Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Akankah Bersedih ?


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 01.24 Bella terpaksa mengerjapkan matanya karena mendengar suara seseorang yang tengah muntah dari arah dapur. Seingatnya, sebelum dirinya tertidur di sofa ruang keluarga, hanya ada Bram yang masih terjaga di hadapan laptop milik Bella.


" Hmm Bram ? " Panggil Bella begitu dirinya duduk dan menatap ke arah dapur yang hanya terhalang mini bar.


" Yas Bel ? " Jawab Bram yang segera membersihkan bekas muntahannya.


" Are u okay ? Kamu muntah-muntah apa kamu abis mabok ? "


" No .. Aku masuk angin kayanya Bel. " Keluh pria yang saat ini berjalan mendekati Bella.


" Udah jangan di lanjut lagi. Kamu tidur aja di kamar tamu. "


" Apanya yang mau di lanjut ? Orang udah selesai ko "


" Hah ? Serius ? Gila ! Kamu ini pasti mabok revisian Bram .. "


" Haha kayanya gitu " Bram terkekeh lalu duduk di samping Bella, tanpa canggung Bram merebahkan kepalanya di pundak Bella.


" Eh .. Eh apa-apaan coba ? Minggir .. " Bella berusaha mengangkat kepala Bram namun tak berhasil.


" Bentar aja Bel, pinjem deh tangan kamu pijitin kepala aku buat bayaran udah ngerjain revisian kamu. Kepala aku sakit banget " Bram memelas lemah.


" Bram kamu demam " Ucap Bella begitu tangannya dengan terpaksa menyentuh kepala Bram.


" Hmm I know .. tapi aku udah minum obat besok juga baikan. Sekarang aku pengen di pijetin aja sebentar "


" Okay, sini " Bella bergeser ke ujung sofa memberikan Bram lebih banyak ruang untuk merebahkan tubuhnya di sofa dan kepalanya di atas paha Bella.


" Thanks mommy, kalo aku udah tidur kamu tidur di kamar ya ? " Ucap Bram dengan mata yang hampir tertutup sempurna.


" Heem, udah istirahatin aja. "


Dengan lembut Bella mengusap dan memijat kepala Bram layaknya sepasang kekasih. Melihat Bram yang tak berdaya seperti ini membuat hati Bella teriris. Bagaimana pun Bella ingin daddy dari anaknya tetap sehat dan kuat untuk melindungi mereka. Dalam hati kecilnya tak sedikit pun Bella berbahagia kala Bram menderita.


Masih setia mengusap rambut di kepala Bram, perlahan Bella pun ikut terlelap. Suara adzan subuh berkumandang membuat Bella kembali terbangun, jika di pikir lagi kepalanya kini ikut pusing karena kurang istirahat dan sering terbangun malam. Belum lagi paha dan lehernya yang terasa kebas.

__ADS_1


" Bram .. Mau sholat dulu " Bella menggoncang tubuh Bram pelan.


" Udah subuh ? Kenapa kamu masih disini ? " Bram segera bangkit khawatir Bella kesakitan.


" Gak papa Bram, aku juga ketiduran gak ada niatan nungguin kamu bangun ko jangan ge'er dulu ya ? "


" Ck .. Kirain khawatir sama aku sampe di tungguin. "


" Siapa anda hey ? Mau solat gak ? Kalo enggak mending tidur lagi di kamar gih jangan kebanyakan ngoceh aku jadi ikutan pusing "


" Mau .. Aku mau sholat dulu, nanti aku tidur lagi bolehkan ? Jangan dulu di usir. "


" Yeyeye " Bella memutar bola mata nya malas lalu berlalu begitu saja menuju kamarnya begitu juga dengan Bram yang menuju ke kamar tamu.


Setelah selesai dengan rutinitas ibadahnya masing masing, Bram segera kembali merebahkan tubuhnya. Dia menyadari tubuhnya butuh banyak istirahat saat ini. Dan Bella pun melakukan hal yang sama.


Matahari pagi sudah menyinari seisi bumi dengan lebih terang dan menyilaukan, namun kedua insan itu masih saja terlelap padahal anak-anak sudah menunggu sarapan bersama.


