
Sudah 2 bulan Bram di Jakarta dan Bella di Bandung. Kondisi Bella sudah jauh stabil, bisa di bilang lebih stabil di banding sebelumnya. Amnesia sementara yang terjadi padanya saat bersama Bram, benar-benar membawa awal yang baru. Bella melupakan traumanya dan mampu menghadapi ketakutannya. Perlahan ingatan tentang Bram kembali, terlihat mengerikan tapi Bella tidak merasa takut lagi. Bella mengikhlaskan semua yang terjadi padanya.
drtt .. drtt
notifikasi pesan singkat dari Bella
Setelah sekian lama Bella akhirnya menghubungi Bram
Bella: Bram aku sudah baik-baik saja. Aku bahkan bisa mengingat semua kebersamaan kita dulu. Berhentilah menyalahkan dirimu, kamu layak bahagia.
Bram : Benarkah? Syukurlah Bell.
Bella : Bram ada yang ingin aku bicarakan. Aku akan ke jakarta menemui mu
Bram : Jangan Bell, biar aku saja yang kesana malam ini
Bella : Baiklah, hati-hati Bram
Bram tiba di Bandung hampir tengah malam. Bram langsung ke kamar utama lalu membersihkan diri. Sudah bisa di tebak kalau Bella di lantai 2. Selesai membersihkan diri Bram menuju lantai 2 menghampiri Bella yang tengah terlelap, Bram menyentuh kening Bella perlahan. Bella terperanjat lalu membuka mata.
__ADS_1
“Ah maaf Bella aku tidak bermaksud membangunkan mu" Ucap Bram
“Tidak apa Bram, aku tau." Bella tersenyum
Bella sekarang terlihat lebih tenang. Wajahnya bersinar, tidak sendu seperti awal-awal bertemu. Bella menepuk-nepuk ranjang memberi kode agar Bram mendekat.
“Mau bicara sekarang? Kamu tidak lelah?" Tanya Bella sambil menatap wajah Bram
“Lelah, tapi aku memilih kelelahan dari pada mati penasaran" Jawab Bram
Bella terkekeh mendengar jawaban Bram yang masih sempat bercanda di tengah perbincangan serius mereka. Bram pun tak kalah herannya melihat Bella yang sudah hidup normal, tidak sangka dalam waktu yang singkat menjauhi Bella ternyata lebih baik daripada mengekangnyaa.
“Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?" -Bram
“Aku yakin kamu tidak mencintaiku. Yang kita lakukan waktu itu hanya karena ledakan emosi. Andai kamu mencintaiku, kamu tidak akan berani melakukan itu." -Bella
“Kamu benar, akupun merasakan hal yang sama. Mungkin aku belum bisa mencintai siapapun Bell." -Bram
“Tidak masalah Bram, tapi aku ingin kita segera akhiri ini. Jangan bermusuhan, mari kita bersahabat" -Bella
__ADS_1
“Jadi kamu ingin aku menceraikanmu? " -Bram
“Ya Bram, kita harus melanjutkan hidup dengan baik" -Bella
“Aku akan melakukannya Bella tapi jangan sekarang, Daddy belum pulih. Tunggulah sekitar 3 bulan lagi, aku berjanji tak akan mengusikmu selagi menunggu saatnya tiba" -Bram
“Oke, sekarang istirahatlah Bram." -Bella
“Ya bella" Bram bangkit dari duduknya di samping Bella, Bram melangkah keluar namun tidak turun ke kamar utama melainkan menghampiri kamar Queen
“Hallo Queen, Daddy disini. Daddy merindukanmu Queen" Lirih Bram berkata sambil mengelus rambut Queen
“Besok daddy akan pergi lagi, jadi malam ini daddy akan menemani mu ya Queen"
Bella yang awalnya akan melihat Queen sebelum tidur, langkahnya tertahan saat melihat Bram yang tengah membelai Queen.
“Maaf Bram, aku membuat mu dan Queen jauh. Aku memang sudah memaafkan mu tapi aku butuh waktu. Melihatmu hanya memperkuat ingatanku akan malam mengerikan itu." Bella membatin.
Bella pun mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kamarnya. Bella ingin memberikan waktu pada Bram untuk bersama Queen sebelum kembali ke Jakarta.
__ADS_1