
Sudah hampir 4 Bulan Bella berstatus sebagai Istri Bram Albert Wijaya, namun selama itu pula Bella tidak pernah berhubungan dengannya lagi. Setelah Adam pergi seminggu yang lalu Bella kembali menjalani kehidupannya dengan damai. Bella pun sudah tidak ambil pusing dengan Bram. Bella hanya fokus pada Queen, dengan bantuan Akbar pula Queen tidak kekurangan kasih sayang seorang ayah karena tiap libur Akbar akan berkunjung dan membawa Queen bermain. Awalnya Bella merasa canggung dengan perhatian Akbar pada Queen, takut Bram akan tersinggung. Namun menolak pun rasanya tidak nyaman. Toh Bella dan Bram sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing jauh sebelum mereka menikah.
Notifikasi muncul diponsel seluruh karyawan divisi sales marketing area Bandung, Garut dan Sumedang. Berisi tentang undangan menghadiri meeting umum dan pembagian reward atas kesuksesan penjualan product baru yang 3 bulan lalu launching. Itu sudah menjadi hal yang biasa. Tiap 6 bulan sekali selalu ada acara seperti ini, entah itu umum atau hanya area masing-masing.
Perusahaan menyewa sebuah Ballroom Hotel, acara di mulai pukul 08.00WIB. Akbar team sudah sampai di tempat pukul 07.30WIB, mereka menduduki kursi yang sudah disediakan per team. Bella duduk paling pinggir di antara jalur jalan menuju podium di belakang barisan VIP. Biasanya kursi VIP di isi oleh para atasan seperti manager dan wakilnya serta tamu undangan dari pusat. Tak ada firasat apapun, Bella hanya menikmati harinya itu bersama rekan-rekan.
Acara di mulai, para atasan mulai masuk dan mengisi kursi VIP. Tunggu, mata Bella menyudut tajam melihat seseorang yang dia kenal. Pria bertubuh kekar dengan kemeja biru muda dan setelan jas lengkap, wajah tampannya bersinar. Tentu banyak wanita yang dibuat jatuh hati saat melihat Bram. Terlebih tidak semua karyawan tau bahwa Bella adalah istri Bram karena Bella dan Bram tidak pernah terlihat bersama di depan publik.
“Bella, Mr.Bram datang." Tangan Akbar menyikut Bella
“Aku tau pak" Bella terlihat gelisah. Ada amarah di dalam hatinya. Bagaimana bisa Bram tidak merespon apapun saat Bella menghubunginya sampai sekarang pun pesan Bella tidak pernah bertanda sudah di baca, tapi kini dengan santainya Bram seseorang yang sangat tinggi di atas sana bisa hadir ke acara regional yang tidak terlalu penting.
“Apa yang dia mau?" Pikir Bella.
__ADS_1
Bella menarik nafas panjang saat Bram melewatinya begitu saja, lalu duduk di barisan depan. Bella menatap punggung Bram.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Maaf pak aku harus pergi. Wakili aku jika aku di panggil ke atas podium" Pinta Bella pada Akbar
Bram mendengar percakapan Bella dan Akbar, refleks Bram berbalik dan menahan Bella yang hendak melangkah. Lalu Bram membisikkan sesuatu pada Bella.
“Diamlah dengan tenang. Kau dan aku sudah punya perjanjian. Ingat itu Bell" bisik Bram
Seketika seluruh pandangan tertuju pada Bram dan Bella yang berdiri diantara ratusan mata yang sedang duduk memperhatikan keberadaan Bram. Dalam waktu yang singkat seluruh orang tau bahwa Bella adalah istri Bram karena seluruh ruangan mulai berbisik-bisik tentang siapa wanita yang membuat Bram berdiri mengenggam tangannya.
Acara berlangsung meriah, dan puncak acara di isi dengan pembagian reward oleh Bram untuk karyawan dengan 10 pencapaian tertinggi. Tibalah satu persatu nama di panggil untuk naik ke podium. Bella yang biasa nya mencapai posisi pertama kini harus puas di posisi ke tiga. Kehadiran Adam tempo hari cukup mengguncang Bella hingga mempengaruhi pekerjaannya.
Bram pun mulai memberikan Reward berupa uang tunai dan piagam penghargaan. Saat berhadapan dengan Bella, Bram tersenyum sinis seolah merasa menang atas diri Bella yang mampu membuat Bella tidak berdaya untuk melawannya. Bella menerima reward dari Bram dan saat hendak berjabat tangan Bram mendekatkan wajahnya pada telinga Bella.
__ADS_1
“Selamat istriku, ternyata kamu masih cukup hebat meski aku tinggalkan" Bram memundurkan lagi wajahnya dan tersenyum kembali. Seluruh peserta di buat iri, mengira yang terjadi di atas sana adalah sesuatu yang romantis.
“Neraka apalagi ini" Gumam Bella yang hatinya masih tercabik-cabik oleh Bram
Bella kembali ke kursinya, tatapannya kosong. Pikirannya melayang tidak karuan. Sampai saat waktunya Isoma, Bella tidak beranjak dari kursinya. Bella hanya menundukan kepala di meja, tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepalanya yang di tutupi pasmina berwarna navy.
“Makanlah Bell, lupakan hal buruk apapun. Anakmu butuh kamu untuk sehat" Akbar lah yang berdiri disana dengan dua piring nasi untuknya dan untuk Bella.
Dari kejauhan Bram melihat perlakuan Akbar, hatinya semakin panas.
“Didepan umum beraninya dia menyentuh istriku" Batin Bram
Bella menghabiskan makanannya dan di temani oleh Akbar, Bram makan siang di tempat terpisah bersama para petinggi.
__ADS_1
“Aku akan menunjukan siapa diriku yang sebenarnya Bella. Kamu tidak bisa menginjak harga diri ku seperti ini" Gumam Bram yang tidak menyentuh makanannya.