
Bram menarik lengan Bella di depan rekan-rekannya dan juga Akbar. Untuk kedua kalinya Bram menahan kepergian Bella.
“Kau pulang bersamaku Anabella!" Perintah Bram tegas
Akbar hendak meraih pundak Bella untuk membawa wanita itu kedalam dekapannya. Persetan dengan pekerjaan, aku harus menyelamatkan Bella dari cengkaraman Bram, begitu pikir Akbar. Namun Bella menghindar rangkulan Akbar
“Tak apa Pak Akbar aku baik-baik saja. Aku akan pulang dengan Bram. Jangan khawatir" Ucap Bella lembut
“Tenang Akbar, aku tidak akan menyakiti istriku sendiri. Aku hanya menjaganya agar tidak ada yang membawanya pergi dari sisiku" Sindir Bram
Aura panas terasa di antara mereka. Rekan Bella menerka apa yang terjadi di antara mereka.
“Sudah Bram ayo kita pergi" Kevin menengahi Bram dan Akbar
Bram menyerahkan kunci mobilnya pada Kevin dan mengambil kunci mobil Bella.
“Kevin, bawa mobilku dan tinggalah di hotel. Aku harus menyelasikan urusanku dengan nya" titah Bram yang terus mencengkram tangan Bella masuk kedalam mobil
“Lepaskan Bram, aku kesakitan" Bella meringis
Bram melepaskan cengkramannya, lalu memacu kendaraannya di atas batas kecepatan. Sampai di rumah Bram langsung menyeret Bella ke kamar utama di lantai 1. Meski belum pernah memasuki rumah itu setelah renovasi, Bram mengetahui betul letak setiap ruangan karena dulu dia menerima design interior rumah itu dari orang suruhannya. Bahkan Bram memiliki kartu akses ke setiap ruangan.
“Gila kamu Bram, setan apa yang merasukimu" maki Bella
__ADS_1
“Setan katamu? Tidak perlu setan untuk membuatku menggila. Cukup dengan tingkah bodohmu sudah membuat kepalaku serasa pecah" Bentak Bram
“Aku memberikan segalanya untukmu Bella, aku menyayangi Queen seperti putri ku sendiri. Tapi apa balasanmu? Kamu injak-injak harga diriku." Jelas Bram
“Harga diri apa maksudmu?" Bella menerka
“ Kamu pikir aku akan terima begitu saja saat kamu menangis di pelukan Akbar, bahkan seminggu sekali Akbar menjemput Queen. Aku tau semua. Aku tau kalian saling mencintai. Tapi tak bisakah kamu menghargaiku? Setidaknya selama menjadi istriku jagalah dirimu dari pria lain." Bram meracau
“Jadi kamu ingin aku manjalankan kewajibanku, sedangkan kamu bebas berbuat sesuka hatimu?" nada suara Bella meninggi
“Oh kamu mau aku juga menjalankan kewajiban ku seutuhnya? Baiklah aku akan melakukannya malam ini" Bram membuka jas dan melonggarkan dasinya, Ia melucuti pakaiannya satu persatu hingga menampakan tubuh atletisnya. Bella yang melihat itu justru bergidik ngeri karena masih sangat trauma untuk melakukan hubungan intim pasca perceraiannya dengan Adam yang kerap melukainya saat menolak berhubungan.
Bram mendorong Bella dengan kasar keatas ranjang, mencengkram tangan Bella dengan kuat.
“Andai kamu tidak memprovokasi ku Bella aku tak akan sejauh ini" Batin Bram
Bram pun terlelap dengan tangan yang melingkar di atas perut Bella.
Adzan subuh berkumandang Bram merenggangkan badan nya lalu membuka mata perlahan. Bella sudah tak ada di kamar utama. Bram bangkit lalu membersihkan diri, Bram mencari Bella ke lantai dua kamar Queen dan kamar Bella berada. Bram hanya memastikan wanita itu tidak kabur dan mempermalukan dirinya.
tit .. tit kunci pintu terbuka. Bram mendapati tubuh Bella yang sudah berpakaian lengkap, saat itu tubuh Bella sedang menggigil hebat. Bram menghampiri Bella dan menyentuh kening Bella yang terasa panas. Bram ke bawah mengambil termometer dan obat penurun panas.
“39,7 derajat celcius" gumam Bram
__ADS_1
“Bella, Bella bangunlah. Kamu harus minum obat Bell" Namun Bella tak bergeming
Bram yang khawatir langsung membopong tubuh Bella ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Di perjalanan Bram menghubungi seseorang
“Segera siapkan ranjang di depan ER, saya sedang dalam perjalanan membawa pasien."
Seluruh Rumah Sakit Wijaya dibuat panik. Bukan karena tidak bisa menangani para pasien, tapi karena presdirnya mendadak datang. Dokter-dokter terbaik bersiap di depan menanti kedatangan Bram.
Bram sampai di rumah sakit dan langsung menggendong tubuh Bella ke ranjang untuk segera mendapat perawatan.
“Sedang apa kalian? Apa kalian tidak punya pasien? Atau kalian sudah tidak ingin bekerja?" Bentak Bram yang membuat seluruh dokter ngeri dan membubarkan diri.
Bella sudah di pindahkan ke ruang rawat inap karena keadaannya sudah cukup stabil dan sempat sadar meski tidak lama tertidur lagi. “Demamnya sudah turun" Bram mengusap kepala Bella lembut. Bram memantau sendiri keadaan Bella dari waktu ke waktu hingga nyaris tidak tidur.
Bella mengerjapkan matanya, Bram yang melihat pergerakan mata Bella langsung menyentuh pipi Bella.
“Bella, kamu sudah bangun?" Perlahan mata Bella terbuka, nampak wajah Bram yang berantakan
“Bella kamu mendengarku? Kamu mau sesuatu Bella?" Bella membeku tak menjawab bahkan tak merspon Bram. Tatapannya kosong. Bram langsung memangil piskiater ke ruangan Bella.
“dr.Bram, sepertinya nona Bella mengalami depresi berat. Beliau tidak merespon apapun untuk saat ini. Saya akan resepkan obat dan membawanya kesini" Bram mengacak rambutnya kasar. Apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini. Kegilaannya sampai membahayakan Bella.
__ADS_1