
Hari ini tender proyek dari Wijaya Group akan di mulai. Beberapa perusahaan mengikuti tender dan memberikan presentasi terbaik termasuk Akbar, kebetulan saat itu yang memutuskan hasil tender adalah Presdir Albert. Presdir membatasi pergerakan Bram dalam banyak projek termasuk projek yang Bram bangun bersama V.A.S Group.
Setelah mendapat proposal dan kandidat kuat, Presdir Albert mengadakan meeting bersama Bram, Kevin, dan beberapa tim dari berbagai divisi. Meeting membahas tentang perusahaan mana yang tepat untuk memenangkan tender.
" Perusahaan TINUS paling memenuhi kriteria kita menurut saya. " Ucap Kevin
" Ya benar, teknologi yang mereka kembangkan pun selalu berinovasi pada jaman. Mereka selalu selangkah lebih maju, mengikuti kebutuhan pasar. "
" Perhitungan margin juga masih di angka aman dengan keadaan pasar sekarang. Kita masih bisa memberi kualitas terbaik dengan harga terjangkau. "
" Baiklah, jadi bisa kita putuskan untuk pemenang tender jatuh ke perusahaan Teknologi Inovasi Nusantara. "
" Baik Presdir .. "
Semua sepakat, hanya Bram yang tak angkat suara di forum. Bram terlalu muak dengan keadaan kenyataannya dirinya yang kini hidup di sangkar emas. Di bawah belenggu ayahnya. Jabatan Bram pun kini di turunkan menjadi wakil dari Albert. Menurut Bram keberadaannya pun sudah tak penting lagi.
" Dad .. Bram ingin kembali menjadi dokter. " Ucap Bram dengan raut berantakan
" Boleh saja, tapi selesaikan proyek terakhir ini. Kamu sudah terlibat dan harus bertanggung jawab sampai semua rampung. "
" Baiklah Dad, tolong beri Bram tugas jangan terlalu membatasi ruang gerak Bram "
" Dad tak pernah membatasi mu. Kamu saja yang tak mau terlibat pada hal-hal yang Dad pimpin. Apa kamu merasa Dad merebut semua milikmu ? "
" Tidak. Semua ini milik Dad, Bram hanya punya nama. Bram permisi. Selamat siang. " Bram meninggalkan ruangan Albert lalu menuju ruangan Kevin. Kini Bram yang sampai harus bertanya apa yang harus di lakukannya di kantor. Bram sudah kelewat bingung dan kalut.
Di ruangan Kevin, Bram meminta saran tugas apa yang harus di ambilnya hingga proyek ini selesai. Tugas yang tak begitu berat tapi punya jangka panjang.
" Gampang, minta daddy tugasin Lo buat pimpin rapat di tiap pertemuan sama Tinus. Sebenarnya beliau amatin gue, tapi ko gue ngerasa ngelangkahin Lo. Jadi mending Lo aja, biar gue yang jadi pengamat. "
" Gue kira daddy mau terjun langsung. "
" Ayolah daddy udah tua Bram mana kuat urusin proyek gede kaya gini. Daddy cuman ngekordinasi gerak kita aja. "
__ADS_1
" Jadi kaya boneka ya ? "
" Ya menurut lo apa ? Gue juga kemarin-kemarin jadi boneka lo gue ingetin kalo lo gak nyadar. "
Dalam waktu seminggu kedepan akan di adakan pertemuan dengan Tinus selaku pemenang tender untuk mulai membahas agreement.
...****************...
Tiga hari pasca tender itu, Akbar mendapat pemberitahuan bahwa perusahaan nya menjadi pemenang tender. Hatinya merasa begitu puas, Akbar sudah menantikan momen ini dan benar-benar fokus untuk menghadapi tender. Selama itu juga Akbar memilih tak menemui Bella selain untuk membuatnya fokus pada tujuan awal, Akbar juga memberi ruang pada Bella untuk menerima keberadaannya.
Akbar kini berada di kampus Bella, sudah pukul 5 sore Bella masih belum keluar juga padahal Akbar sudah menunggu sekitar 1 jam. Akbar menghubungi Bella beberapa kali namun tak kunjung terhubung sampai ketika Akbar mencoba menghubunginya kembali tiba-tiba saja segerombolan mahasiswa terlihat keluar menuju area parkir, di tengah mereka ada Bella yang terlihat begitu lesu sebenarnya ke semua di antara mereka begitu lesu.
