
Waktu berlalu semakin cepat rasanya, tak terasa sudah tiga bulan semenjak Bella di Indonesia. Akbar mengabari hari ini akan pulang ke Indonesia karena seluruh urusannya di Jepang sudah selsai, kemarin pula Akbar bergegas berkemas padahal masih punya waktu seminggu sebelum kembali ke perusahaan. Namun Akbar sengaja tak bersantai dulu karena merindukan Bella.
💬 Akbar : Sebentar lagi aku flight .. See you
💬 Bella : Baiklah, hati-hati
Bella bahagia mendapat kabar Akbar terbang sekarang ke Indonesia, dua tahun hidup bersama Akbar Bella mulai merasa kehilangan dan kesepian. Bella tersenyum sambil memainkan ponselnya padahal kelas sedang berlangsung.
" Heh Mom, curiga mau dapet daddy baru " Sindir Ghisel
" Haha dia cuman temenku. " Jawab Bella santai
" Temen nanti demen " Zidane menyambar pembicaraan
" Iya bener udah demen kan repot nanti ada drama peperangan lagi antara daddy lama sama daddy baru " Reza ikut menjawab
" Eh Pak Dwi ngelirik kita .. " Amanda berpuru-pura untuk membubarkan keriuahan yang di buat ke emlat sahabatnya.
" Dasar dedemit, bikin panik aja. " Zidane menjitak kepala Amanda
" Aw dasar tulang lunak ! "
" Bacot .. "
Amanda dan Zidane yang duduk berdampingan seketika menggeser posisi mereka menyerong saling memunggungi. Sudah biasa Amanda dan Zidane berdebat, kadang ke tiga sahabatnya berpikir bahwa mereka akan jadi jodoh.
Sore hari tiba seluruh kelas dan kegiatan sudah selesai, Bella ijin pada Amanda hari ini akan menginap di aprtemen Akbar karena hendak menjemput Akbar nanti malam. Kalau tidak ada hambatan, Akbar akan tiba tepat pukul 9 malam.
" Tapi dia cowok baik-baik kan ? Gak bakal di apa-apain kan ? "
" Ya enggaklah aku sama dia satu apartemen ko selama di jepang. "
__ADS_1
" Yaudah jaga diri. Usahakan jangan macem-macem kalo macem-macem pastiin cowok nya bukan brengsek macam Bram ! " Amanda memperingatkan
" Haha ngaco, gak bakal. Yaudah aku pergi dulu bye .. "
Bella bergegas pergi menggunakan taksi menuju apartemen Akbar. Sebelum Akbar tiba, Bella berniat untuk merapihkan dulu apartemen Akbar yang sudah lama kosong, Bella ingin memberi sedikit kejutan selamat datang pada Akbar. Bella memasang berbagai pernak pernik bertuliskan 'Welcome Home Akbar' dengan hiasan lampu, balon, dan bunga. Bella juga menyiapkan meja makan romantis, entahlah Bella hanya tiba-tiba ingin memberikan kejutan manis. Semua Bella buat dengan mendadak.
" Perfect ! " Ucap Bella saat menatap dekorasi yang sudah dibuatnya susah payah.
Hanya tinggal sejam lagi, Bella segera menyambar kunci mobil milik Akbar lalu meluncur meninggalkan apartemen menuju bandara. Jarak ke bandara menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit. Bella sampai dan sempat menunggu di lobby bandara sambil memainkan ponselnya menunggu Akbar memberi kabar namun tak kunjung ada. Bella juga menghubungi Akbar namun tak terhubung padahal menurut informasi pesawat yang di tumpangi Akbar sudah mendarat. Bella menunggu dengan khawatir sampai seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
" Akbar .. " Bella berbalik lalu memeluk Akbar.
" Aku 10 menit loh di belakang kamu lihatin kamu cemas banget kayanya " Akbar menepuk nepuk punggung Bell membalas pelukannya.
" Nyebelin ih bukannya bilang malah sengaja bikin panik. "
" Maaf ya ? " Akbar melepas pelukannya lalu kedua tangannya menelungkup pipi Bella gemas.
