
...Aku tak akan memilih dicintai atau mencintai...
...Karena denganmu aku akan membuat keduanya...
-Akbar
Hayohh ngaku sama author disini siapa yang udah ter-akbar akbar ? Gila babang akbar glow up nya bukan maen. Udah jadi direktur plus dapet gelar magister lulusan luar negeri aja nih.
...****************...
Akhir pekan adalah jadwalnya Violine berkunjung ke rumah Bram untuk mengajak anak-anak bermain. Saking shock nya Bram sampai lupa mengabari bahwa hari ini Bella pun berkunjung untuk menemui anak-anak.
Suara bell bersautan membuat Ayu bergegas menghampiri sumber suara. Ayu membukakan pintu dan agak gugup begitu melihat Violine yang sudah berdiri di depan pintu.
" Kenapa kaget gitu Yu ? Ada yang salah ? "
" Enggak bu .. Masuk ? "
" Terimakasih, hmm ngomong-ngomong mobil siapa di depan ? "
" Itu .. Bu Bella Bu "
" Anabella ? Dia sudah kembali ? "
Langkah Violine pun terhenti karena melihat Bella yang kini sedang menyuapi kedua anaknya bergantian sambil tersenyum begitu cantik meski dengan mata yang sembap.
" Bella .. " Panggil Violine, Bella reflek melirik dan disana berdiri wanita yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangga mereka.
Ck masih punya keberanian kamu menatap ku tanpa dosa
Gumam Bella dalam hatinya
" Oh ada nona Violine ternyata disini. Please come in "
" Panggil saja Vio Bel, tak perlu seformal itu. Kapan kamu kembali ? " Tanya Vio basa basi lalu duduk di meja makan berhadapan dengan Bella
__ADS_1
" Semalam .. "
" Syukurlah, anak-anak menunggu mu sejak lama. Harusnya kamu tidak pergi. "
" Andai saja kamu tidak hadir di antara kami tentu saja aku tak akan pergi. " Bella tersenyum devil menatap tajam pada arah Violine
Violine tak bisa mendebat argumen Bella, Violine bangkit tak ingin memperpanjang masalah Vio berlalu mencari Bram yang ternyata masih duduk di halaman.
" Sayang .. " Panggil Vio sambil merangkul pundak Bram dari belakang
" Bella ? "
" Bella ? Kenapa harus Bella ? Ini aku Violine. Jangan bilang kamu berharap Bella yang melakukannya. "
" Ah bukan begitu, maaf fokus ku terganggu karena ada Bella. "
" Apa yang kamu lakukan disini seorang diri ? "
" Aku rasanya tak memilki muka untuk menghadapi Bella. "
" Kenapa ? "
" Tidak, kenapa harus merasa bersalah ? Toh aku tak merebut mu dari dia. Kita berhubungan pun setelah kalian bercerai. "
" Hah sudahlah .. Hari ini lebih baik kamu menghabiskan waktu sendiri ya ? Biarkan Bella bersama anak-anak dulu. "
" Ok gak masalah, tapi aku mau ditemenin kamu. "
" Maaf Vio kepala ku benar-benar pusing. Aku mau istirahat ya ? "
" Hmm begitu ya " Violine menunduk kecewa, Vio tifak menyangka Bram akan berubah begitu cepat ketika Bella datang.
Bram tau Violine kecewa, Bram segera menarik tubuh Vio dalam pelukannya lalu mengelus rambut Vio lembut. Bella dari arah ruang makan hanya menatap jijik kemesraan keduanya. Hatinya perih, namun Bella tak menunjukkannya. Cepat atau lambat ini memang akan terjadi dan Bella harus terbiasa melihatnya.
Bella mengalihkan pandangannya lalu kembali fokus dengan anak-anak saja. Tak lama ponsel Bella berdering, ternyata Akbar menghubunginya menggunakan panggilan video. Seperti biasa, Akbar memang sering melakukan panggilan video akhir-akhir ini karena mengkhawatirkan dan merindukan Bella.
