
Bella datang ke rumah Bram di temani Akbar memenuhi undangan Bram untuk membicarakan masalah pengasuhan anak-anak dan aset yang sudah Bram pindah tangankan menjadi atas nama Bella.
" Terimakasih ya kalian sudah datang ? " Sapa Bram ketika baru saja masuk ke ruang tamu. Bram juga mengundang Kevin sebagai saksi dan seorang pengacara yang mengurus aset-asetnya.
" Langsung saja ke intinya Bram. " Ucap Bella dingin.
" Aku ingin mengajukan musyawarah secara kekeluargaan, baik aku atau kamu Bel lebih baik kita tidak menindak lanjuti ke meja hijau. Untuk pengaushan anak-anak aku menyerahkan sepenuhnya padamu. " Bram membuka pembicaraan dengan serius
" Apa jaminan nya Bram ? Seperti yang kita tau, kamu selalu mempermainkan ku "
Sebelum menjawab Bram menghela nafas panjang. " Demi kebaikan psikis anak-anak kamu tinggallah disini. Anak kita tumbuh besar di rumah ini, rasanya tidak baik jika mereka dibawa berpindah-pindah dalam keadaan kita yang terpecah. Dan aku akan angkat kaki, 80% asetku sudah menjadi milikmu. Aku tak bisa membagi antara Queen dan Zayn aku menyayangi mereka sama besarnya. Jadi aku ingin kamu yang menjaga aset mereka sampai dewasa lalu bagilah sebagai mana harusnya. "
Bella terdiam sejenak, Bella melihat manik coklat Bram berkaca. Setelah bertahun merawat anak-anak mereka seorang diri tentulah berat untuk Bram melepaskan mereka. Namun Bram tak berdaya, Bram tak ingin Bella pergi begitu saja. Setidaknya ini adalah usaha terbaiknya, jika kali ini masih gagal seperti kata daddynya Bram akan menyerah.
" Untuk jaminan bisa kamu bicarakan dengan Pak Alvi, beliau pengacara ku. Beliau yang mengurusi aset keluarga kami selama ini. Daddy juga sudah mengetahui dan menyetujui ini. Namun Bel, untuk pengelolaan ijin kan aku tetap ikut turun tangan. Saat ini kamu masih kuliah masih belum bisa mengelola sepenuhnya. "
" Kamu berlebihan Bram, tapi karena ini untuk anak-anak aku menyetujuinya. Dan untuk masalah pengelolaan seluruh usaha yang kamu pindah tangan kan atas namaku, aku serahkan padamu seperti katamu aku belum cukup baik untuk mengelolanya. Tapi kamu harus transparan karena ini milik anak kita " Sungguh Bella sekarang seakan bersikap matrealistis, namun tak ada cara lain. Bella harus melindung dirinya dan anak-anak.
" Baiklah, malam ini aku akan berkemas. Dan besok pagi aku akan pergi. Aku akan tinggal bersama daddy jika nanti anak-anak bertanya katakan aku dalam perjalanan bisnis. Aku akan menjenguk mereka seminggu sekali. Deal ? "
" Deal ! "
Bram tersenyum hangat lalu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan, namun Bella enggan menyambut tangan Bran hingga Bram kembali menarik tangannya.
" Ok tak masalah. I hope your happy Bell .. "
" Terimakasih, aku pulang dulu sudah malam. Salam pada anak-anak. "
__ADS_1
Bella pun berpamitan lalu mengajak Akbar pergi, hati Akbar dalam keadaan yang bahagia karena Bella kini bersikap sangat dingin pada Bram, entah kenapa Akbar merasa sangat puas melihat raut sedih di wajah Bram.
" Kamu berani sekali Bel ? " Tanya Akbar dalam perjalanan pulang.
" Sakit hatiku, kecewaku, dendamku itu menjadi kekuatan untukku melawan. Apa itu salah Bar ? " Bella balik bertanya.
" Tidak ada yang salah, disini kamu yang jadi korban. Selagi kamu tidak melakukan yang melanggar hukum, kamu bebas melakukan nya. " Akbar mengusap rambut Bella lembut.
Di lain tempat Bram kini ikut meringkuk di ranjang anak-anak, mereka tidur sangat nyenyak hingga Bram tak tega mengganggu mereka untuk sekedar memberikan ucapan perpisahan. Bram mengusap rambut mereka lalu bergantian mengecup kening kening. Bram menatap wajah polos Queen dan Zayn, Bram mencintai mereka sungguh. Hari-hari yang di laluinya selama 5 tahun terakhir ini sebagai seorang Ayah merupakan momen paling berkesan dalam hidupnya.
