Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Ambruk


__ADS_3

Kandungan Bella memasuki bulan ke tiga, dengan aktifitasnya yang berat membuat fisik Bella sering kali merasa drop. Meski begitu Bella selalu menahan sakitnya karena tau saat dirinya mengeluh maka Bram seketika akan menghentikan aktifitas Bella. Ya Bella tak mau jika harus mengulang koas nya, Bella ingin segera lulus dan mandiri mengejar karir nya yang tertunda.


Sudah tiga hari kepala Bella terasa berat, tubuhnya pun lemas tak bertenaga namun terus di paksa untuk bekerja terlebih banyak residen yang memfavoritkan Bella untuk menjadi asisten mereka karena terkenal sangat kompeten.


" Lo kenapa Bel ? " Tanya Amanda yang melihat wajah sahabatnya terlihat pucat.


" Kenapa apanya ? Gue gak papa .. "


" Ngaca sih Lo, gak nyadar apa muka Lo pucet gitu " Amanda menyodorkan sebuah cermin ke wajah Bella.


" Kelihatan banget ya ? Mana ada operasi sama laki gue, kita di suruh kesana. Kalo doi lihat bisa khawatir dia. " Gumam Bella.


" Yaudah Lo gak usaha kesana toh laki Lo ini, nanti gue ijinin deh gue bilang Lo ada jaga di IGD. "


" Nanti dia nanya nanya ke IGD terus gue ketahuan gak ada makin berabe di kiranya gue melipir sama laki lain gimana ? Gak ah gue ikut aja, gue kuat ko. "


" Bener ya ? Awas aja Lo kalo sampe napa napa gue tinggal ! " Ancam Amanda.


" Tega banget sih Lo .. "


" Yaudah ayo " Ajak Amanda menarik tubuh Bella perlahan.


Bella dan Amanda pun menuju ruang operasi yang baru sampai di tahap pemberian anastesi. Sedangkan para dokter sepertinya baru siap. Bella menatap sekeliling mencari keberadaan suaminya yang ternyata sedang bercanda santai dengan Dokter Arnold sebelum otak dan fisik mereka di peras nanti. Dokter Arnold adalah salah satu sahabat Bram yang baru saja Bram rekrut ke rumah sakit ini, rencananya untuk mengganti dirinya saat menjadi relawan nanti namun belum juga terwujud kini Bella mengandung dan Bram tak mungkin meninggalkan Bella.


__ADS_1


" Bella, dokter Bram umur berapa sih ? " Tanya Malika seorang koas yang masih satu kelompok dengan Bella.


" Kenapa emang ? "


" Awet muda, gue kira umur 30an awal, tapi inget beliau udah punya titel Professor mana mungkin ya umur segitu ? "


" Emang 30an ko tapi 30 nya di akhir haha doi 2 bulan lagi kepala 4 sayang " Jelas Bella.


" Serius ? Gila kepala 4 masih kenceng gitu. Treatment nya kaya gimana sih ? "


" Bram pernah jawab ke gue gini, banyakin wudhu sayang .. " Bella memperagakan nada bicara Bram pada Malika.


" MashaAllah udah ganteng, mapan, rajin ibadah lagi. Paket komplit, seneng banget kaya nya jadi isrinya "


Bram mulai memasuki ruangan, operasi akan berlangsung selama 8 jam namun tentu saja para koas tidak akan mengikuti selama itu. Mereka akan dibimbing untuk mempelajari kasus dan step apa saja yang akan di lakukan. Bella menatap bangga pada pria yang berada di hadapannya itu, selalu tampak menawan dengan jubah bedah nya.



Bram memulai operasi nya bersamaan dengan dokter Arnold, mereka akan melakukan operasi transplantasi hati yang membutuhkan waktu sampai 12 jam lamanya tergantung tingkat kesulitan dan jam terbang si dokter juga yang akan menentukan. Operasi baru berjalan dua jam namun Bella merasakan kembali kepalanya berputar yang di ikuti dengan tangan dan kaki yang terasa kebas mati rasa. Bella segera duduk lalu mengatur nafasnya yang menjadi sesak, pandangannya mulai berkabut.