" Hai Bar .. "
__ADS_1
" Hai kamu lagi dimana itu ? Mata kamu kenapa ? "
" Aku di rumah anak-anak. Tentu aku habis menangis terharu bertemu kembali anak-anak "
" Oh ya ? Mana aku lihat Zayn dan Queen.
Bella mengalihkan kameranya menggunakan kamera belakang.
" Say Hi Queen ada uncle Akbar. Kamu masih mengenalnya ? "
" Uncle .. Ya I know mom "
" Hi Queen sudah besar Queen ku. Nanti uncle pulang ajak Queen sama Zayn main ya ? "
" Ok uncle Queen sama dede tunggu ya ? "
" Siap laksanakan tuan putri. "
Bella tersenyum bahagia melihat Akbar yang begitu perhatian pada kedua anaknya. Akbar tak membeda-bedakan meski Akbar membenci Bram namun Akbar tetap memberi kasih sayang yang sama pada Zayn.
Dibalik senyum bahagia Bella, ada hati yang tersayat. Bram di belakang Bella memperhatikan mereka tanpa Bella sadari. Violine kini sudah pergi, Bram awalnya ingin menemui Bella dan meminta maaf secara pribadi. Namun begitu melihat kedekatan Bella dan Akbar, hati Bram kembali meradang. Bram mengurungkan niatnya, lalu kembali ke kamarnya untuk menenangkan diri sejenak.
Aku kira kepergian mu akan membuat jarak dengan Akbar. Ternyata kamu malah semakin lekat dengan dia. Apa kamu sengaja melukai ku Bel ?
Batin Bram lirih
Bram membuka nakas di kamarnya, masih tersimpan dengan rapih foto-fotonya bersama Bella. Bram mengusap lembut wajah Bella dari bingkai foto itu.
Bram terseyum melihat foto ekspresi menggemaskan Bella saat menggunakan baju resepsi pernikahan mereka dulu. Bella tampak anggun dan cantik. Masih jelas dalam ingatan Bram betapa bahagianya Bella dulu menyambut kehidupan baru mereka. Meski berawal dari sebuah kesepakatan, namun Bella melakukan tugas nya sebagai istri dengan baik. Bella tak pernah menyerah pada tingkah Bram yang seringkali berbuat kasar dan semaunya. Bella juga melayani Bram dengan sepenuh hati meski Bram tak memberi cinta yang layak untuknya.
Bel rasa bersalah ini seperti akan membunuhku. Kenangan tentangmu begitu indah namun meracuni ku membuatku merasa tercekik dan hampir mati. Aku merindukanmu aku merindukan kita.
Bram memeluk erat foto Bella dalam dadanya lalu membawanya berbaring di atas ranjang seraya terus mengingat masa lalu mereka.
Di ruang santai Bella asik bermain dengan Queen sedang Zayn berada di gendongannya hingga terlelap. Bella menatap mereka lekat tak ingin lagi melepas keduanya. Namun masin ada beberapa tahun tersisa untuk menyelesaikan study nya. Sekarang belum saatnya Bella membawa kembali anak-anak, Bella harus memastikan dirinya benar-benar kuat dan layak. Untuk sementara, selagi Bram tidak membatasinya biar lah seperti ini. Namun sekali saja Bram mengulang kembali tindakan bodohnya, Bella tak akan segan melawan dan menuntutnya ke pengadilan.
__ADS_1
Lihat saja Bram, sekali lagi kamu membuat ku menderita. Aku akan membuatmu menangis darah berharap pengampunan. Aku akan membuatmu menjadi manusia paling kesepian di dunia ini.
Belum saja Bella mewujudkan kata-katanya, Bram pun sudah merasakan itu sejak dua tahun yang lalu. Hanya saja masih bisa terobati karena kehadiran anak-anak disisinya.