" Andai daddy bisa memutar waktu, daddy tak akan bertingkah bodoh hingga menimbulkan kekacauan ini nak .. " Air mata yang Bram tahan pun mulai bercucuran.
" Namun dad tak bisa nak, daddy hanya bisa berusaha memperbaiki keadaan berharap mommy kalian bisa berlapang dada. Maafkan daddy yang membuat masa kecil kalian tak seindah yang lain. " Dada Bram terasa begitu sesak, satu kesalahannya telah menghancurkan hidup orang-orang di sekitarnya. Hanya karena mengikuti mengikuti egonya, Bram menyakiti keluarganya, anak-anaknya, dan Bella.
Hingga malam berlalu Bram setia menemani anak-anak tidur, pagi harinya Queen yang pertama kali bangun. Queen melihat wajah Bram yang sembap dan sudut matanya yang terus menerus basah. Queen memeluk Bram dengan tangan kecilnya.
" Udah .. daddy abis nangis ya ? Maafin Queen ya dad ? "
" Daddy gak nangis ini lihat, daddy sakit mata kelamaan bobo nya. "
" Daddy gak boleh bohong, Queen udah gede. Ini itu daddy abis nangis. " Jelas Queen yang memang semakin besar semakin pintar.
" Sini peluk daddy Queen. Daddy perlu di peluk. "
" Maaf ya dad Queen sama Zayn bikin daddy cape, bikin daddy sedih. Makasih daddy udah sayang sama kita udah ngerawat kita sendiri. "
" Kenapa bilang gitu hmm ? Ngerawat kalian itu kebahagiaan buat daddy. Kalian gak pernah bikin dad cape atau sedih. " Bram kini malah semakin berlinang lalu melepaskan pelukan Queen dan pergi ke kamar mandi dengan alasan ingin buang air padahal di kamar mandi Bram tak hentinya menitikan air mata di iringi suara gemiricik air untuk meredam suara tangisnya. Bram menatap dirinya di depan cermin dan merasa hancur. Bram baru bisa menstabilkan diri setelah Ayu memanggil memberitahu bahwa Kevin sudah tiba, dan tak berapa lama di susul dengan Violine. Terdengar keributan di bawah antara Kevin dan Violine.
__ADS_1
" Jujur ya Vi, gue dari dulu kurang respect sama Lo. See ? Karena Lo hidup sahabat gue kacau. "
" Karena gue ? Apa gue maksa Bram buat milih gue ? Enggak ! "
" Ya emang enggak, tapi Lo yang terus-terusan cari kesempatan dalam kerenggangan Bella sama Bram. "
" Gue tulus, mereka juga udah pisah. Apa salahnya ? "
" Salah Lo karena dari sebelum mereka pisah, Lo udah mercikin api buat hubungan mereka terbakar. Lo emang sumbu pendek ya ! "
" Udah stop disini ada anak-anak. Kalian duduk ! " Bram turun lalu menengahi perdebatan antara Kevin dan Violine.
" Ada apa kamu kesini pagi-pagi vio ? " Tanya Bram tanpa basa basi.
" Aku mau minta penjelasan, kenapa Presdir Albert tiba-tiba ngebatalin pertunangan kita ? "
" Aku gak cinta kamu, aku gak mau nyakitin kamu lebih lama lagi. Kamu layak mendapat yang lebih baik dari aku. "
" Apa kamu gila Bram ? Setelah sekian lama kamu baru bilang ini sekarang ? "
" Iya aku gila. Aku gila karena memaksa hubungan kita berjalan dalam penyesalan. Maaf Vio maaf, pergilah jangan buat keributan lagi. "
" Kamu mengusirku ? Baiklah tapi ingat aku gak akan biarin kami hidup dengan tenang. " Vio menarik tas nya kasar lalu segera pergi meninggalkan kediaman Bram.
Bram memijat keningnya yang terasa pening, sepertinya masalah enggan meninggalkan hidupnya. Masalah dengan Bella baru saja selesai, timbul lagi masalah baru dengan Violine.
" Sabar Bram yang namanya mau jadi orang bener ada aja cobaannya. " Ucap Kevin memberi dukungan pada Bram.
__ADS_1