Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Meledaknya Amarah


__ADS_3

Beam menggeliat ketika sinar mentari pagi jatuh menerpa tepat di wajahnya yang terlihat berantakan. Tangan Bram menyusuri tiap inci ranjangnya mencari seseorang yang semalam terasa begitu nyata memberikan kehangatannya. Aromanya, sentuhannya, erangannya semua Bram sangat familiar dengan nya.


Apa itu hanya mimpi ?


Batin Bram yang masih berat untuk membuka mata efek pusing semalam.


Namun karena rasa penasaran yang mengganggunya, Bram membuka mata mengumpulkan kesadaran dengan susah payah. Bram menyibak selimut yang di pakai menutupi tubuhnya, ternyata dirinya tak di lapisi sehelai benangpun. Berarti semalam bukan mimpi, pikir Bram. Bram bangkit mengenakan bathrobe nya lalu keluar dengan tergesa mencari keberadaan Bella yang di yakini semalam bersamanya.


" Yu apa ada Bella kesini ? " Tanya Bram ketika melihat Ayu yang tengah bermain dengan Zayn.


" Iya Pak, Bu Bella sudah pergi tadi pagi sekali. "


" Kemana ? "


" Entahlah Pak, Ibu hanya menitipkan kunci mobil dan mengirim beberapa pack Asip untuk Zayn. "


" Sial " Maki Bram kesal


Bram kembali ke kamar untuk segera membersihkan diri. Bram melihat pantulan wajahnya di depan cermin dengan penuh amarah Bram memukul cermin berulang hingga darah segar berjatuhan, cermin merobek sela tangan Bram.


" Ada apa dengan mu Bella ? Kenapa kamu lakukan ini padaku ? " Monolog Bram frustasi


Dilain tempat Bella berjalan menyusuri koridor kampus, Bella termasuk orang yang humble dan mudah beradaptasi. Dalam waktu singkat saja Bella sudah memiliki sahabat yang dikenal dari kalangan keluarga berpengaruh, ada putra seorang pejabat, designer, konglomerat, dan dokter sukses. Entah mungkin terbawa aura Bram, meski sudah bersikap biasa dan berpenampilan sederhana pun Bella malah mendapat circle pertemanan yang serupa dengan Bram. Namun untunglah kesemua sahabatnya itu memiliki karakter yang positif.


" Kenapa Mom ? " Tanya Amanda putri seorang gubernur.


" Aku ? Baik-baik saja tentu .. " Jawab Bella dengan senyum kepalsuan


" Wait, apakah ada nyamuk yang semalam menggigitmu mom ? Lehermu ! " Reza memperingatkan sesuatu yang nampak merah di leher Bella.


" Oh God, aku lupa menutupinya. " Bella segera mengambil syal di tas nya.


" Wah sepertinya semalam mommy kita habis bertempur dengan daddy ? " Goda Gishel.


" Ya untuk yang terakhir ! " Jawab Bella cuek.


" Terakhir maksudmu ? " Tanya Zidane penasaran.

__ADS_1


" Aku memutuskan untuk berpisah dengannya. "


" Why ? " Mereka menjawab serentak


" Dia tidak mencintaiku, haruskah aku berjuang ? Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri dengan mengemis cinta. "


" Ahh mom, semoga kamu kuat dan tegar. Lalu bagaimana anak-anak ? "


" Aku tinggalkan bersama daddynya untuk sementara waktu. Sampai aku bisa mencukupi kebutuhan mereka dengan layak. Bram tidak akan melepaskan ku jika aku membawa anak-anak. "


" Ya aku mengerti Bell, so kamu sekarang dimana ? "


" Sepertinya aku akan mencari kosan dekat kampus. "


" No ! Aku tidak rela. Tinggallah bersamaku, aku di apartemen sendirian. " Pinta Amanda


" Hmm aku bersedia, tapi aku ingin bayar sewa. Kalo kamu memberiku tumpangan cuma-cuma aku gak mau. "


" Ok deal ! " Amanda dan Bella berjabat tangan lalu ke empat sahabat nya itu memeluk Bella erat memberikan kekuatan untuk Bella.


Tidak mungkin dia membolos bukan ? Untunglah aku tau jadwalnya


Bram menanti dengan sabar, mengintai satu persatu orang. Lalu mata Bram memicing ketika sore tiba segerombol pria dan wanita berjalan bersama tertawa dengan begitu lepas, salah satu wanita itu Bram sangat mengenalinya, dia Bella. Prediksi Bram tepat sasaran. Bella hendak naik ke mobil Amanda saat tiba-tiba Bram menghadang langkah mereka.


