngebunuh dia " Tahan Kevin


" Yang gila bos lu brengsek ! Dia hampir perkosa Bella di kampus dia sendiri. Harusnya Lo awasin manusia bejat kaya dia ajg ! " Akbar menghentikan serangannya membuka sedikit kancing kemeja nya gerah.


" Heh baji**ngan ! Gue pastiin gue bakal nikahin Bella besok ! Gue bakal tuntut hak asuh anak-anak. Laki-laki brengsek kaya Lo gak layak buat besarin mereka. " Ucap Akbar untuk terakhir kali nya. Kesadaran Bram hampil hilang namun kata-kata Akbar terdengar jelas di telinganya.


Kevin segera membawa Bram pergi ke rumah sakit di bantu security.


" Lo bener-bener bodoh Bram ! " Kevin merutuki perbuatan Bram saat mereka dalam perjalanan menuju IGD.


" Sorry gue gak bisa lagi nutupin ini. Presdir Albert pasti tau apa yang Lo lakuin. "


...****************...


Akbar kembali ke apartemen dengan sedikit luka di bibirnya karena Bram sempat melawan. Bella yang masih trauma langsung terbangun ketika mendengar suara pintu di buka lalu mengambil gunting di nakas samping tempat tidur.


" Tenang Bel ini aku. Akbar " Ucap Akbar sambil mengangkat tangannya.


" Akbar ? "

__ADS_1


" Iya Bel, kemarikan. Biar aku simpan. Ini bisa melukaimu " Akbar merebut gunting di tangan Bella lalu menarik tubuh Bella dalam pelukannya.


" Tenanglah Bel, kamu aman bersamaku. Lihat aku Bell " Akbar menelungkup wajah Bella membuat mata mereka saling bertatapan.


" Ayo kita menikah besok ! Dia tidak akan mengganggu mu lagi jika kita sudah menikah. Tak apa kita menikah secara agama jika kamu masih ragu. Aku hanya ingin melindungimu Bell " Ucap Akbar yakin


Bella menatap lekat manik hitam tajam milik Akbar, Bella tercekat tak bisa menjawab. Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap, Bella menelisik sebuah jawaban dalam pikirannya. Tak ada pilihan lain ? Bella harus mengamankan diri selama dua sampai tiga tahun kedepan dari ancaman Bram karena Bella tak mungkin melarikan diri lagi. Pendidikan nya harus selesai, demi karirnya demi anak-anak juga.


" Setelah kita menikah, aku akan menuntut hak asuh anak-anak. Kalian akan bersama lagi. Aku akan pastikan Bram menderita ! " Bella tak menjawab hanya mengangguk lemah.


" Bersiaplah kita akan pulang ke rumah orangtua mu. Aku akan meminta Ayah mu menikahkan kita. "


" Iya Bar, terimakasih "


Bella mengemasi beberapa pakaiannya menurut pada perintah Akbar, begitu juga dengan Akbar. Setelah selesai berkemas mereka langsung meninggalkan ibukota menuju Bandung tempat lahir Bella. Entah orangtua akan memberi restu atau tidak namun menurut Akbar ini sudah yang terbaik untuk mereka. Akbar tak mau Bella, disakiti Bram lagi. Sepanjang perjalanan Bella hanya diam membisu, Akbar tak banyak bertanya memberikan waktu untuk Bella menenangkan diri. Setelah beberapa jam merekapun sampai tepat dini hari sebelum subuh.


" Assalamu'alaikum .. " Bella memeluk Ayahnya yang pertama kali membuka kan pintu


" Wa'alaikumsalam .. Kenapa nak ? " Ayah menepuk punggung Bella lembut menenangkan putri kesayangannya.


" Biar saya yang jelaskan pak " Ucap Akbar yang berada di belakang Bella.


Akhirnya merekapun masuk, Akbar menjelaskan duduk permasalahannya dengan terus terang agar keluarga Bella mengerti. Ayah mengelus dada tak menyangka putri nya akan di sakiti oleh pria yang dulu begitu di percayainya.


" Astaghfirullah kenapa Bram setega itu .. Ayah mengerti nak Akbar. Terimakasih karena nak Akbar ingin menjaga putri Ayah. Ayah merestui kalian. Besok Ayah akan panggil penghulu lalu Ayah akan menikahkan kalian. Sekarang istirahatlah dulu "


Ayah masuk ke kamarnya, Ayah berusaha menyembunyikan raut kecewa dam sakit hatinya. Di kamar ayah menundukkan wajah menangisi nasib putrinya. Ayah yang biasanya begitu tegar, begitu mendengar putrinya disakiti lagi pria pun hancur perasaannya. Ibu yang masih terlelap seketika terbangun ketika mendengar suaminya terisak.

__ADS_1


" Kenapa yah ? " Tanya Ibu


" Ada Bella pulang, temuilah di kamarnya. " Titah Ayah masih dengan mata yang memerah dan wajah yang di genangi air mata.


__ADS_2