" Bella .. " Panggil Akbar ketika hampir saja Bella berbelok ke arah lain
" Pak Akbar ? " Bella masih mengenali sosok itu, pria yang dulu menjadi lelaki yang begitu di idamkannya. Akbar mendekati Bella.
" Hey Bell ! Long time no see ya ampun kamu makin dewasa aja haha "
" Ngapain bapak kesini ? "
Akhirnya mereka memilih melanjutkan pembicaraan di kafe dekat kampus. Bella meminta Amanda untuk pulang terlebih dulu.
" Jadi gimana ? "
" Saya menang tender di perusahaan itu. Setahun saya coba berbagai macam cara buat bisa tembus ke Wijaya tapi selalu gagal. Akhirnya momen ini dateng juga, saya janji kalo saya berhasil masuk Wijaya saya mau nemuin kamu. "
" For what ? "
" Untuk membuktikan saya bisa lebih baik dari Bram, minimal saya bisa menyaingi Bram .. "
Bella pun kini mulai tertawa ringan, seakan lucu saja apa yang di katakan Akbar.
" Maaf pak saya ketawa bukan mau nyepelein bapak ya ? Tapi pak menurut saya, bapak dan Bram itu punya kelebihan masing-masing jadi gak ada yang lebih unggul dalam semua hal. Kalian unggul sesuai versi kalian masing-masing. Menurut bapak saya menilai orang dari kemapanan dan hartanya ? Enggaklah pak. Kalo kaya gitu mana mungkin saya lepasin Bram. "
__ADS_1
" Jadi sia-sia dong saya berjuang .. " Akbar berpura-pura memasang wajah sedih.
" Gak sia-sia saya tau gimana selektifnya Wijaya dalam mencari partner bisnis. Saya turut bahagia mendengar kesuksesan Bapak. Tapi ingat jangan karena saya, tapi ini karena memang bapak layak. "
" Kamu makin dewasa Bel. Saya makin ter bela-bela deh .. " Ucap Akbar terus terang
" Jangan terlalu berharap ya pak ? Saya belum bisa buka hati. " Bella tersenyum manis berusaha menolak secara halus.
" Tenang aja Bel, saya gak akan maksa. Tapi kita bisa temenan kan ? Kaya dulu lagi. "
" Sure .. Selama tidak lebih why not ? "
Nanti akan ada saatnya pasti lebih Bel
Batin Akbar
Setelah percakapan panjang mereka, Akbar mengantarkan Bella pulang ke apartemen Amanda. Suasana di mobil begitu hening, Bella terlihat masih canggung bertemu kembali dengan Akbar. Hatinya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada Bram, Bella saja merasa akan butuh perjalanan panjang untuk memulihkan diri menguatkan hati menerima seseorang yang baru. Namun tak apa biarlah untuk saat ini seperti ini, Bella pun tak menutup kemungkinan jika memang ada yang bisa meluluhkan hatinya dengan senang hati Bella akan menerima.
" Terimakasih ya Bel, sudah mau ketemu dan bicara sama saya. "
" Sama-sama pak. Lain kali berkabar dulu ya kalo mau ketemu ? Kasian Bapak nunggu lama. "
Hmm, kamunya aja yang gak jawab saya !
Gerutu Akbar dalam hati
" Ah iya Bel. Sana masuk dingin udah malem juga. "
" Iya pak. Terimakasih .. Hati-hati di jalannya. "
Akbar pun berpamitan lalu meninggalkan Bella yang masih setia menunggu di depan lobby apartemen. Bella sengaja membiarkan Akbar yang pergi terlebih dahulu.
Entah keburuntungan atau bagaimana, setelah cerai dari Bram begitu mudah para pria di luar sana mendekati Bella bahkan dosen nya yang hanya lebih tua 4 tahun dari usianya kini gencar mendekati Bella.
__ADS_1
" Oh Tuhan kuatkan hamba .. " Batin Bella yang merasa lelah menjadi pusat perhatian