Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Kehampaan


__ADS_3

Bella tertawa renyah di perjalanan pulangnya setelah berkunjung dari rumah Bram. Ada kepuasan tersendiri setelah berhasil menindas Bram dan Violine.


" Sumpah ya aku sampe pengen ketawa lihat ekspresi si Vio pas aku sindir-sindir. Kaya suram banget mukanya. "


" Emang suram. Gak ngerti deh kenapa Bram bisa suka sama dia "


" Kevin bilang memang banyak yang suka sama Vio karena dia wanita karir yang pintar. "


" Kalo dia menginginkan wanita karir yang mandiri harusnya dia sendiri yang membimbing mu Bel bukannya malah jatuh hati pada wania lain. "


" Tapi dia cukup berpengaruh dalam hidupku. Buktinya dia membiayai kuliahku. "


" Ya anggap saja itu hadiah karena kamu sudah menjadi istri yang baik buat dia. "


Bella mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, hari mulai larut. Bella terpaksa menginap di apartemen Akbar karena kekasih Amanda dari Surabaya sedang bertamu. Bella tak ingin mengganggu lagi pula tempat tidur akan berkurang jika dirinya pulang.


Bella menatap gemerlapnya malam dari balkon padahal udara malam ini cukup dingin dengan angin yang bertiup kencang. Akbar memperhatikan Bella yang tatapannya sedang jauh kosong.


Apa yang kamu pikirkan Bel ? Seceria apapun yang kamu tunjukkan di hadapan orang-orang, di hadapanku kamu tak bisa berbohong. Kamu begitu dingin, kesepian dan tak tersentuh bukan ? Selama ini kamu bertahan dalam kehampaan.


Batin Akbar menerawang isi hati Bella


Akbar perlahan mendekat lalu mendekap tubuh Bella dari belakang selain untuk menghangatkan Bella, Akbar ingin memberikan dukungan terlepas dari bagaimanapun keadaan Bella.



" Akbar .. " Panggil Bella lirih.


" Tenanglah, semua akan baik-baik aja. Di depanku kamu bisa melakukan apapun. Menangis, marah, berteriak lakukanlah jangan menahan dirimu lagi. "


Mendengar perkataan Akbar, Bella tertunduk bertumpu pada tangan Akbar lalu terisak. Entah mengapa terkadang ketika malam semakin larut pikirannya menjadi tak menentu. Rasa lelah dan frustasi sering kali mendominasi.


" Kadang aku merasa sangat lelah Bar .. Hiks "


" Pasti kamu akan merasa lelah, sudah melangkah sejauh ini saja kamu sudah hebat Bel "

__ADS_1


" Aku merindukan masa-masa yang tenang bersama anak-anak. "


" Kalau kamu mau, Aku bisa membawa anak-anak "


" Jangan sekarang Bar, anak-anak baru mengenalku kembali. Mereka akan bingung. "


" Baiklah Aku hanya akan mengikuti mu saja. Ayo masuk kamu bisa masuk angin jika berlama-lama disini. "


Akbar menggenggam tangan Bella lalu menariknya masuk ke dalam. Bella berbaring di sofa menggunakan paha Akbar sebagai sandarannya. Akbar mengusap rambut Bella lembut hingga tak terasa Bella pun terlelap.


Aku mencintaimu Bel selama 5 tahun ini dan tak pernah berubah ..


Batin Akbar ketika menatap wajah teduh Bella.


Kadang ada saat Akbar tak bisa mengendalikan perasaannya, Akbar menginginkan Bella seutuhnya. Terlebih Akbar pun pria normal, bertahun-tahun hidup bersama di perlakukan seperti seorang kekasih tentu hasratnya selalu bergelora. Aroma Bella dan fisiknya memang menarik, bisa menahan diri selama 5 tahun saja Akbar harus di acungi jempol.


Akbar membawa tubuh Bella ala bridal style, Akbar hendak memindahkan Bella ke ranjang agar lebih nyaman. Alih-alih berpindah, Akbar malah terpeleset untunglah tepat di depan ranjang hingga mereka tubuh Akbar kini menindih Bella.


