Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Takut Mengecewakan


__ADS_3

" Bram .. Sorry kita gak bisa pertahanin bayinya. Bella pendarahan berat karena kontraksi. Gue udah ambil sampel buat pemeriksaan menyeluruh penyebab kontraksi. Yang jelas saat ini gue harus lakuin kuretase " Bagai di sambar petir tubuh Bram ambruk di kursi tunggu, tangannya terus mengacak kasar rambu dan wajahnya.


" Lakuin yang terbaik Rel, selamatin istri gue " Itulah keputusan yang Bram ambil.


Mau tidak mau, Bram harus mengikhlaskan bayi yang baru saja tiga bulan di kandung Bella. Bram segera menghubungi mertua dan daddynya. Terdengar dari sebrang suara Ibu menangis terisak mendapatkan kabar tidak menyenangkan ini. Lagi lagi putri kesayangannya harus merasakan penderitaan. Tidak kah cukup Tuhan memberikan penderitaan untuk Bella ? Pikir Sita.


" Kami akan segera kesana nak " Ucap Ayah. Begitupun dengan daddy nya yang tinggal hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit, Albert langsung menyusul Bram ke rumah sakit.


Kini Bram menangis dalam rangkulan daddy nya, meski mungkin dirinya seorang pria dan sudah bukan anak anak lagi, tapi Bram seakan mengulang trauma nya yang lalu. Rasa sakit yang belum sembuh kini menganga lagi mengingat Bram pun pernah kehilangan bayi yang di kandung almarhumah istrinya.


" Dad .. " Bram menumpukan kepalanya pada pria paruh baya berusia 65 tahun itu.


" Sabar nak, andai daddy bisa meminta luka mu maka daddy rela menanggungnya seorang diri. Tapi daddy tak bisa, daddy hanya bisa mendo'akan mu "


" Apa salah Bram Dad ? Bella, tadi siang dia masih baik baik saja "


" Ini sudah takdir yang kuasa. Mungkin Allah punya rencana yang lebih baik Bram "


Seisi rumah sakit hanya bisa saling menatap haru, mereka tak bisa menahan air mata kala melihat dua pria hebat di rumah sakit ini kini berpelukan menangis tak berdaya karena seorang wanita, Bella. Begitu beruntungnya Bella memiliki suami dan mertua yang mendukung dan mencintainya setulus ini.


" Dok minum dulu " Seorang perawat memberikan botol mineral pada Bram.


" Terimakasih biar saya yang bantu " Jawab Albert.


" Baik Presdir saya permisi dulu "


" Kalian kembali lah ke perkejaan masing masing, tak perlu sungkan anggap saya keluarga pasien seperti yang lainnya. " Titah Albert saat kini mereka di kelilingi para petinggi di rumah sakit.


" Baik Presdir kami turut berduka yang sedalam dalamnya. Semoga dokter Bella dan Bram kuat dan sabar. " Ucap salah seorang kepala departemen bedah saraf mewakili yang lainnya.


" Terimakasih .. "


Bram mungkin masih shock hingga tak bisa banyak bicara, mereka hanya menunggu dengan sabar sampai Darel keluar dari ruang bedah.


" Bagaimana ? " Tanya Albert berdiri menghampiri.


" Sudah clear Presdir, janinnya sudah berhasil kami angkat. Pendarahannya pun sudah terkendali, sekarang Bella masih belum sadar tapi 1 jam lagi bisa di temui di ICU "


" Terimakasih dokter .. ? "


" Darel Presdir "


" Ah ya kamu sahabat putraku, tolong jaga Bella untuk kami. Saat ini Bram masih cukup terguncang " Pinta Albert

__ADS_1


" Pasti kami akan lakukan yang terbaik Presdir. Saya permisi dulu "


" Silahkan .. "


Albert menghampiri Bram lalu menjelaskan kembali apa yang di sampaikan Darel, Bram hanya mengangguk sekalipun tak di jelaskan Bram paham hanya saja memang Bram sedang tak bisa berbicara pikirannya saat ini kacau. Bram meraih ponsel di sakunya segera menghubungi Ayu yang pasti cemas menantikan kabarnya.


" Halo Yu .. " Panggil Bram dengan suara serak.


" Gimana Pak ? Ibu sama bayi nya baik baik aja kan ? "


" Bella bertahan tapi bayinya gak selamat Yu .. " Bram tak bisa melanjutkan lagi, suaranya tenggelam dan menghilang.


" Astagfirullah Innalillahi Wa Innailahiroji'un, saya beritahu anak anak atau jangan pak ? "


" Gak usah Yu, biar nanti pagi saya saja ke rumah yang jelaskan sama anak anak. Titip anak anak ya Yu "


" Yang sabar ya pak InsyaAllah ada hikmahnya. "


" Makasih Yu, yaudah kamu istirahat lagi aja masih tengah malem juga. "


" Iya pak. "


Setelah memutus panggilan Bram memasuki ruang ICU, di tatapnya Bella yang masih menutup matanya.


