Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Emosional Momen


__ADS_3

Berbeda dengan Queen yang bisa mengenali mommy nya dengan cepat, Zayn nampak bingung dan terheran-heran.


" Halo Zayn .. " Panggil Bella dihadapan nanar kecoklatan milik putranya


" Ini mommy sayang, Zayn kenal mommy ? " Bella berusaha membangun komunikasi dengan Zayn masih sambil menggendong Queen


Demi Tuhan, Bella ingin menjerit sambil menangis tersedu ketika melihat putra bungsunya bahkan tak lagi mengenalnya. Hatinya hancur berkeping-keping karena Zayn malah menelungkupkan wajahnya pada bahu Ayu seolah takut pada Bella.


" Mommy turun .. " Pinta Queen dan Bella segera melepaskan Queen dari gendongannya


" Gak papa de, jangan takut. Ini mommy yang tiap malem nemenin kita bobo. " Ucap Queen dengan lembut pada adiknya itu.


" Iya Zayn ini mommy yang suka nyanyi buat Zayn di tv " Ayu meyakinkan


" Mommy coba nyanyi you are my sunshine yang mommy rekam. Tiap malem Zayn bobo suka dengerin itu. " Jelas Queen sambil memeluk boneka kesayangannya


Dengan suara yang bergetar dan air mata yang masih bercucuran. Bella mulai membuka suaranya, awalnya begitu lemah karena Bella pun merasa tenggorokannya tercekik hingga sampai di reff nya suara Bella mulai stabil. Dengan penuh harapan dan cinta Bella menatap wajah Zayn lalu mengelus pipinya untuk yang pertama kali setelah dua tahun lamanya.


...You are my sunshine...


...Kamu adalah sinar matahariku...


...My only sunshine...


...Satu-satunya sinar matahariku...


...You makes me happy...


...Kamu membuat ku bahagia...


...When skies are grey...


...Saat langit kelabu...


...You'll never know dear...


...Kamu tidak akan pernah tau sayang...


...How much I Love You...

__ADS_1


...Betapa Aku Mencintai Mu...


...Please don't take...


...Tolong jangan ambil...


...My sunshine away...


...Sinar matahari ku...


Bella menyelesaikan nyanyiannya lalu tak berapa lama, satu kata terucap dari mulut kecil Zayn.


" Mommy .. " Panggil Zayn yang kini mengenali suara Bella.


" Iya Zayn ini mommy. Ah pangeran kecilku sudah bisa bicara ternyata. Terimakasih nak terimakasih. " Bella menggendong tubuh kecil Zayn yang kini bersedia di sentuhnya


" Maafkan mommy tidak memberikan asi hingga tuntas untukmu Zayn, mommy tidak ada di saat langkah pertamamu, mommy tidak tau kata pertama yang kamu ucapkan dan mommy tidak pernah ada untukmu di saat kamu sakit atau kesulitan. Maafkan mommy maafkan mommy Queen Zayn. " Bella mendekap erat kedua buah hati nya.


Momen yang sangat emosional untuk mereka hingga Bram dan Ayu pun menitikan air mata tak kuasa menahan haru. Bram ikut merutuki tingkah bodohnya di masa lalu, andai dia tak bersikap begitu arogan mungkin baik Bella atau anak-anak tidak akan kehilangan momen mereka tumbuh bersama.


Bram merasa bersalah untuk itu.


" Mommy, we miss you so bad. Thank you and I love you " Ucap Queen tulus sambil mengusap air mata Bella


" I love you too Queen, terimakasih untuk apa sayang ? "


" Terimakasih karena mommy pulang dengan selamat dan sehat seperti yang selalu daddy ajarkan ke Queen saat mendoakan mommy. "


" Benarkah ? "


" Ya Queen minta, Ya Allah selamatkan dan sehatkan mommy dimanapun mommy berada. Bawa kembali mommy kami pulang dalam keadaan yang baik dan di limpahi ke bahagiaan. Daddy yang ajak Queen berdo'a kalo Queen rindu mommy. "


Sekilas Bella menatap Bram yang masih tak bisa menghentikan air matanya.


Terimakasih Bram, mungkin kamu gagal menjadi suamiku tapi kamu berhasil menjadi ayah anak-anak kita


Batin Bella yang tak sanggup mengatakannya secara langsung


" Hmm kalau kamu tidak keberatan kamu bisa temani anak-anak sarapan. Aku mau mencari udara segar dulu. " Ucap Bram berusaha mencairkan suasana yang menjadi begitu canggung untuknya.

__ADS_1


Bram melangkahkan kaki ke halaman rumah, Bram duduk di kursi taman sambil menatap mainan anak-anak yang tergeletak di atas playmat. Bram membayangkan Bella bersama anak-anak berada disana menikmati setiap tahap tumbuh kembang mereka yang tlah Bram rebut paksa selama dua tahun kebelakang. Bram membayangkan betapa bahagianya Bella dengan senyum manisnya melihat langkah pertama Zayn, mendengar kata pertama yang keluar dari bibir Zayn adalah 'daddy' dan membayangkan betapa cemburunya Bella mendengar itu lalu melampiaskannya dengan memukul lengan Bram hingga mereka tertawa lepas bersama sebagai satu keluarga yang utuh dan hangat.


