
Seketika air mata berjatuhan. Bella membenci keadaan ini, siapa yang bisa di salahkan selain dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri dan menggoda mantan suaminya untuk menyentuhnya. Bella terisak sambil memeluk selimut yang membelit tubuh polosnya.
" Hmm sudah ku duga kamu akan menyesali nya " Ucap Bram ketika dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Bella terisak.
Bram memutuskan untuk berpakaian terlebih dulu, setelah selesai dengan urusan pakaiannya Bram mendekati Bella lalu duduk di tepi ranjang.
" Maafkan aku Bel, aku tak bisa menahanmu dan juga menahan diriku sendiri. " Sesal Bram sambil mengusap rambut Bella yang sedikit berantakan.
" Bukan ini yang aku sesalkan, aku takut Bram. Apa kamu pake pengaman semalam ? " Tanya Bella dengan mata penuh harap.
Bram menggeleng lemah.
" Aku tak berniat melakukan apapun disini, mana mungkin aku membawa pengaman ? "
" Oh God .. Jangan bilang kamu juga mengeluarkan nya di dalam ? "
Bram mengangguk, bagaimana bisa dia mengeluarkan nya di luar saat Bram tengah di puncak dan akan mendapatkan pelepasan Bella malah sengaja menahan pinggang Bram membuat mereka menyatu lebih dalam.
" Kamu menahan ku Bel, aku sudah berusaha untuk mengeluarkannya di luar. " Ucap Bram.
" Bodoh Bella bodoh, bagaimana ini ? Tolong belikan aku obat pencegah kehamilan Bram. Aku belum siap mengandung lagi, kamu tau aku akan menjalani koas. " Rengek Bella sambil menangis.
Bram menarik nafas panjang, di tatapnya Bella penuh kasih sayang lalu Bram mengangguk membuat Bella sedikit lebih tenang.
" Mandi dulu gih, jangan sampe anak anak lihat kamu dalam keadaan gini " Bram menarik tubuh Bella agar bangkit dan duduk di sampingnya.
" Keluarlah dulu Bram, aku malu. "
" Baiklah .. " Bram hendak memeluk Bella namun Bella memundurkan tubuhnya.
Oke gak papa Bel
__ADS_1
Bram bangkit melangkahkan kaki nya meninggalkan Bella di kamar seorang diri. Matahari pagi mulai menyoroti, Bram beralih ke kamar satu lagi dimana anak anak nya tidur. Untunglah mereka masih terlelap, mereka tidak akan tau apa yang di lakukan kedua orang tuanya.
Bram keluar dari kamar anak anak dengan langkah perlahan, lalu duduk di meja makan. Bram memijat keningnya yang terasa berdenyut. Ya, melakukan ini dan melepaskan cairannya di dalam rahim Bella adalah tindakan bodoh dan gegabah. Bram bukan maniak yang akan melakukan segala cara untuk membuat mantan istrinya kembali dalam pelukannya. Lebih dari itu, Bram sangat menyesal, dia tak ingin menghancurkan masa depan Bella untuk yang ke dua kalinya. Mengingat secara psikis Bella juga tak siap untuk mengandung, bukan tak mungkin jika sampai jadi Bella akan mengalami depresi seperti dulu.
Bella keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapih, terdengar rengekan anak anak yang mulai bangun. Bella menatap Bram canggung akhirnya Bella hanya berlalu masuk ke kamar anak anak. Bella membantu Ayu menyiapkan anak anak untuk mandi, sedangkan Bram masih membatu di meja makan rencanya pagi ini mereka akan sarapan di luar.
" Daddy, lihat Queen sudah cantik bukan ? " Queen memutar tubuhnya di depan Bram namun Bram tak bergeming.
" Daddy hey ! " Queen menarik tangan Bram.
" Hah ? Oh iya maaf maaf kenapa cantik ? " Tanya Bram lembut sambil mengelus pipi Queen.
" Daddy melamun ? Tadi Queen bertanya Queen cantik gak ? "
" Oh sayang kamu tuh cantik mau bagaimana pun "
" Morning daddy .. " Sapa Zayn yang berada dalam gendongan Bella.