" Aw .. " Bella meringis


" Aku pasti berat ya ? Sampai kamu jatuh. "


" Enggak .. tadi aku kesandung paket, aku lupa belum memindahkannya. "


" Oh yaudah, aku mau tidur disini ya ? "


" Iya lanjut aja aku mau ke kamar sebelah "


Akbar bergegas keluar, otak dan tubuhnya semakin tidak sinkron jika lama-lama bersentuhan dengan Bella.


...****************...


Pagi hari di Wijaya Medical Center sangat riuh dan sibuk, WMC merupakan salah satu rumah sakit pendidikan terbaik dan terkenal. Presdir Albert menyerahkan ke pengurusan Rumah Sakit kepada Bram, menjadikan Bram mengantongi gelar direktur. Karena dari awal Kevin merupakan asisten Bram, Kevin pun meninggalkan kantor utama wijaya dan tetap setia membersamai Kevin. Sekarang tugas terasa lebih mudah, masalah administratif akan di urus Kevin dan masalah intern Rumah Sakit di urus Bram. Tak ada lagi perdebatan mereka soal pekerjaan.


" Gue dongkol banget .. " Keluh Bram

__ADS_1


" Kenapa ? "


" Bella bawa Akbar ke rumah gue. Kalo lo tau gimana Bella sekarang Lo pasti kaget. "


" Wah keren banget gue acung 8 jempol kalo ada "


" Apanya yang keren bngst ! "


" Keren lah udah berani ngebales Lo. Kalo gue jadi Bella udah gue gantung Lo dari dulu. "


" Gue ngomongin Bella Lo pasti langsung dukung dia. "


" Yaiyalah gue dukung yang bener. Lo gak nyadar ? Semenjak kenal Vio Lo berubah Bram. "


" Berubah ? "


" Lo harusnya inget yang bikin nama Lo hebat ya si Bella, dia bikin nama Lo harum karena jadi pria yang nerima wanita dengan latar belakang orang biasa juga nerima status Bella yang janda dengan satu anak waktu itu. Lo dulu di puja-puja Bram dijadiin teladan bahwa cinta tulus itu ada. Tapi ketika Lo berpaling dari Bella, nama Lo hancur karena media tau Lo ada main di belakang sama Vio belum lagi pertunangan Lo memperjelas rumor yang beredar, Lo di cabut dari jabatan presdir Wijaya Group. And see ? Sekarang Lo jadi direktur di rumah sakit ini tapi siapa yang di percaya dan segani ? Gue ! Terus dimana wibawa Lo sekarang ? Gak ada Bram cuman sekedar nama aja ! "


Bram menelisik dalam pikirannya, perkataan Kevin membuat hatinya tersentil. Kevin selalu berterus terang tentang segala hal, Bram mengerti begitulah cara Kevin memperingatkannya. Ingin menyanggah namun Kevin benar.


Jika di tanya menyesal, Bram menyesal. Setelah kehilangan Bella, Bram pun kehilangan segalanya. Yang membuat Bram tetap eksis hanyalah nama Wijaya di balik namanya, jika tanpa itu Bram bukanlah siapa-siapa. Karirnya pun meredup meski Bram termasuk dokter bedah hebat.


" Gue nyesel Vin. Gue harus gimana ? "


" Mana gue tau. Gue udah peringatin Lo dari sebelum kejadian gini. Sekarang Lo udah tunangan jadi ya terima aja. "


" Perasaan gue yang menggebu-gebu waktu itu makin hari makin mudar. "


" Kaya kerasukkan kalo udah di ruqiah ya sadar. Lo di ruqiah nya sama keadaan. Udah sadar eh Lo udah terlanjur jadi setan. "


" Sialan Lo ! "


Bram menimpuk kepala Kevin dengan bantal sofa. Kevin hanya terkekeh begitu juga dengan Bram, sebenarnya kata-kata Kevin itu serius. Kevin ingin memaki namun dengan cara yang humoris agar bisa di terima Bram. Watak Bram yang keras jika di kerasi justru hanya akan makan hati.


Setalah Kevin kembali ke ruangannya Bram hanya melamun di singgah sana nya, Bram menatap sekeliling lalu menyadari semua yang di milikinya hanya kehampaan. Tak ada lagi rasa bangga yang bisa Bram rasakan, Bella tidak hanya membawa jiwa Bram namun juga kehormatan dan harga dirinya.

__ADS_1


__ADS_2