" Bram .. ? " Ucap Bella lirih


Ke empat mata sahabatnya menatap takjub, ini pertama kalinya mereka melihat Bram. Biasanya mereka hanya mendengar cerita Bella yang selalu memuji ketampanan suaminya itu.


" Ikut aku Bell. Aku mohon kita perlu bicara. "


Kompak Reza dan Zidane membentengi tubuh Bella yang hendak di tarik oleh Bram.


" Jangan ikut campur urusan saya ! " Bentak Bram


" Gak papa Za, Dan .. Aku bisa nanganin ini. Kalian balik duluan aja. " Bella menengahi takut terjadi perkelahian antara mereka


" Baiklah, tapi jika pria ini menyakitimu segera hubungi kami ! " Ucap Reza posesif.

__ADS_1


" Aku dan Gisel akan menunggu di mobil. " Amanda menepuk pundak Bella


Bram menarik tangan Bella membawa Bella ke mobilnya yang berada tak jauh dari sana. Bella membeku tak bergeming. Bella hanya menanti Bram yang membuka suara.


" Semalam .. bukankah kamu pulang ? Kamu yang menemaniku tidur ? " Bram memulai percakapan


" Ya lantas ? "


" Aku kira kamu akan kembali, tapi kenapa tiba-tiba pagi ini kamu meninggalkan ku ? "


" Kenapa ? Karena aku bukan lagi nyonya di rumahmu. Aku mohon hentikan Bram, kamu membuatku terkurung di sangkar emas. Lepaskan aku seperti awal kesepakatan kita. "


" Persetan dengan kesepakatan itu, sekali kamu menjadi istriku aku tak akan melepaskanmu. "


" Aku benar-benar MUAK denganmu Bram. Apa mau mu ? Kamu meniduriku namun dihatimu ada wanita lain. Kamu menahanku namun cintamu untuk wanita lain. Kamu brengsek ! Aku lebih baik mati daripada hidup dalam obsesimu " Bella memukul dada Bram berulang, air matanya tumpah. Entah keberanian dari mana Bella membuka tas dan meraih pisau cutter hendak menghunuskan nya tepat di leher.


" Bella ! Jangan gila ! " Bram segera merebut pisau itu dari tangan Bella membuat tangan nya sendiri terluka.


" Iya AKU GILA ! AKU GILA KARENA KE EGOISAN MU "


Hari itu segala derita, perih, kecewa yang Bella tahan selama ini meledak. Tak ada lagi wajah tegar nan percaya dirinya. Bella benar-benar hancur. Susah payah menata hatipun jika Bram terus menerus mengejarnya rasanya sia-sia saja. Rasa sakit yang menusuk hati Bella membuatnya sesak sampai serasa tercekik. Bella memukul dadanya masih dengan air mata yang berjatuhan. Bella menangis histeris di depan Bram yang shock melihat Bella nyaris mengakhiri hidup di depan matanya sendiri.


Setelah Bella puas menangis, Bella menundukkan kepalanya bersandar pada dashboard mobil. Bram terus menitikan air mata melihat Bella yang saat ini begitu hancur.


" Apa sesakit itu ? " Tanya Bram perlahan sambil mengelus rambut Bella namun segera di tepis nya.


" YA SAKIT BRAM INI SANGAT SAKIT. Bayangkan bagaimana sakitnya dulu kamu kehilangan Dilara. Dan lebih kejamnya nasibku karena aku di khianati suamiku. Dilara pergi meninggalkan mu dengan cinta dihatinya. Lalu kamu ? " Bella mencengkram kerah kemeja Bram, amarah menguasainya hingga rasanya ingin mencekik pria di depannya ini.


" Maafkan aku .. "


" Aku sudah cukup memaafkan mu, aku menyerahkan anak-anak padamu. Aku hanya meminta ketenangan tidak lebih. Tolong ! Aku lelah Bram. "


" Tapi aku ingin kita seperti dulu. "


" Aku tidak bisa ! Cukup, keserakahanmu menyakitiku. "


Bella membuka pintu mobil lalu berlari menuju mobil Amanda yang masih menunggunya. Amanda dan Ghisel sama-sama kaget melihat penampilan Bella yang begitu kacau. Sebelum Bram kembali menyusul, Amanda segera tancap gas meninggalkan area parkir. Ghisel dengan erat memeluk Bella menenangkannya.

__ADS_1


__ADS_2