Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Jangan Terluka


__ADS_3

" Ampun, saya mohon jangan sakiti saya .. " Racau Bella yang sudah panik begitu Bram mendekatinya.


" Hey tenang Bel. Ini aku Bram " Bram berjongkok menepuk pundak Bella lembut.


Perlahan Bella menengadahkan kepalanya, Bella mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan jalan namun tak ada siapapun selain mereka. Bella menatap Bram yang tersenyum seolah menertawakan.


" Kenapa ? Seneng aku kaya gini ? " Sungut Bella.


" Bella .. Bella, saya emang brengsek tapi kamu mantan istri saya. Ibu anak-anak saya. Mana ada saya suka lihat kamu celaka. "


" Hmm alibi. "


" Ayo pulang udah maghrib " Bram mengulurkan tangannya untuk membantu Bella bangkit namun Bella menolak.


" Aku bisa sendiri. " Bella bangkit sambil meringis sakit di lutut nya.


" Kenapa ? Sakit ? " Bram memperhatikan ekspresi Bella begitu berdiri.


" Gak papa. "


" Yaudah ayo masuk, nanti aku obatin di rumah. Jangan nolak kecuali kamu mau aku tinggal tapi gak bakal aku tolong lagi kalo ada apa-apa. "


" Ok terimakasih. " Jawab Bella ketus lalu segera duduk di samping Bram.


Bram hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Bella, menyesal rasanya karena sering membuat Bella menderita hingga trauma. Andai kata mereka berpisah dengan baik-baik mungkin Bella pun tak akan sedingin dan sekasar saat ini. Bram hanya bisa menghela nafas lalu mulai memacu kendaraannya menuju rumah, tak banyak yang bisa di lakukan sepanjang jalan pun hanya sunyi di antara mereka.


" Mau apa ? " Bella memundurkan badannya begitu Bram mencondongkan badannya ke arah Bella.


" Aku cuman mau bukain safety belt .. " Bram menatap heran.


" Hmm padahal aku bisa sendiri. "


" Gak papa, aku pengen perlakuin kamu kaya ratu lagi. Bukannya dulu kamu suka di manja sama di perhatiin gini. "


" Maaf ya aku udah gak butuh perhatian kamu. Akbar bisa ngasih segalanya buat aku. "


" Tapi kamu cinta huh ? " Bram tersenyum smirk lalu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Bella.

__ADS_1


" Sebaik apapun orang lain di pandangan kamu, selama yang ada di hati kamu itu aku. Maka gak ada yang bisa ngisi kekosongan itu selain aku. " Ucap Bram begitu Bella keluar dari sisinya.


" Yang dicintai akan kalah dengan yang selalu ada. " Bella berjalan dengan cepat meninggalkan Bram meski langkahnya kini terpincang.


Sialan pake jatoh segala. Mana sakit. Jadi kelihatan lemah kan deket dia ? Kesel .. Gumam Bella dalam hatinya.


Bella masuk ke rumah, anak-anak sedang di kamar. Queen mengerjakan tugas sedang Zayn sudah tidur. Zayn memang sering tidur awal akhir-akhir ini namun kehilangan tidur siangnya.


Bram memperhatikan Bella yang sudah menghilang menuju kamarnya, selama ini kamar utama Bella biarkan kosong karena hanya akan membawa kenangan tentang Bram. Karena kosong, Bram juga leluasa untuk menggunakan kamar mandi dan membersihkan diri. Untunglah kemanapun Bram selalu menyimpan pakaian ganti di mobilnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Bram naik ke atas. Ke bekas ruang kerjanya yang tak berubah sedikit pun. Hanya saja sudah tak terisi barang-barang keperluan kerjanya. Disana masih tersimpan medical kit dan beberapa obat-obatan. Bram mengambil medical kit lalu keluar menuju kamar Bella, mengetuk nya dengan sopan.


" Siapa ? " Jawab Bella dari dalam.