Keduanya membelah lalu lintas jalanan ibu kota yang tetap saja ramai meski waktu sudah malam. Sesampainya di area parkir Belle bergegas lari keluar mendahului Akbar yang bahkan belum melepas seat beltnya.
" Aku duluan gak kuat mau pipis. " Bella menghilang dengan cepat
Sebenarnya itu hanya alasan, begitu sampai Bella menyalakan lilin sepanjang pintu masuk sampai ke meja yang sudah di setting sedemikian rupa dekat dengan jendela agar mereka bisa makan sambil menikmati pemandangan malam ibukota.
Lampu di padamkan, karena Akbar repot membawa beberapa barang sehingga banyak waktu luang untuk Bella membuat penyambutan ini begitu sempurna. Akhirnya Akbar sampai di unit apartemennya, begitu pintu terbuka Akbar sedikit aneh karena suasanya gelap. Akbar melihat cahaya lilin dan tebaran bunga di depannya yang menuntun Akbar sampai ke meja makan. Disana Bella berdiri menggunakan dress berwarna putih sedang menghadap ke jendela.
" Welcome Home Akbar .. " Sambut Bella dengan senyum merekah di bibir merah muda nya
" Ahh cantik sekali. Kenapa repot-repot begini ? "
__ADS_1
" Tidak repot. Aku hanya ingin menyambutmu dengan baik. "
" Terimakasih Bell, jadi terharu "
" Udah jangan nangis haha mending kamu cuci tangan terus ganti dulu baju. Kita makan disini "
" Ok .. "
Akbar bergegas pergi ke kamar, membersihkan diri sejenak lalu mengganti pakaiannya dan kembali lagi menuju Bella. Akbar menatap lekat Bella yang tampak sempurna. Di perlakukan semanis dan sehangat ini membuat Akbar merasakan kebahagiaan yang tak pernah di rasakan sebelumnya.
Mereka menikmati santap malam bersama lalu bersantai memandang gemerlapnya lampu di luar sana. Bella berdiri di dekat jendela masih takjub dengan pemandangan di sekitarnya.
" Indah bukan ? " Tanya Akbar yang merangkul pinggang Bella dari belakang
" Sempurna .. "
" Masih belum mau menikah dengan ku ? Lalu menikmati setiap malam seperti ini Bel ? " Tanya Akbar membuat Bella berbalik lalu menatapnya lekat
" Aku masih merasakan banyak kebencian di hatiku. Aku takut akan menyakiti orang yang tidak bersalah jika memaksakan diri. " Bella menjawab dengan serius
" Kalau begitu lampiaskan kebencianmu pada mereka yang bersalah. Buat hati mu lapang. Untuk apa memendam penderitaan seorang diri ? " Akbar meyakinkan Bella.
" Caranya ? "
" Buat Bram mengira kita berhubungan, buat dia merasakan sakit yang sama seperti saat dia menyakitimu, buat dia mengejar cintamu, buat dia berpaling dari wanitanya hingga membuat wanita itu hancur, lalu setelah nya tinggalkan dia maka dengan begitu kedua orang itu akan merasakan bagaimana penderitaan mu Bel "
" Apa tidak terlalu kejam ? "
" Tidak .. Manusia yang bersalah memang pantas mendapat hukuman. "
" Kamu benar. Baiklah, apa kamu bersedia memerankan tokoh antagonis bersamaku ? "
__ADS_1
" Denganmu, aku bisa menjadi apa saja yang kamu mau Bel "
Bella mendekatkan tubuhnya pada Akbar, memeluknya dengan damai lalu menyandarkan kepalanya tepat di ceruk leher Akbar. Bahkan tanpa berperan pun mereka sudah seperti pasangan nyata, tak akan ada yang menduga kedekatan mereka hanya sekedar persahabatan. Mungkin memang mereka tak meresmikan hubungan apapun, namun mereka tau hubungan mereka lebih dari sahabat dan mereka memberikan kenyamanan satu sama lain tanpa harus menuntut penjelasan dan status.