" Morning my prince, sini duduk sama daddy "
" Udah siap Yu ? " Tanya Bram.
" Udah pak .. "
" Kita sarapan di luar ya pagi ini ? " Ajak Bram
" Yee main lagi, oh ya mommy semalam kemana ? Ko gak tidur sama kita ? " Tanya Queen penasaran.
" Hah ? Ah mommy itu hmm mommy ketiduran di sofa " Bella menjawab gelagapan tak menyangka anaknya akan menanyakan hal seperti ini.
" Oh, Queen kira mommy bobo di kamar daddy. Jangan sering bobo sama daddy ya mom Zayn masih kecil nanti aku punya ade lagi kan repot. " Celoteh anak berusia 8 tahun itu.
__ADS_1
" Haha, kamu tau banyak hal ya Queen ? " Bram mencubit pipi Queen.
" Ya kan itu kata temen Queen di sekolah. Katanya kalo pengen punya ade suruh mama papa nya bobo bareng aja. " Ucap Queen polos.
" Tenang daddy gak akan bikin ade bayi sekarang, biar kakak Queen gak repot " Bram tersenyum manis.
Mendengar percakapan mereka pipi Bella malah memerah, malu dan bingung bercampur aduk. Bella merasa membohongi anaknya karena semalam ya mereka telah melakukannya dan keduanya pun tak bisa memastikan kalau Bella tidak akan mengandung lagi.
Mereka berjalan menyusuri taman lalu sarapan di sebuah restaurant dekat play ground. Bram akan mengajak anak anak ke tempat wisata setelah ini. Anak anak memang memiliki semangat yang tinggi tak lama mereka sudah menghabiskan sarapan sedangkan Bella dan Bram seperti biasa selalu sarapan paling akhir.
" Aku sudah meminta teman meresepkan obat untuk mencegah kehamilan. Untunglah aku memiliki banyak kolega sekalipun disini. Nanti siang kita bawa ya ? "
" Syukurlah, terimakasih Bram "
" Hmm .. Nikmati liburan ini Oke ? Jangan banyak pikiran lagi " Bram mengusap pundak Bella.
" Tapi Bram, bagaimana jika obatnya tidak mempan ? Bagaimana kalo aku hamil ? " Bella kembali overthinking.
" Aku menyerahkan keputusan ini padamu, kalau kamu belum siap kita bisa lakukan abo*rsi selama masih di bawah 40 hari. Dan jika kamu siap, aku akan menikahimu lagi. Ini tubuh mu aku tak akan memaksakan apapun. " Ucap Bram
" Hah Bram aku menyesal mencoba mabuk padahal aku gak bisa minum " Bella menjatuhkan kepalanya di meja.
" Sudah terjadi Bel, mau bagaimana lagi ? Hamil atau tidak sebenarnya aku ingin bertanggung jawab, aku ingin menikahi mu lagi tapi aku tau kamu akan menolak Bel. "
" Ya betul, selagi ini belum di pastikan biar lah seperti ini " Pinta Bella yang langsung di angguki Bram.
" Sebenarnya sekalipun kamu hamil koas mu tak akan terganggu hanya saja hamil itu sendiri sudah melelahkan apalagi di tambah dengan koas. Maaf aku gegabah Bel .. "
" Sudahlah Bram kita dua orang dewasa, **** bukan sesuatu yang tabu di usia kita hanya saja kita melakukannya di saat yang salah. Aku tak menyalahkan mu, aku juga bersalah karena menggodamu. Kita lupakan saja ya ? " Bella tersenyum tulus.
" Tentu, terimakasih atas pengertianmu " Bram membalas senyuman Bella.
__ADS_1
Meski sudah memutuskan untuk saling melupakan kejadian semalam, namun tentu saja bagi Bram yang dalam keadaan sadar sentuhan Bella terus terngiang dalam ingatannya. Setiap adegan panas mereka terekam jelas dalam pikiran Bram.
Jujur saja aku tak akan bisa melupakan kenikmatan yang kamu berikan semalam Bel. Bahkan mungkin aku bisa kembali mencandui tubuh mu itu, semoga saja aku bisa menahan diri ..