" Aku, ini aku bawa medical kit. Kalo boleh, aku mau obatin Bel. "


" Simpen aja depan kamar. Aku bisa sendiri. "


" Tapi aku harus lihat Bel, mana tau kamu terkilir. "


Bram mengenakan sarung tangan nya bukan karena jijik dan sekedar prosedur tapi untuk membuat Bella lebih nyaman juga, Bram memahami mereka bukan lagi suami istri tidak boleh bagi mereka untuk saling bersentuhan langsung meski tak bisa di sangkal dulu Bram melakukan lebih dari sentuhan pada Bella.


" Kamu jatohnya kenceng sih, padahal pake celana tebel harusnya gak begitu parah. "


" Ya emang gak parah kamunya aja lebay ! "


" Coba angkat Bel kayanya beneran terkilir deh soalnya ini kalo cuman luka gak bakal bikin kamu pincang juga. Kalo jalan neken sakit kan ? "


" Iya .. "


" Besok kita ke ortopedi ya ini harus di lihat lebih lanjut Bel. "


" Besok ada kelas pagi sampe sore. "


" Aku yang ijinin bentar lagian kampus ke rumah sakit kan deket. "


" Aku gak mau sama kamu. "

__ADS_1


" Yaudah terserah, tapi kamu tetep harus pergi. Temuin Dokter Dera dia temen aku. Kalo kamu gak kesana aku bakal tau, terus aku yang bakal seret kamu ke rumah sakit. " Ucap Bram tegas.


" Kamu masih suka aja ngancam-ngancam aku. "


" Gak ada yang ancam kamu. Itu emang harusnya kaya gitu. Ok udah .. Kamu makan malam dulu. Aku mau lihat anak-anak. Jangan terluka lagi Bel " Bram keluar begitu saja tak ada sikap berlebihan yang membuat Bella tak nyaman. Bram cukup baik kali ini.


Bram masuk ke kamar anak-anak setelah mengembalikan medical kit nya. Bram tersenyum kala melihat Queen yang belajar dengan tekun dan Zayn yang tidur dengan lelap.


" Sayang ? " Sapa Bram.


" Daddy .. " Queen langsung terperanjat menghampiri Bram dan memeluknya erat.


" Ah princess daddy udah pinter aja. Lagi belajar apa ? "


" Matematika dad, I hate math ! " Gerutu Queen yang mengerucutkan bibirnya percis Bella saat marah.


" Hmm cantik banget sih " Bram mencubit pipi Queen gemas.


Waktu berlalu dengan cepat, 6 tahun sudah Bram ikut membesarkan Queen. Selama ini yang di ketahui Queen hanya Bram lah ayahnya karena setelah pindah ke ibukota ayah kandung Queen tak pernah menampakkan lagi dirinya. Kasih sayang Bram yang tak pernah membedakan antara anak sambung dan anak kandung juga membuat anak-anak mencintainya. Tidak semua suami yang gagal adalah ayah yang gagal juga.


" Queen, matematika itu gak sulit cuman memang harus di pelajari dengan tekun. "


" Daddy sama aja kaya mommy .. "


" Haha kan kami orangtua kamu Queen ya pasti sama aja. Queen mau belajar sama daddy ? "


" Heem mau "


" Ok kita belajar bareng yuk "


Bram pun menghabiskan waktu untuk membantu Queen belajar hingga pukul 8 malam. Sudah waktunya Queen untuk tidur. Bram mengantar Queen tidur di ranjang samping Zayn. Meski tak setiap hari, Bram bersyukur masih bisa mengunjungi anak-anak dengan leluasa. Setelah beberapa saat Queen pun tertidur, Bram berpindah ke ranjang Zayn. Di tatapnya wajah putranya yang tampan itu. Semua yang dimiliki Bram benar-benar di wariskan pada Zayn.


" Biarkan mereka tidur Bram, sebelum pulang kamu makan dulu. Terimakasih atas bantuannya. " Bella tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu kamar.


" Ah baiklah, aku turun sekarang. " Bram menyusul Bella yang melangkah turun


Di meja makan mereka fokus dengan makanan masing-masing. Bram mengedarkan pandangannya ke sekitar, teringat setiap detik yang pernah di lalui mereka dengan kehangatan. Tak ada kenyamanan yang bisa di rasakan Bram lebih dari saat bersama Bella dan anak-anak. Menatap Bella kali ini, membuat Bram hanya bisa tersenyum ketir.

__ADS_1


__ADS_2