Air mata kembali meluncur di pipi Bram kala membayangkan hal-hal indah itu, kemana saja dirinya dulu? Bram menatap tangannya yang bergetar, tangan yang dulu pernah menyakiti Bella tangan yang melepas Bella melalui luka seorang diri tangan yang bahkan dengan lancang merebut anak-anak dari Ibu nya.


" Bell, aku bersalah banyak hal padamu. Dan aku terlalu malu untuk meminta maaf dan mengakuinya. " Ucap Bram sambil menghela nafas.


" Sejak kamu pergi aku tak pernah merasa lagi sempurna. Wanita yang ku kejar ternyata tak bisa menggantikan kehangatan mu. Aku mengabaikan mu yang nyata demi mengejar obsesi semata. " Lanjut Bram bermonolog.


Bram mengusap wajah dan rambutnya, bukan tak menderita Bram selama ini. Semenjak di tinggalkan Bella, Bram hampir setiap malam bermimpi buruk tentang perpisahan mereka. Bram tak lagi memiliki selera untuk beragam kebutuhannya termasuk secara kebutuhan biologis, Bram menjadi begitu dingin dan membeku. Itu juga alasannya kenapa pertunangannya dengan Violine yang sudah terjalin hampir 1 tahun tak kunjung berakhir di pelaminan. Bram takut tak bisa menuntaskan kewajibannya sebagai suami.


Hubungan Bram dan daddy nya pun tak kunjung membaik, mungkin ya Albert memberikan restu nya bukan tanpa alasan dan pemikiran matang. Semua itu karena peran serta Bella, Bella yang secara langsung sebelum kepergiannya ke Jepang bertitip pesan agar Albert merelakan pernikahannya dengan Beam yang sudah terlanjur kandas dan membiarkan Bram menetukan pilihan dan melanjutkan hidup.


Flashback On


Bella dengan waktu yang terbatas meminta untuk berbicara secara pribadi dengan Albert. Tentu Albert menyambut baik ajakan menantunya itu. Bagi Albert Bella tetap menantunya, bahkan sudah menjadi putrinya meski mereka sudah bercerai.


" Daddy maaf jika mendadak. Namun Bella akan pergi untuk sementara waktu. " Ucap Bella tanpa basa basi


" Pergi kemana ? "


" Bella mengambil program pertukaran pelajar ke Jepang, Bella butuh waktu untuk merenung seorang diri. Dan seperti kesepakatan kami, Bella akan titipkan anak-anak pada Bram. "


" Jangan gegabah memutuskan sesuatu nak. Zayn masih sangat kecil. Dia membutuhkan mu. "


" Aku tau Dad, hanya saja bertahan disinipun Bella merasa tak bisa bernafas. " Bibir Bella bergetar menahan air mata yang hendak turun.


" Apa Bram menyakitimu ? Biar dad yang memberi pelajaran anak kurang ajar itu. "


" No dad. Bella mohon, ikhlaskan perpisahan kami. Sudah tak ada yang bisa di selamatkan dan di perbaiki lagi. Biarlah Bram menjalani hidup dengan pilihannya, karena meski dad menghalangi Bram, Bella dan Bram tak mungkin bersatu kembali. "


" Lalu dad harus membiarkan Bram bersenang-senang di atas penderitaanmu ? Dad tak bisa terima itu ! " Albert menggebrak meja tak terima


" Tak apa Dad, ini lebih baik untuk kami. Cukup dad perhatikan pilihan Bram tepat atau tidak untuk anak-anak. Dengan begitu, Bram akan bisa melanjutkan hidup dan tak tertekan agar Bram juga bisa merawat anak-anak dengan baik. Semua ini Bella lakukan demi Zayn dan Queen semata dad. "


Bella bersimpuh memohon pada Albert, semenjak saat itu Albert pun melunak membiarkan Bram mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya. Albert hanya fokus memperhatikan gerak gerik Violine. Setelah hampir satu tahun mengamati dan menahan restunya, akhirnya Albert merestui hubungan mereka. Setelahnya mereka segera meresmikan hubungan mereka ke jenjang pertunangan.


Flashback Off


Meski sudah memberikan restu, namun Albert tak bisa menutupi kekecewaannya pada Bram dan Violine. Albert memang tak pernah mengatakan apapun, tapi Albert langsung bertindak membatasi interaksi dengan putra dan calon menantunya seminimal mungkin. Bagai ada dinding kokoh pemisah di antara Albert dan Bram. Sungguh jika bukan permintaan Bella, sampai mati pun Albert tidak ingin menyetujui hubungan mereka.

__ADS_1


Dan Bram yang merasakan itu, begitu terpuruk seperti anak yang di buang orangtuanya. Mungkin ini yang dinamakan Karma. Bram mengambil hak anak-anak bersama Ibu nya dan Tuhan membalasnya dengan mengambil hak Bram untuk bersama daddy nya. Sungguh ironis.


__ADS_2