" Bella Lo kenapa ? " Tanya Amanda.


Mendengar nama istrinya di panggil, Bram menoleh sesaat untuk memastikan keadaan istrinya namun Bram segera kembali memfokuskan diri pada pasien di depannya. Baru saja beberapa detik melepaskan pandangannya dari Bella ..


Brruukk .. Bella terhuyung ke lantai saat berusaha bangkit untuk meninggalkan ruangan agar tak mengganggu konsentrasi Bram, sialnya Amanda tak bisa menahan bobot tubuh Bella karena dirinya saja ikut jatuh meski sudah sekuat tenaga menahan.

__ADS_1


" Amanda tolong bawa Bella ke IGD sekarang juga. Koas yang lain bisa ikut bantu. " Titah Bram berusaha tenang meski pikirannya kini kacau. Bram harus bersikap profesional karena yang kini di pertaruhkan adalah nyawa pasiennya.


Merekapun mengangkat tubuh Bella keluar membawa nya dengan segera ke IGD dan memanggil Darel. Dengan nafas yang terengah Darel menghampiri bangsal.


" Ada apa kenapa ? " Tanya Darel


" Bella pingsan dok, dari pagi udah ngeluh kepalanya pusing terus pucat juga dok. "


" Ambilkan saya alat USG " Perintah Darel pada perawat.


Darel segera memeriksa keadaan janin dalam kandungan Bella. Darel khawatir karena menurut penuturan Amanda, Bella jatuh dengan keras dengan posisi perut membentur lantai. Darel mengamati janinnya terlihat baik namun keadaan Bella yang tidak baik. Darel mengambil sampel darah untuk segera di periksa ke lab. Dalam 30 menit Darel sudah menerima hasil, seperti dugaannya Bella mengalami anemia. HB nya merosot hingga di angka 5. Darel menggeleng tak percaya, mau tak mau Bella harus di rawat kembali untuk mendapatkan transfusi secara bertahap.


Beberapa jam berlalu, waktu terasa begitu lama bagi Bram. Hingga kini Bram sampai di tahap terakhir menutup luka, Bram menyerahkan pekerjaan itu pada residen dan segera berlari menuju IGD. Semua tatapan tertuju pada Bram yang terlihat panik menanyakan posisi bed istrinya hingga akhirnya Bram menemukan Bella yang terkulai lemas dengan oksigen dan infus yang menempel di tubuhnya.


" Bella .. " Bram mulai terisak di lengan Bella, persetan dengan mereka yang menatap heran Bram hanya ingin istrinya membuka mata dan mengatakan dirinya baik baik saja.


" Bram, bayi kalian baik baik aja. Cuman keadaan Bella yang sedikit buruk. Bella mengalami anemia, gue cek HB nya drop sampe di angka 5. Istri Lo butuh tranfusi bertahap Lo tau itu gak cukup sehari.


" Lo gak usah khawatirin koas dia, yang penting Lo rawat istri gue Rel. Gue percaya sama Lo. " Bram menggenggam memohon.


" Tenang Bram, ini bukan hal besar. Gue pasti lakuin yang terbaik. Sementara kita pindahin dulu Bella ke ruang perawatan Bram. " Ajak Darel.


Hingga malam tiba Bella belum sadarkan diri, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Bram menuju kamar mandi lalu mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Isya. Karena ada pasien yang harus di pantau pasca operasi, Bram pun sampai harus bolak balik menguras tenaganya.


Setelah shalat Bram mengambil Al Qur'an kecil di tas nya, Bram duduk di samping Bella lalu mulai melantunkan ayat suci dengan tangan yang mengelus lembut perut Bella. Bram juga menyenandungkan shalawat sebelum mulai mengaji. Terdengar suara lembut itu kini mengalun indah.

__ADS_1


__ADS_2