" Bram " Panggil Bella setelah kurang lebih lima menit Bram menangisinya.


" Alhamdulillah kamu sadar Bel. Maaf aku minta maaf " Bram mencium kening Bella.


" Bram bayi kita ? " Bram hanya menggeleng lalu terdengar tangis Bella yang pecah dan berusaha bangkit tak percaya. Bram membawa Bella dalam pelukannya, menenangkan semampunya meski Bram sendiri terguncang.


" Aku yang salah aku gak bisa jaga dia "


" Ini bukan salah siapa siapa Bel. Sudah waktunya, anak juga titipan kalo yang punya nya mau ambil, kita bisa apa Bel ? "


Bella hanya bisa menangis tak ada kata yang dapat mengungkapkan kesedihannya. Meski awalnya Bella berat menerima kehamilan ini, namun setelah di jalani Bella pun semakin jatuh cinta. Terlebih melihat Bram yang sangat menginginkan bayinya. Bella takut mengecewakan Bram.


...----------------...


Seminggu tlah berlalu keadaan fisik Bella berangsur pulih hanya saja keadaan psikis nya masih cukup terguncang. Bella tak mengerti mengapa dirinya bida tiba tiba saja keguguran padahal Bella tak selalu menjaga kandungannya.


" Sayang .. Makan dulu " Ajak Bram


" Bram aku salah apa ya ? Aku perasaan udah jaga banget bayinya. Ko bisa tiba tiba aku keguguran. "

__ADS_1


" Belum rezekinya Bel, gak papa. Ikhlasin ya ? Kamu harus bangkit, kita kan masih punya Queen sama Zayn " Bram memeluk Bella.


" Kasihan mereka juga udah ngarep banget punya ade " Mata Bella berkaca.


" Aku udah janji mau bikin kamu bahagia, tapi setiap sama aku kamu malah menderita gini. Aku minta maaf ya Bel " Bram mengusap kedua pipi Bella lembut.


Di ruang makan Ayah, Ibu, Zayn, Queen dan Ayu sudah menunggu kedatangan keduanya. Mereka berkumpul sebelum kembali ke kampung halamannya. Ya selama seminggu kedua orangtua Bella menjenguk dan menemani cucu mereka.


" Zayn laper aunty .. " Rengek Zayn


" Queen juga "


" Gak papa kalian duluan aja Bram mungkin masih ngebujuk Bella turun. " Ucap Sita.


Akhirnya anak anak makan duluan, sedang kedua orangtua Bella masih menunggu berharap putrinya segera turun. Sesuai harapan, pintu kamar terdengar terbuka Bella pun keluar dari kamar dengan di gandeng Bram.


" Alhamdulillah nak sudah mau makan bareng, makasih ya ? " Ucap Ayah.


" Hari ini Ayah sama Ibu mau pulang masa aku gak nemenin. "


" Ayo makan Bel kamu harus sehat " Dengan semangat Sita mengambilkan nasi dan lauk untuk Bella.


" Bram mau aku ambilin ? " Tanya Bella


" Gak usah sayang aku bisa ambil sendiri "


Bella mengangguk mereka pun memulai sarapannya, setelah sarapan selesai Ibu mengajak Bella berbicara berdua memberikan sedikit nasihan dan semangat untuk putrinya.


" Nak apa yang ada di muka bumi ini bukan milikmu dan bukan hak mu pula mempertanyakan kehendakNya. Manusia pasti berduka, namun kita harus ikhlas harus jembar hati mungkin Allah ingin mengangkat derajat mu Bel " Sita mengusap punggung putrinya.


" Bella ngecewain anak anak sama Bram. Bella gak suka kaya gini Bu "


" Lihat suami kamu baik baik aja, mungkin iya kecewa tapi gak terpuruk. Kamu harus belajar sama dia ya ? Dia tetep ngerawat kamu sama anak anak padahal hatinya juga pasti terluka. Dia juga tetep kerja ngejalanin kewajibannya sebagai kepala keluarga "


" Maaf ya Bu, Bella lalai " Bella memeluk Sita.


" Anabella putri ibu, mudah mudahan setelah badai ini kamu akan melihat pelangi indah ya ? Dan satu lagi. Kalian sudah bersama lama, jangan panggil nama suami mu panggil yang lebih sopan. Mas ke abang ke apalah "


" Hehe Ibu hiks sempet sempetnya becandain aku "


" Ya emang putri cantik ibu ini masa gitu sama suami "


" Iya bu nanti Bella gak bakal lagi manggil nama Bram " Bella mengacungkan kedua jarinya tanda janji.

__ADS_1


Merekapun berpelukan kembali, saling bercerita hingga rasanya beban Bella terangkat. Lega ..


__ADS_2