" Aunty ayo bangunin daddy sama mommy " Ajak Queen.


" Gak mau, kita kan jarang kumpul gini aunty " Rengek Queen.


" Mau mommy .. " Tambah Zayn.


Rasanya baru pagi namun kepala Ayu sudah dibuat ingin pecah oleh tingkah kedua anak asuhnya. Tak ada jalan lain selain membangunkan kedua orangtuanya. Dengan sungkan Ayu pun mengetuk pintu kamar Bella terlebih dulu.


" Bu Bella, ini Zayn nangis mau ke Ibu. "


" Mommy .. Bukaaaa " Tangis anak itu semakin menjadi membuat Bella terperanjat dan segera membuka pintu kamar tangannya meraih tubuh Zayn yang ada di gendongan Ayu meski kesadarannya belum sepenuhnya pulih.


" Cupp .. Cupp anak mommy anak ganteng maaf ya mommy bangunnya kesiangan kesel ya nak ? " Bella mengelus punggung Zayn lembut, cara paling efektif menenangkan putranya ketika rewel.


" Queen kemana Yu ? "


" Ke kamar tamu bangunin bapak Bu, katanya pengen makan bareng soalnya jarang jarang Ibu sama Bapak ada disini. "

__ADS_1


" Yaudah biar Zayn sama saya Yu, saya mau cuci muka dulu. "


Bella membawa Zayn masuk ke kamarnya lalu mencuci muka. Setelahnya Bella pun keluar menuju dapur, di meja makan sudah duduk Bram dan Queen yang sampai lebih cepat dibanding Bella.


" Lama banget mau sarapan aja udah kaya mau ke undangan. " Celoteh Bram


" Aku cuci muka sambil gendong Zayn tau .. "


" Yeyeye .. " Bram menjawab dengan menirukan Bella.


" Ih masih pagi udah ngeselin. "


" Sstt jangan berisik, Queen butuh ketenangan buat sarapan ya mom dad ? Please don't make me angry " Queen melipat tangan di dadanya


" Maaf tuan putri, yaudah kita sarapan yu ? Tuan putri mau daddy suapin ? "


" No .. Queen udah gede Dad. Daddy suapin Zayn aja. "


" Buat daddy kamu itu tetep anak bayi daddy " Bram mencubit pipi Queen lembut.


Istilah cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya memang tepat di jatuhkan pada Bram dan Queen terlepas dari adanya pertalian darah atau tidak. Namun uniknya bisa di lihat bahwa Bram lebih perhatian pada anak gadisnya di banding pada putra kandungnya sendiri.


" Bram .. Kamu aneh " Ucap Bella begitu mereka selesai sarapan dan anak anak pun tengah bermain bersama Ayu.


" Apanya ? "


" Kayanya lebih sayang Queen ketimbang Zayn padahal Queen kan .. " Kalimat Bella terpotong di tahan jari Bram yang menyentuh bibirnya.


" Buat aku keduanya sama, tapi buat saat ini Queen memang aku prioritaskan karena secara psikis anak perempuan yang mendapat kan perhatian dari ayahnya kemungkinan besar tidak akan haus perhatian dari pria lain di luar sana saat dia beranjak remaja dan dewasa nanti. Kamu tau kenapa banyak gadis yang rentan mendapat pelecehan ? Karena mereka tak mendapatkan perhatian cukup dari ayahnya, mereka mencari pria yang layak dan ketika menemukannya mereka akan menyerahkan apapun. Paham ? " Jelas Bram.


" Tapi itu juga kan tergantung didikan dan lingkungan nya Bram. "


" Ya betul, tapi tak semua anak tumbuh di lingkungan yang baik. Kita juga tak bisa mengontrol seberapa besar pergaulan anak kita nanti. Jadi lebih baik menjaga sedini mungkin. "


" Bram .. Kamu gak lagi sakit parah kan ? Kamu baik baik aja kan ? Omongan kamu dari kemarin aneh banget kaya yang mau mati " Bella meletakkan telapak tangannya di kening Bram.

__ADS_1


" Apa kamu bakal sedih kalo aku beneran gak ada ? Atau malah sebaliknya ? " Bram membalikkan pertanyaan itu dengan ekspresi serius.


__ADS_2